Raya membalikkan badan, melangkah membelah angin malam yang mulai menusuk kulit.
Sesampainya di kosan, lorong sudah sepi. Raya berjalan pelan, namun langkahnya tertahan saat melihat Pak Halim masih duduk di kursi kayu panjangnya.
Lelaki tua itu hanya mengangguk pelan, menyapa tanpa kata, sementara sisa sebatang kreteknya hampir habis diapit jemarinya. Raya membalas dengan senyuman santun, lalu bergegas menuju kamarnya sendiri.
Pintu dibuka.
Klik.
Kamar itu masih sama seperti saat ia tinggalkan tadi pagi, sepi dan berantakan oleh sisa barang yang belum sempat ia rapikan ke gudang bawah.
Raya menghela napas panjang, lalu mulai bergerak memindahkan beberapa tumpukan kardus baju ke sudut dekat lemari biar agak lowong.
Saat ia berbalik hendak mengambil kardus berikutnya, gerakan Raya tertahan pada bagian belakang pintu kamar.
Di sana, pada salah satu gantungan baju, sebuah jaket jins kedodoran berwarna biru pudar tergantung pasrah.
Raya berjalan mendekat, menatap detail bordir huruf kapital R berukuran cukup besar yang tercetak di bagian dada sebelah kiri. Jaket itu dulu ia beli sendiri dengan maksud sebagai inisial namanya: Raya. Namun selama beberapa minggu sebelum cowok itu menghilang, kain jins inilah yang paling sering berpindah pundak.
"Ray, kamu tahu gak kenapa aku suka banget pake jaket ini?"
Suara Dika membelah riuh kepulan asap gorengan di bawah tenda warung pecel lele pinggir jalan malam itu.
Cowok itu duduk santai di atas bangku kayu panjang, sibuk mengelap ujung sendoknya dengan tisu sembari masih mengenakan jaket jins milik Raya yang sedikit ketat di bahunya yang tegap.
Raya yang duduk di hadapannya, dipisahkan oleh meja kayu panjang berlapis spanduk menu, hanya melirik sekilas tanpa minat. Ia sibuk menuangkan kecap ke piring nasi uduknya. "Ya karena kainnya anget. Kamu kan Dik, udah umur segini, kena angin malam dikit langsung masuk angin."
"Salah. Analisismu terlalu dangkal buat ukuran orang yang tiap hari mikirin konsep visual," sahut Dika santai, wajahnya datar tanpa dosa.
Ia menegakkan tubuh, mengetuk-ngetuk bordiran huruf R di dadanya menggunakan jari telunjuk. "Ini tuh masalah kepemilikan yang sah secara kosmologis, Ray."