Langkah kaki Raya sore itu terasa sedikit berbeda.
Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kotak makanan plastik transparan berisi kue kukis. Tadi sebelum jam pulang kantor, Asti setengah memaksa menyodorkan kotak itu ke mejanya.
"Bawa buat camilan nanti kamu di kontrakan," kata Asti dengan nada datarnya yang khas.
Setelah turun dari bus, Raya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri rute seperti biasanya. Udara sore mulai terasa dingin, berbaur dengan riuh rendah suara anak-anak dari arah lapangan kampung di sisi jalan. Mereka sedang asyik bermain sepak bola, berlarian mengejar bola di atas tanah kering.
Di antara keriuhan itu, seorang anak laki-laki berkaos oblong kusut mendadak berhenti berlari. Wajahnya yang penuh keringat langsung berubah cerah begitu melihat Raya. Anak itu melambaikan tangannya dengan semangat, lalu bergegas berlari menghampiri pembatas lapangan.
Raya menghentikan langkah, menyunggingkan senyum tipis. Ia menurunkan tas selempangnya, merogoh kantong bagian depan, lalu mengeluarkan sekepal permen aneka rasa.
"Gilang," panggil Raya lembut, menyodorkan permen-permen itu ke genggaman mungil si anak. "Nih. Tapi bagi-bagi sama temen yang lain, ya?"
Anak bernama Gilang itu mengangguk cepat dengan mata berbinar-binar. "Iya, Teh! Makasih, Teh Raya!" serunya riang, lalu langsung berbalik badan, berlari kencang kembali ke tengah lapangan sambil memamerkan permennya ke anak-anak lain.
Raya melanjutkan langkah kakinya yang lambat. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat siluet anak-anak yang masih asyik menendang bola dari kejauhan, sebelum akhirnya azan magrib mulai berkumandang dari pengeras suara masjid terdekat.