168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #11

Pengidap gatal-gatal

Raya tidak menjawab. Ia mendadak bungkam, menatap lurus ke arah jalan raya di depan mereka yang bising oleh lalu lalang kendaraan. Ia melirik sisa kopi di dalam kalengnya, lalu meremas pelan benda logam tersebut tanpa sadar.


Melihat Raya yang mendadak diam, Edo seolah tidak ambil pusing. Ia malah menoleh, menatap wajah Raya dengan lekat.


"Teh Raya udah seger?" tanyanya polos.

Raya hanya mengangguk pelan, masih enggan membuka suara lebih banyak.


"Nah, karena Teh Raya udah seger, aku mau nanya… Bisa ngerjain tugas ini gak?"


Edo menggeser duduknya mendekat, lalu menyodorkan layar ponselnya yang retak di bagian sudut tepat di depan mata Raya.


Layar itu menampilkan foto beberapa baris soal matematika tingkat SMA yang penuh dengan rumus fungsi dan grafik.


Raya mengerutkan kening, beralih menatap pemuda di sebelahnya. "Kamu... Emang masih sekolah?" ucap Raya dengan nada heran.


Edo langsung menggeleng cepat. "Keliatan se-imut itu ya? Kagak, Teh. Itu soal adikku Edi, dia minta aku yang ngerjain. Tapi karena aku bodoh, ya gak bisa ngerjain," ucapnya santai tanpa ada rasa risih sedikit pun di wajahnya.


Raya menahan senyum tipis, rasa sesak di dadanya agak teralihkan. "Bukankah tugas sekolah harusnya dikerjain sendiri?"


"Seharusnya sih gitu," Edo menghela napas panjang, wajahnya mendadak ditekuk kesal.


"Tapi si Edi ngancem mau laporin aku ke Ayah. Gara-garanya minggu kemarin aku ngambil duit dari saku baju Ayah karena lagi butuh banget. Padahal mah bakal aku ganti nanti kalau udah gajian. Si Edi emang licik banget," ucapnya sambil mengerutkan kening, mendengus dongkol.

Raya memperhatikan raut wajah Edo, lalu kembali melirik soal matematika di layar ponsel itu. Setelah diam sejenak, ia menghembuskan napas.


"Bisa sih... tapi gak bisa aku kerjain sekarang. Paling nanti malam di kontrakan. Kirim aja soalnya ke WA-ku, entar aku kerjain."


Mendengar itu, gantian Edo yang tersentak kaget. Matanya melebar. "Beneran, Teh?!"

Raya mengangguk pelan.


"Wah, wah... Teh Raya bukan cuma cantik rupanya, tapi baik banget!" seru Edo dengan mata berbinar-binar, langsung buru-buru mengetik di ponselnya untuk mencatat nomor Raya.


Namun, belum sempat Edo mengirimkan gambar soal tersebut, ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk, memotong kalimatnya.


Edo menggeser layar ponsel, lalu menempelkan benda itu ke telinga.


"Halo? Apaan? Mabar?" Edo menjawab telepon itu dengan suara lantang, mengabaikan fakta bahwa Raya duduk tepat di sebelahnya. "Kagak bisa gua sekarang. Lagi sibuk."


Sesaat, suara bising dari seberang telepon terdengar samar di telinga Raya.


Edo mendengarkan sebentar, lalu mendengus. "Gua lagi ada acara keluarga ini, di rumah paman gua. Gak enak kalau ditinggal main game. Udah ya, ntar malem aja."


Edo langsung memutuskan panggilan sepihak.


Namun, tepat setelah ponsel itu tersimpan, gerakan Edo berubah aneh. Jemari tangan kanannya mulai menggaruk leher dengan kasar, lalu berpindah menyusup ke balik jaket, menggaruk lengan kirinya berulang kali hingga kulitnya memerah. Wajahnya yang tadi santai kini meringis menahan ketidaknyamanan yang amat sangat.

Lihat selengkapnya