Suara bising mesin tik digital dari keyboard komputer di kubikel sebelah terdengar konstan, seperti tidak mengenal lelah. Bersahutan dengan dengung AC kantor yang terlalu dingin, udara di ruangan itu terasa kering dan lebih terasa mekanis.
Seolah semua hal di sana hanya tahu cara bekerja, bukan cara hidup.
Di depan Raya, layar monitor menampilkan aplikasi desain grafis yang masih terbuka. Sebuah infografis produk baru perusahaan sedang ia kerjakan—tugas sederhana yang biasanya bisa ia selesaikan bahkan tanpa perlu berpikir terlalu lama. Hanya soal komposisi warna ceria, sedikit penyesuaian kontras, lalu selesai.
Tapi hari ini, warna itu tidak terasa seperti warna.
Jemarinya membeku di atas mouse. Tidak bergerak. Tidak memilih. Tidak memutuskan apa pun.
“Raya? Desain feeds Instagram-nya udah kelar belum?”
Suara itu memecah ruang yang tadi terasa jauh lebih sunyi daripada seharusnya. Raya tersentak.
Tangannya sedikit bergerak, seolah baru saja kembali dihubungkan ke tubuhnya sendiri. Ia mengedipkan mata beberapa kali. Layar monitor kembali terlihat, warna-warna kembali menjadi sekadar data digital.
Di samping kubikelnya, Asti berdiri dengan beberapa lembar dokumen di tangan.
“Belum, As…” jawab Raya cepat, sedikit terlalu cepat. “Dikit lagi. Tinggal nyesuaiin warna.”
Asti mengangguk pelan. Tidak mendesak dan tidak bertanya lebih jauh.