Begitu melangkah masuk ke ruangan Pak Gunawan, hawa dingin AC seolah langsung menusuk kulit Raya. Bosnya itu sudah duduk di balik meja besar dengan tumpukan berkas dan dahi yang berkerut dalam.
Selama hampir lima belas menit, Raya harus berdiri mendengarkan rentetan evaluasi dengan nada suara Pak Gunawan yang meninggi. Raya hanya bisa menunduk, menggigit bibir bagian dalam sambil sesekali mengangguk kaku.
"Baik, Pak. Saya perbaiki sore ini," ucapnya pelan.
Ketika pintu ruangan Pak Gunawan tertutup di belakangnya, Raya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia berjalan kembali ke mejanya dengan muka kusut masai, matanya terasa agak panas karena menahan dongkol dan lelah yang campur aduk.
Asti sempat berbisik pelan dari sekat kubikel, "Ray, aman?"
Raya hanya tersenyum kecut dan mengangguk pelan.
Dengan profesionalisme yang dipaksakan, jemarinya kembali bergerak lincah di atas papan ketik. Ia tetap fokus bekerja, merevisi ulang seluruh data yang dipermasalahkan tadi, kejar-kejaran dengan waktu sebelum jam pulang kantor tiba.