Sebuah foto masuk.
Foto itu menampilkan satu kaleng kopi instan manis, persis seperti yang Edo berikan kemarin… tergeletak di atas meja besi minimarket.
Namun kali ini ada yang berbeda— di badan kalengnya, terdapat coretan spidol hitam berantakan bertuliskan: Khusus buat teh raya.
Raya refleks menaikkan alis. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Tanpa sadar, langkah kakinya bergerak lebih bergegas menuju ke arah minimarket tersebut.
Namun begitu sampai di area parkiran, Raya menyapukan pandangan dan mengernyit bingung.
Area teras minimarket itu sepi. Tidak ada batang hidung cowok berisik itu di sekitar sana.
Satu-satunya hal yang membuktikan keberadaan Edo hanyalah kaleng kopi dingin yang persis sama dengan di foto, berdiri kesepian di atas meja besi. Raya menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan tingkah absurd cowok itu.
Langit meredup menjadi warna ungu kehitaman. Lampu-lampu neon minimarket mendadak terasa lebih terang benderang, sementara jalanan di depan mulai dipadati sorot lampu kendaraan.
Raya melirik jam di layar ponsel, lalu beralih menatap kaleng kopi yang masih berembun. Daripada langsung pulang, ia memutuskan untuk melangkah ke arah samping bangunan minimarket, menyusuri gang kecil menuju mushala berukuran tiga kali empat meter yang terletak di sana.
Setelah keluar dari mushala, Raya berjalan kembali ke area teras minimarket. Namun, langkah kakinya mendadak melambat begitu matanya menangkap siluet seseorang di meja besi yang tadi sepi.
Edo sudah ada di sana.
Cowok itu duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas paha, sedang sibuk memakan batagor langsung dari plastik transparannya. Mulutnya mengunyah penuh semangat, sementara bumbu kacang tampak sedikit belepotan di sudut bibir.
Di atas meja besi, tepat di depan posisi duduk Edo, kaleng kopi dingin dengan coretan spidol hitam bertuliskan “Khusus buat teh raya” itu masih berdiri tegak di posisi yang sama—belum bergeser sepeser pun.
"Maaf telat, Teh! Tadi beli batagor dulu ke belakang," ucap Edo sambil menyodorkan salah satu bungkusan plastik.