168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #17

Orang-Orang yang Memilih Pergi

Edo kembali memosisikan duduknya.

Bahunya merosot, tidak ada lagi sisa-sisa banyolan atau rasa bangga seperti saat ia memamerkan teori batagor plastik tadi. Ia menatap lurus ke permukaan meja besi yang mulai berembun.


"Fenny itu sebenernya orang yang baik banget, Teh. Pengertian juga. Dia tuh selalu—"


"Kalau dia memang orang baik dan pengertian," potong Raya cepat, sambil melipat tangan di dada dan menatap Edo lurus-lurus, "kenapa kamu putusin dia secara sepihak kayak gitu, Do? Sampai bawa-bawa aku segala lagi."


Edo yang kalimatnya terputus di tengah jalan langsung melongo. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap Raya dengan pandangan sebal yang tertahan.


"Ah, kebiasaan deh memotong omongan," gerutu Edo sambil mengacak rambutnya frustasi. "Tuh, kan! Mau ngomong apa tadi aku jadi lupa! Padahal udah disusun rapi di kepala, eh, malah buyar semua."


Raya refleks menaikkan sebelah alis, hampir saja tergoda untuk tertawa melihat muka kusut Edo. "Ya lagian kamu bikin bingung. Udah, inget-inget lagi. Kenapa diputusin?"


Edo mendengus, mengembuskan napas berat. Tangannya bergerak refleks, mulai menggaruk leher dan lengan jaketnya dengan gelisah.


"Ya itu... karena aku ngerasa... aku gak siap dengan keadaanku yang sekarang ini, Teh," lanjut Edo setelah berhasil mengumpulkan kembali isi kepalanya. Suaranya melembut. "Aku belum siap… Mungkin, aku bisa gak peduli sama diri sendiri. Tapi, kalau hal itu sampai dialami oleh Fenny, lebih-lebih aku yang jadi penyebabnya... aku belum siap untuk itu, Teh."

Lihat selengkapnya