168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #18

Kopi Kaleng Instant

Raya memutar kunci, mendorong pintu kayu kontrakannya yang langsung disambut oleh kesunyian yang akrab.


Tas kerja dan kopi kaleng sisa diletakkan begitu saja di atas meja tanpa berniat merapikan posisinya. Ia melangkah lurus menuju dapur mini di sudut ruangan, bergerak mekanis seperti robot yang sudah diprogram.


Tangannya meraih panci kecil, mengisinya dengan air keran yang mengucur deras. Raya sempat terpaku menatap pusaran air di dalam panci yang mulai penuh, membiarkannya meluap melewati bibir panci selama beberapa detik sebelum kesadarannya kembali untuk memutar tuas keran hingga mati.


Ctek.


Api kompor menyala, menjilat bagian bawah panci.


Sementara menunggu air mendidih, Raya merobek bungkus mi instan. Jemarinya bergerak lambat, menuangkan serbuk bumbu dan minyak ke atas piring. Namun, matanya tidak benar-benar melihat ke piring. Tatapannya lurus menembus dinding semen di depannya, kosong dan menerawang jauh.


Bruk.


Raya sedikit tersentak saat menyadari tangannya baru saja menjatuhkan garpu ke lantai karena genggamannya yang melonggar. Ia mendesah pelan, memungut garpu itu, lalu memasukkan sebongkah mi kering ke dalam air yang mulai bergejolak. Ia membiarkan mi itu melunak tanpa berniat mengaduknya, hanya memandangi uap panas yang membubung dan menerpa wajahnya yang lelah.


Beberapa menit kemudian, mi itu sudah berpindah ke atas meja kecil di samping tempat tidur.


Raya duduk bersila di lantai, memegang garpu dengan lemas. Ia menggulung beberapa helai mi, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kunyahannya berjalan lambat dan monoton. Rasa gurih dari kuah mi instan yang biasanya terasa nikmat, malam ini seolah menguap begitu saja di lidahnya—hambar, tak berasa.


Raya berhenti mengunyah, membiarkan gulungan mi berikutnya menggantung di ujung garpu. Di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara detak jam, ia menarik napas panjang melalui hidung, lalu menghembuskannya lewat mulut dengan berat.


"Haaah..."

Lihat selengkapnya