168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #20

Susan dan Pandu

"Wah, tumben banget Raya! Biasanya ngumpet terus di kubikel sampai jam pulang!" celetuk Susan dengan suara melengking khasnya, langsung menyambut kedatangan Raya.


Wajah Susan tampak sumringah penuh kemenangan karena akhirnya bisa melihat Raya ikut nimbrung.


Asti langsung menyahut cepat, "Kan aku udah bilang, hari ini hari spesial!" Ia menarik kursi kosong di sebelahnya, lalu menepuk-nepuk bantalan kursi itu. "Sini, Ray, duduk."


Dari ujung meja, Lisa mendengus geli sambil menusuk sepotong mangga muda dengan lidi. "Halah, bagi Asti mah setiap hari juga hari spesial. Kalimat itu diucapin tiap hari tahu, Ray," celetuknya yang langsung disambut tawa kompak dan anggukan setuju dari anak-anak yang lain.


Asti tidak memperdulikan ledekan Lisa. Ia justru menyodorkan sebatang lidi baru ke tangan Raya. "Udah, gak usah dengerin Lisa. Nih, Ray, kamu yang coba pertama kali karena hari ini hari pertama kamu gabung sekte rujak. Rasain dulu kenikmatan sambalnya."


Di bawah tatapan mata teman-temannya yang menunggu, Raya menerima lidi tersebut. Ia menusuk sepotong nanas, mencocolnya agak dalam ke bumbu kacang yang kental dengan ulekan cabai yang masih kasar, lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Rasa asam, manis, dan pedas yang menggigit langsung menyebar di lidahnya. Raya mengangguk-angguk cepat, menyunggingkan senyum lebar yang spontan.


Melihat respon itu, meja belakang langsung riuh oleh sorakan kecil. Asti memang tidak pernah salah kalau sudah merekomendasikan urusan rasa—sama seperti dia yang tidak pernah salah dalam memimpin keramaian gosip receh di kantor yang mulai mengalir sore itu.


Di tengah keriuhan itu, tiba-tiba Pandu muncul dari balik pintu ruangan sebelah. Dengan langkah tanpa beban, cowok itu langsung berjalan mendekati meja panjang, mengabaikan atmosfer yang mendadak berubah.


"Wah, kayaknya enak nih! Bagi dong," ucap Pandu santai, langsung nyerobot ikut nimbrung ke dalam lingkaran sekte rujak.


Lihat selengkapnya