Deretan rak tinggi yang dipenuhi karung-karung dan kaleng makanan hewan instan menyambut Raya begitu ia melangkah masuk ke dalam petshop. Aroma khas pakan kering dan wangi sampo kucing langsung memenuhi indra penciumannya.
Raya berjalan menyusuri lorong toko dengan mata membelalak, membaca deretan angka yang tertera di label harga.
"Gila, As... ternyata makanan kucing mahal-mahal banget, ya," bisik Raya, menoleh ke arah Asti yang sedang asyik memilih pasir kucing di lorong sebelah. "Lebih mahal daripada paket ayam geprek langganan kosan aku."
Asti terkekeh tanpa mengalihkan pandangannya dari karung pasir. "Makanya, Ray. Biaya perawatan mereka bertiga itu udah kayak bayar kontrakan satu pintu sendiri tahu."
Raya tersenyum, lalu jarinya bergerak menelusuri deretan kaleng makanan basah premium yang berjejer rapi. "Karena kemarin aku udah dikasih kue enak, kali ini biar aku yang traktir makan malam buat mereka bertiga. Anggap aja uang sewa karena udah numpang meluk Luvi."
"Wah, seriusan nih? Pucuk dicinta ulam tiba kalau kata Luvi mah," sahut Asti, ikut mendekat ke rak makanan basah.
Raya mulai memilah-milah. Matanya tertuju pada sebuah kaleng dengan kemasan paling elegan berkilau emas, menunjukkan kelas premiumnya. Harganya cukup menguras dompet, tapi Raya tetap mengambilnya dengan penuh keyakinan. Ia membalik kaleng itu, membaca labelnya, lalu menunjukkannya ke Asti. "Nih, rasa tuna premium. Pasti mereka suka, kan?"
Asti langsung menggeleng cepat sambil meringis. "Aduh, Ray, mendingan jangan yang itu. Luvi sama Tom itu pemilih banget. Mereka berdua anti sama ikan, lebih suka rasa ayam. Kalau dikasih tuna, yang ada cuma diendus terus ditinggal pergi."
Kata-kata Asti barusan seolah membawanya ke masa lalu.
Suasana kantin sekolah sedang bising-bisingnya oleh sapaan dan gelak tawa murid-murid yang mengantre makanan. Di salah satu meja panjang, Raya duduk berhadapan dengan Dika.
"Kamu mau makan apa? Hari ini aku yang bayarin," ucap Raya tiba-tiba sambil menatap Dika.