168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #22

Batagor Mang Jaka

Malam yang mulai merayap gelap itu mendadak terasa jauh lebih benderang. Di tengah perjalanan pulang dari petshop, langkah kaki Raya dan Asti mendadak terkunci oleh sebuah pemandangan yang mencolok di pinggir jalan.


Sesosok pria sedang sibuk memarkirkan sepeda motor yang menggendong gerobak di sampingnya.


Bukan gerobak biasa. Di sekeliling atapnya, melingkar lampu kabel LED variasi motor yang menyala kelap-kelip dengan kombinasi warna yang heboh, norak, sekaligus bikin silau mata. Persis di kaca depan gerobak, sebuah tulisan dari stiker scotlite memantulkan cahaya: BATAGOR MANG JAKA.


Raya seketika terkekeh geli. Ingatannya langsung melompat pada obrolan absurd kemarin malam. Tanpa aba-aba, ia langsung menyenggol lengan sahabatnya, berniat menyeberangi jalan menuju gerobak penuh lampu kolong tersebut.


Asti yang kaget setengah mati langsung menahan lengan Raya. "Eh, mau ke mana kamu, Raya?!"


"Ikut aja sini dulu, Ti," bisik Raya misterius sambil setengah menyeret Asti membelah jalanan.


Begitu jarak mereka makin dekat, langkah Raya perlahan melambat. Ia agak bergidik. Di balik remang lampu LED, terlihat sosok sang penjual yang sedang berdiri tegak.


Wajahnya garang bukan main. Kepalanya dibalut iket khas Sunda, kumisnya tebal melintang hitam, ditambah tatapan matanya yang tajam setajam elang. Raya mendadak menghentikan langkah sejenak. Nyalinya agak ciut saat memori di otaknya memutar kembali ucapan Edo semalam: Mang Jaka itu mantan dukun sakti yang pensiun.


Seketika, Raya menjadi sangat berhati-hati dalam menjaga ucapannya. Takut salah ngomong, bisa berabe urusannya.


Sambil menata debar di dada, Raya memberanikan diri mendekat dan bertanya dengan nada sehalus mungkin, "Mang Jaka... yang suka jualan di belakang minimarket ya?"


Mendengar suara itu, sang penjual batagor tidak langsung menjawab. Ia perlahan memalingkan wajah garangnya, lalu memandangi Raya dengan tatapan mata yang tajam dan menyelidik selama beberapa detik.


Suasana mendadak hening. Raya refleks menarik napas panjang saking tegangnya. Asti di sebelahnya pun ikut-ikutan menahan napas, merasa terintimidasi oleh atmosfer mistis sang mantan dukun.


Namun, detik berikutnya, keheningan itu pecah berantakan.

Lihat selengkapnya