"Pernah tuh, pacarnya si Neng Fenny, ketawa-ketawa cerita sama Mamang," lanjut Mang Jaka, makin bersemangat membongkar aib pelanggannya itu.
"Si Edo bawa batagor Mamang ke coffee shop, terus di sana malah dicampur pake nasi bawa dari rumah! Orang lain mah ke coffee shop buat ngobrol, nulis, atau dengerin lagu... eh, dia mah malah mukbang batagor campur nasi, ditambah minumnya kopi Americano di sana!"
Mang Jaka menggelengkan kepalanya dramatis. "Si Neng Fenny sampai malu katanya, mukanya ditaruh di mana coba? Sampai-sampai si Neng Fenny nyuruh Mamang buat mandiin si Edo pake kembang tujuh rupa, biar waras katanya!"
Mendengar itu, tawa Raya dan Asti benar-benar meledak hebat di bawah kolong langit malam. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai air mata keluar, benar-benar tidak kuat menghadapi fakta bahwa keabsurdan Edo ternyata sudah menyentuh lingkungan coffe shop.
Sambil tangannya sibuk menuangkan bumbu kacang yang kental di atas batagor, Mang Jaka kembali teringat sesuatu.
"Tadi sore juga dia mampir ke sini, beli dua bungkus katanya..." ucap Mang Jaka, nadanya mendadak merendah. "Tapi ya gitu... ngutang lagi! Katanya buat acara selametan ulang tahun temennya."
Mang Jaka mengikat ujung plastik batagor dengan karet gelang, lalu mendengus. "Beres dapet batagor, langsung pergi aja dia mah, Neng. Udah mirip makhluk gaib... datang tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba!"
Pria berwajah garang itu kemudian membungkukkan badannya sedikit, menyerahkan kedua kantong plastik batagor pesanan Raya.
"Berapa semuanya, Mang?" tanya Raya sambil membuka dompetnya.
"Dua puluh," jawab Mang Jaka pendek.
Raya menyodorkan selembar uang pas. Saat menerima uang tersebut, Mang Jaka memberikan satu petuah terakhir dengan wajah yang mendadak serius kembali.
"Pokoknya, jangan sampai kebawa-bawa aja sama si eta mah ya, Neng... suka aneh orangnya mah," ucap Mang Jaka mengingatkan dengan tulus.
"Siap, Mang!" jawab Raya dengan senyum lebar yang tak bisa hilang.