168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #24

Bahasa yang Tertinggal

Raya keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat canggung, memegangi ujung pakaian yang melekat di tubuhnya. Langkahnya tertatih menuju meja rias di sudut kamar. Begitu berdiri di depan cermin, Raya memandang pantulan dirinya di kaca rias Asti, lalu memprotes sambil memejamkan mata.


"Tuh, kan... selera kamu, Asti..." ucap Raya sambil menepuk kepalanya sendiri.


Dari arah kasur, Asti yang sedang rebahan sambil mengelus Tom langsung menoleh. "Kenapa, Ray?" tanyanya terkekeh. "Bagus itu padahal..."


"Kependekan, Asti, celananya..." gerutu Raya.

Raya memutar tubuhnya di depan cermin, memandangi pantulan dirinya dengan raut wajah yang merengut habis. Celana pendek tidur milik Asti itu benar-benar berada jauh di atas lutut, membuat Raya merasa paha dan kakinya terekspos terlalu bebas.


"Dih, dih... padahal aman, Raya, di sini gak ada siapapun yang lihat," sahut Asti, membela pilihan baju tidurnya dengan nada santai.


"Tetep aja risih pakenya, As... gak biasa," keluh Raya. Ia mencoba menarik-narik ujung celana pendek itu ke bawah, walaupun usahanya sia-sia karena kainnya memang segitu adanya.


Asti tertawa melihat sahabatnya yang terus-terusan salah tingkah sendiri di depan cermin.


"Tenang, tenang..." ucapnya mencoba menenangkan. Asti bangkit berdiri dari kasur untuk mengambilkan sesuatu dari dalam lemari kainnya agar Raya tidak terus-terusan cemberut, sebelum kemudian ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Ditinggal Asti, Raya kini sendirian di ruang tengah, duduk di atas karung pasir dengan setelan baju tidur yang masih terasa canggung di tubuhnya. Kini, giliran Raya yang kebagian menemani kucing-kucing peliharaan sahabatnya itu.


Luvi dan Tom tampak tenang, namun pandangan Raya menyapu sekeliling ruangan, menyadari ada satu yang kurang. Sambil memandangi kandang yang terbuka, Raya setengah berteriak berbicara kepada Asti di dalam kamar mandi.


"As! Kucing kamu yang satu lagi ke mana? Si Luna kok gak kelihatan dari tadi?" tanya Raya setengah meninggikan suara agar bisa menembus dinding pembatas.


Dari balik pintu kamar mandi, terdengar sahutan Asti yang samar-samar di antara deru air. "Keluar nongkrong, Ray!"

Lihat selengkapnya