Seperti biasa, sore harinya Raya berjalan kaki menyusuri jalanan kompleks setelah turun dari bus sepulang kerja. Langkahnya terasa sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.
Begitu mendekati area lapangan yang biasa ia lewati, pandangan Raya otomatis tertuju pada sosok Gilang.
Benar saja, anak laki-laki itu langsung melambaikan tangannya dengan heboh begitu menyadari kedatangan Raya. Ia lalu berlari kecil mendekat sambil menggiring bola plastik.
Melihat Gilang mendekat, Raya refleks merogoh kantong tasnya, bersiap-siap mengeluarkan sebutir permen yang biasa ia berikan.
Namun, belum sempat permen itu berpindah tangan, Gilang tiba-tiba berhenti di depan Raya. Dengan dagu terangkat dan wajah yang dibuat sok sombong, ia mengibaskan tangan kanannya di udara—menolak permen tersebut.
Raya menaikkan alisnya, merasa aneh dengan perubahan sikap bocah di depannya. "Lho, tumben? Gak mau permen?"