Raya melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan. Ia menyusuri jalanan gang sempit yang sudah sangat akrab di matanya setiap kali pulang kerja.
Ia berjalan melewati teras minimarket, sebelum akhirnya membelokkan tubuh masuk ke area gang menuju halaman kontrakan sederhananya.
Begitu kakinya melintasi pintu gerbang besi yang berkarat, pandangan Raya langsung tertuju pada sudut halaman dekat keran air. Di sana, Pak Halim sedang berjongkok. Pria tua itu tampak memegang sebuah sikat plastik, menggosok permukaan sepasang sandal karet wanita dengan sangat telaten di bawah kucuran air.
Suara gesekan sikat mendadak berhenti saat Pak Halim menoleh. Pria itu tampak sedikit tersentak, terkejut mendapati kehadiran Raya yang sudah berdiri di dekatnya.
"Eh, udah pulang, Neng?" sapa Pak Halim, buru-buru menyeka dahinya yang basah dengan punggung tangan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.