Malamnya, kegelapan kamar kecil itu kembali membawa pikiran Raya melayang.
Ia berbaring miring di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram. Di tengah keheningan malam, ingatan tentang senyum lebar Gilang sore tadi kembali berputar.
Cara bocah itu menuntut janji dengan mengacungkan jari kelingking kecilnya yang dekil terasa begitu polos, namun entah kenapa, hal itu mendadak memicu rasa sesak yang halus di dada Raya.
Sesuai yang tanpa sadar melemparkan paksa ingatan Raya mundur ke empat tahun lalu.
Malam itu, ponsel Raya bergetar di atas meja belajarnya. Sebuah nama tertera di layar: Dika.
Begitu tombol hijau digeser, suara khas cowok itu langsung memenuhi pendengaran Raya. "Ray, besok datang ke rumah ya. Pokoknya harus datang, ada perlu penting nih," ucap Dika di seberang telepon.
Waktu itu, Raya yang sedang sibuk menatap layar laptop, memeriksa tumpukan berkas kerjaan yang baru masuk, hanya menyanggupinya dengan gumaman ringan. "Iya, iya, ntar kalau gak sibuk aku ke sana."
Namun, setelah sambungan telepon terputus, janji itu menguap begitu saja dari kepala Raya. Urusan deadline kantor dan tekanan dari atasan menyita seluruh fokusnya, membuat janji ke rumah Dika terlupakan sepenuhnya.
Baru lima hari setelahnya, saat hari Minggu tiba, Raya mendadak teringat dengan janjinya. Hari itu juga ia berniat ke rumah Dika.
Begitu melangkah masuk ke gang rumah Dika, Raya langsung menangkap siluet laki-laki itu di halaman depan. Dika sedang asyik jongkok memegang selang air dan busa sabun, sibuk mencuci motor matik-nya yang sebenarnya sudah tidak terlalu kotor.
Raya berjalan mendekat, lalu menyapa dengan nada meledek seperti biasanya. "Cie, cuci terus sampai kinclong! Sampai lalat kepeleset baru berhenti, ya?"
Dika tersentak pelan, lalu menengok. Begitu melihat Raya yang berdiri sambil berkacak pinggang, cowok itu langsung memasang raut muka paling konyol yang bisa ia buat. "Halah, bisa komentar aja kamu! Sini bantuin, jangan cuma nonton!"
Raya langsung mencibir, mundur satu langkah menghindari cipratan air. "Gak mau, ah! Ntar tangan aku kotor. Masa cewek udah dandan rapi gini disuruh ikut bersihin motor buluk kamu."
Dika mendengus geli, namun sedetik kemudian ia mendongak ke arah pintu rumahnya yang terbuka. Dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, ia bereriak, "Mah! Buronan kita nih udah datang!"
Belum sempat Raya memprotes panggilan 'buronan' itu, sosok wanita paruh baya dengan daster rumahan dan rambut yang diikat asal langsung muncul dari balik pintu. Wajah lelah Ibu Dika seketika berubah sumringah begitu matanya menangkap sosok Raya.
"Eh, Neng Raya!" seru ibunya, melangkah cepat menghampiri dengan kedua tangan yang masih sedikit basah karena habis mencuci piring. "Masuk ke sini, Neng. Ya ampun, lama banget udah gak main ke sini?"
Raya tersenyum ramah, menyalami tangan Ibu Dika dengan takzim. "Iya, Mah. Maaf ya baru sempet ke sini. Lagi agak sibuk-sibuknya karena baru masuk kerja, soalnya."
"Oalah, pantesan," Ibu Dika mengangguk-angguk maklum. Ia menepuk pelan bahu Raya, lalu menunjuk ke arah dalam rumah dengan dagunya. "Ya udah, masuk ke dalem dulu, Neng. Sekalian tuh, ajak si laki-laki pemalas itu main ke luar."
Ibu Dika melirik sinis ke arah Dika yang pura-pura sibuk menyemprot ban motornya.
"Heran Mama mah, udah sebulan ini kerjaannya cuma kerja, pulang, terus ngelamun. Kerja, ngelamun... gitu aja terus tiap hari sampai Mama pusing lihatnya," gerutu ibunya ceplas-ceplos.
Kalimat itu membuat gerakan tangan Dika yang sedang memegang selang air mendadak bergerak lebih lambat dari sebelumnya.
Raya duduk di sofa kain ruang tamu, membolak-balik halaman buku bersampul lusuh yang tergeletak di atas meja. Tak lama, Dika muncul dari arah dapur sambil mengeringkan tangan pada ujung celananya.
"Tunggu di sana ya, Ray. Jangan ke mana-mana," ucap Dika sambil menunjuk Raya, lalu buru-buru berbalik badan lagi.
Raya menutup bukunya. "Apaan sih, Dik?"
Raya mengetuk-ngetukkan jari di atas meja, menatap tirai pembatas ruang tengah yang bergoyang pelan. Lima menit berlalu sampai langkah kaki Dika kembali terdengar.