Motor mulai bergerak membelah jalanan. Di tengah deru angin, si abang ojol sedikit menengok ke belakang lewat kaca spionnya.
"Kayak yang buru-buru kali kutengok kau, Mbak? Macam ngejar kereta api aja," tanyanya dengan suara bariton yang tegas.
"Iya, Mas. Soalnya nanti sore mau nyaksiin adik main bola, takutnya terlambat," ucap Raya sedikit agak keras agar suaranya tidak tenggelam oleh bisingnya mesin.
"Bah, begitulah pula..." Abang ojol manggut-manggut di balik kaca helmnya. "Mudah-mudahan aja gak terkunci kita ya, Mbak. Soalnya kalau hari Sabtu tenggen gini, pala kali macetnya ke arah sana. Bisa tumpur kita di jalan.”
Dan benar saja. Prediksi itu terbukti beberapa menit kemudian.
Jalanan di depan mereka mendadak berubah menjadi neraka jahanam bagi siapa saja yang sedang dikejar waktu. Kemacetan mengunci aspal dengan sangat brutal, menciptakan lautan merah tak berujung dari lampu rem kendaraan yang menyala serentak.
Asap knalpot kelabu mengepul pekat, berputar-putar di udara bersama hawa panas yang memanggang kulit. Klakson bersahut-sahutan tiada henti, memekakkan telinga dan mengikis kesabaran. Kendaraan benar-benar terkunci, tidak bergerak sama sekali bahkan untuk bergeser satu sentimeter pun.
Raya melirik jam di pergelangan tangannya dengan perasaan campur aduk. Detik jam terus bergulir kejam, sementara mereka masih tertahan di tempat yang sama. Rasa kesal, cemas, dan jengkel mulai menumpuk di dadanya, membuat napasnya terasa sesak di balik masker.