Seberang telepon sempat hening sejenak sebelum Pak Gunawan menghela napas panjang.
"Oh, belum pulang, ya? Aduh, sore ini Pak Bhaskoro memang ada janji temu dengan klien lain dulu semenjak siang."
"Kira-kira... apa dokumennya bisa saya titipkan ke satpam atau ART-nya saja, Pak? Soalnya jam empat nanti saya—"
"Jangan, Raya," potong Pak Gunawan cepat, nadanya mendadak serius. "Jangan dititipkan ke siapa pun. Dokumen itu sifatnya sangat rahasia dan sensitif untuk proyek hari Senin. Harus kamu sendiri yang menyerahkannya langsung ke tangan Pak Bhaskoro. Tolong ya, Raya... tunggu sebentar lagi saja di sana sampai beliau pulang.”
Sambungan telepon terputus.
Raya menurunkan ponselnya dari telinga, lalu terduduk kembali dengan lesu di kursi rotan. Bahunya merosot dalam.
Untuk menutupi rasa tidak nyaman di teras rumah megah yang asing itu, ia berkali-kali membuka ponselnya tanpa arah. Jemarinya bergerak gelisah, membuka aplikasi web novel yang biasa ia baca untuk membunuh waktu.
Matanya mencoba memindai baris-baris kalimat di layar, berusaha menyibukkan diri agar pikirannya teralih. Tapi usaha itu sia-sia. Baris kalimat dalam cerita novel itu menguap begitu saja dari kepalanya tanpa bisa dicerna. Fokus Raya sudah berantakan.