Atmosfer pertandingan sepak bola anak-anak sudah semakin memanas. Setelah pelatih selesai memberikan instruksi terakhir dan mereka melakukan tos bersama, Gilang berjalan lambat menuju area tengah lapangan dengan perasaan berkecamuk.
Ia sempat memperhatikan teman-teman satu timnya yang tampak ceria dan bersemangat. Sebagian besar dari mereka melambaikan tangan ke pinggir lapangan, disemangati langsung oleh orang tua masing-masing yang bersorak heboh membawa botol minum dan handuk kecil.
Gilang menarik napas dalam-dalam. Di bawah sorotan hangat cahaya matahari sore, matanya kembali mengedar ke arah kerumunan penonton, menyisir setiap barisan wajah asing di sana, mencari satu sosok yang sangat ia harapkan kehadirannya.
Namun, di antara riuhnya sorak-sorai sore itu, gerbang masuk lapangan yang berpagar kawat tetap kosong. Sosok Raya belum juga kelihatan.
Prrrriiiitttt!
Suara peluit panjang wasit melengking nyaring membelah lapangan, menandakan pertandingan babak pertama resmi dimulai.