Di tempat lain, Raya akhirnya terlihat sedang berpamitan kepada Pak Bhaskoro di teras rumah mewah itu.
Ia mencoba sekuat tenaga menahan kepanikan, memaksakan seulas senyum ramah sambil bersalaman sopan sebelum melangkah keluar dengan ritme sesantai mungkin agar tetap terlihat profesional.
Namun, begitu punggungnya tidak terlihat lagi dari teras, topeng formalitas itu langsung lepas seketika.
Raya setengah berlari menuju gerbang depan dengan langkah tergesa. Jemarinya dengan panik langsung membuka aplikasi ojek online di ponsel, memesan driver baru dengan harapan mukjizat kecil bisa membawanya ke lapangan tepat waktu.
Tak lama setelah pesanan diterima, sebuah motor tampak berbelok dan menepi tepat di depan gerbang perumahan.
Raya melangkah mendekat dengan cepat, namun matanya mendadak terpaku pada bagian bawah motor. Ia merasa sangat familiar dengan sepasang sepatu Air Jordan Dark Mocha yang dikenakan si driver.
Begitu motor berhenti sempurna dan si driver membuka kaca helmnya... Raya langsung terbelalak kaget.
"Mas yang tadi? Mas Ultraman?!" seru Raya tak percaya, mulutnya sedikit menganga.
Dengan tingkat kepercayaan diri maksimal, si abang ojol mengangguk lebar, membuat rambut mohak-nya yang sempat kegencet helm kembali mencuat.
"Bah! Macet parah di depan, Mbak! Dari tadi aku gak bisa ke mana-mana, kejebak di sekitaran sini aja muter-muter. Eh, kebetulan kali si Mbak malah pesen lagi!" kekehnya santai.
"Yaudah, ayok berangkat, Mas! Cepet!" Raya langsung bergegas naik tanpa membuang waktu.
"Siap! Masih dalam misi menonton sepak bola adik ya, Mbak?" tanya si abang sambil memutar kunci kontak.
"Iya, Mas! Tolong banget, ya," ucap Raya cemas.
"Kalau tidak salah, itu lapangan yang di ujung perkampungan itu ya, Mbak? Yang deket kantor desa?"
"Iya, bener yang itu!"
Si abang ojol langsung menarik kaca helmnya turun dengan gaya mantap, kayak pahlawan yang mau menyelamatkan dunia.
"Yaudah, aku tahu jalan pintasnya lewat gang-gang kecil. Mbak duduk tenang aja di belakang, pegangan ya!"
Dengan sigap, abang ojol ini langsung memutar setang motornya menjauhi jalur utama yang terkunci. "Mbak, mungkin perjalanannya agak sedikit gak nyaman, tapi ini rute tercepat!" serunya dari balik helm.
Motor matik-nya langsung melesat masuk ke dalam gang perkampungan yang jalannya begitu sempit, bahkan nyaris pas-pasan jika berpapasan dengan motor lain. Belokan demi belokan patah ia lewati dengan lihai. Si abang ojol terlihat sudah sangat hafal luar kepala dengan rute tikus tersebut.
Namun, saking fokusnya ia bermanuver mepet tembok di tikungan tajam.