Di pinggir lapangan, sang pelatih masih terus mencecar Gilang dan teman-teman satu timnya.
Gerakan tangan pelatih itu tampak menggebu-gebu di udara, mengayun-ayun dengan penuh emosi demi memancing kembali gairah dan semangat anak asuhnya yang sempat kendor.
Namun, Gilang hanya bisa tertunduk lesu. Ia diam seribu bahasa, menerima setiap bentakan itu sebagai beban yang makin memperberat pundak kecilnya.
Prrrriiitttt!
Peluit panjang kembali ditiup oleh wasit. Babak kedua resmi dilanjutkan.
Gilang berjalan lambat menuju posisinya di garis tengah lapangan. Sebelum peluit sepak mula dibunyikan, entah karena sisa harapan yang keras kepala atau sekadar kebiasaan yang menyakitkan, ia kembali menyapu pandangannya ke sekeliling pembatas lapangan untuk kesekian kalinya.
Tepat saat matanya bergerak melewati pagar kawat di dekat gerbang masuk, gerakan kepalanya mendadak terkunci.
Dunia di sekitar Gilang seolah melambat drastis.
Riuh sorak-sorai penonton yang membakar pinggir lapangan mendadak meredup, menyisakan keheningan yang berdengung di telinganya.