Memasuki menit keempat puluh, tim lawan mencoba membangun serangan dari sektor tengah.
Namun, gelandang bertahan tim Gilang berhasil melakukan tekel bersih dan langsung mengirimkan umpan lambung terobosan ke depan.
Bola melambung tinggi, melewati kepala para pemain belakang lawan.
Di sinilah insting striker Gilang bekerja. Ia memacu kedua kakinya, berlari kencang memotong jalur bola. Bek lawan yang berbadan lebih besar mencoba menjatuhkan badan untuk menghalanginya.
Tapi Gilang dengan cerdik melakukan satu sentuhan tipis menggunakan ujung sepatunya, membuat bola melewati selangkangan lawan—sebuah trik nutmeg yang sangat mulus.
Kini tinggal Gilang yang berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Kiper lawan bergerak maju, mencoba mempersempit ruang tembak. Penonton di pinggir lapangan menahan napas.
Dengan ketenangan luar biasa, Gilang tidak menembak dengan keras, melainkan melepaskan tendangan melengkung yang pelan namun akurat ke sudut kanan bawah gawang. Kiper lawan melompat, namun jarinya sama sekali tak mampu menggapai bola. Jaring gawang bergetar.
Gol! Skor berubah menjadi sama kuat, satu-satu.
Namun, Gilang tidak melakukan selebrasi yang berlebihan. Sebelum teman-temannya sempat menerjang tubuh kecilnya, ia dengan cepat berbalik badan.
Di tengah riuhnya selebrasi dan teriakan bangga sang pelatih di pinggir lapangan, sepasang mata Gilang hanya mengunci satu titik di dekat gerbang masuk.
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Jemarinya mengepal erat, menyisakan jari kelingking kecilnya yang menjulang lurus menantang langit sore.
Di sudut penonton, di antara kerumunan orang tua yang sedang melompat kegirangan, Raya melihat gestur itu.
Matanya mendadak terasa panas, berkaca-kaca oleh rasa haru yang luar biasa buncah di dalam dada. Semua rasa lelah dan panik seketika menguap tak berbekas begitu melihat binar mata Gilang kembali menyala.