Gilang menggelengkan kepala. "Belum pulang kerja, Teh. Nanti malam baru pulang. Ayah kerjanya jauh," jawabnya polos sambil berlari kecil ke area samping rumah.
Raya memperhatikan bocah itu meraba-raba bagian atas kusen atau celah dinding—mencari tempat penyimpanan kunci rahasia miliknya. Beberapa saat kemudian, Gilang kembali dengan senyum sambil mendentingkan sebuah kunci di tangannya. "Ayo masuk, Teh."
Pintu terbuka.
Di dalam ruang tamu yang mungil namun bersih, pandangan Raya langsung tertuju pada deretan bingkai foto yang terpajang di dinding. Ia melangkah mendekat, mengamati satu per satu foto masa kecil Gilang bersama kedua orang tuanya.
Raya sempat tertegun lama pada dua buah foto lama yang warnanya sudah agak memudar.
Foto pertama memperlihatkan sosok ayah Gilang saat masih muda, gagah mengenakan jersey tim dengan medali melingkar di leher—seorang atlet sepak bola. Di sampingnya, ada foto ibu Gilang mengenakan pakaian olahraga di pinggir kolam sambil memegang piagam—seorang atlet renang.
“Pantesan... “ kelakar Raya tiba-tiba dalam hati.
Bakat besar dan fisik tangguh Gilang di lapangan sore tadi seketika masuk akal di kepala Raya. Darah atlet ternyata mengalir deras di tubuh anak itu.
Lamunan Raya buyar saat mendengar langkah kaki mendekat. Gilang muncul dari arah dapur, kedua tangan kecilnya dengan hati-hati membawa sebuah teko air plastik dan dua buah gelas bermotif kartun yang bagi Raya terlihat sangat lucu.
"Eh, gak usah repot-repot, Gilang," ucap Raya refleks, merasa sungkan.
Gilang meletakkan nampan itu di atas meja kayu dengan gerakan yang diatur sesopan mungkin. "Gak apa-apa, Ibu suka ngelakuin ini kalo ada tamu," jawab Gilang polos.