Ibu Gilang mengangguk hangat menyambut jabatan tangan itu, lalu dengan cepat tangan kirinya bergerak memberikan isyarat baru kepada anaknya.
Gilang memperhatikan gerakan jemari ibunya dengan saksama, lalu mendongak menatap Raya sambil tersenyum lebar.
"Teh, kata Ibu... makasih banyak ya udah mau datang lihat Gilang main bola hari ini," ucap Gilang, menerjemahkan isyarat ibunya dengan suara polos yang terdengar sangat bangga.
Raya tertegun sejenak. Ia memandang ibu Gilang, lalu mengangguk pelan dengan senyuman paling tulus yang bisa ia berikan.
"Sama-sama, Tante. Gilang hebat banget tadi di lapangan. Keren," balas Raya.
Meskipun tahu ibu Gilang tidak bisa mendengar suaranya, Raya sengaja mengucapkan kata "keren" sambil mengacungkan jempol di depan dada—sebuah bahasa universal yang bisa dipahami siapa saja.
Melihat gestur jempol dari Raya, mata ibu Gilang tampak berbinar senang. Wanita itu kembali menggerakkan tangannya, menepuk dadanya sendiri dua kali, lalu mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai simbol rasa terima kasih yang mendalam.
"Ibu bilang, ayo masuk dulu, Teh. Ibu mau ganti baju sebentar, terus nanti kita minum teh bareng di dalam," sambung Gilang lagi, menuntun ibunya melewati pintu yang terbuka lebar.
Raya memandangi punggung ibu dan anak yang berjalan beriringan masuk ke dalam rumah itu. Suasana sore yang mulai meredup di luar entah kenapa terasa begitu terang di dalam ruangan ini.
Sambil membetulkan posisi tas dan map dokumen di tangannya, Raya melangkah masuk, siap melewati sisa sore itu di tengah kehangatan sebuah keluarga yang mengajarkannya bahwa janji dan kasih sayang, tidak melulu harus diteriakkan agar bisa didengar.
Raya menyenggol pelan bahu Gilang, menjadikannya penerjemah secara alami. "Lang, bilang ke Ibu... Gilang hebat banget tadi di lapangan. Jadi striker paling jago."
Gilang menyeringai bangga. Dengan cekatan, ia menerjemahkan kalimat Raya ke ibunya lewat gerakan tangan. Mendengar itu, sang ibu tertawa kecil tanpa suara sambil menepuk bahu Gilang.