Tak lama kemudian, masakan pun matang.
Sang ibu dengan wajah bersemangat melangkah keluar dari dapur, menghidangkan mangkuk-mangkuk berisi makanan hangat di atas meja ruang tamu. Aroma sedap langsung memenuhi ruangan.
Gilang seketika kegirangan, matanya berbinar menatap lauk yang tersaji. "Wah, makan ini biasanya enak banget, Teh!" serunya tak sabar.
Sebelum mereka mulai menyendok nasi, sang ibu menggerakkan tangannya, berbicara kepada Gilang lewat bahasa isyarat yang cukup panjang dan detail, lengkap dengan ekspresi wajah yang ramah menatap Raya. Gilang mangut-mangut mendengarkan ibunya, lalu menoleh ke arah Raya untuk menjelaskan.
"Teh, kata Ibu... makannya ada yang Teteh gak suka gak?"
Raya tersenyum sopan. "Enggak ada kok, Teteh suka semuanya."
Namun setelah menjawab, Raya mendadak menyipitkan matanya. Ia menatap Gilang dengan pandangan penuh selidik yang jenaka. Raya merasa ada yang aneh. Perasaannya tadi melihat sang ibu menggerakkan tangan panjang lebar ke sana kemari dengan penuh semangat, tapi kenapa versi terjemahan Gilang cuma pendek begitu?
"Eh, bentar deh, Lang," selidik Raya sambil menahan senyum. "Perasaan Ibu tadi ngejelasinnya panjang banget, tapi kamu cuma bilang segitu? Pasti ada yang kamu sembunyiin dari Aku, ya? Ibu aslinya ngomong apa?"
Tertangkap basah, Gilang langsung meringis canggung. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bocah itu menjawab dengan polos, "Hehe... emang segitu kok, Teh."
Raya seketika terkekeh geli melihat tingkah Gilang yang tampaknya malas menerjemahkan kalimat panjang sang ibu karena sudah kepalang lapar. Ibu Gilang yang melihat itu ikut tersenyum.