Raya duduk diam di depan meja rias kecilnya.
Sebuah jurnal terbuka di hadapannya, menampilkan beberapa baris kalimat yang baru saja ia goreskan setelah melewati proses berpikir yang panjang. Di samping buku itu, kopi kaleng pahit yang tadi ia beli mendingin menemani kesendiriannya malam ini.
Saat jemarinya hendak melanjutkan tulisan, keheningan kamar kontrakannya pecah oleh dering ponsel. Raya menoleh, menatap layar yang berkedip menampilkan satu kata:
Mamah.
Raya sempat tertegun beberapa detik, menimbang emosinya sendiri, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau. Layar beralih, menampilkan wajah yang sangat akrab di hidupnya. Namun, ada yang berbeda malam ini. Raya sedikit tersentak melihat tampilan ibunya di layar kaca.
"Mamah... pakai makeup?" tanya Raya, spontan dan agak kaget.
Sang ibu di seberang sana langsung tersenyum lebar, memamerkan riasan wajah yang terlihat lebih tebal dan tidak seperti biasanya. "Cantik gak, Ray?" tanyanya riang, sedikit memiringkan kepala.
Raya memperhatikan wajah ibunya, mencoba mengalihkan gemuruh di dadanya sendiri. "Cantik, Mah... tapi kurang rapi dikit lagi," ucap Raya, mencoba memberi komentar jujur.
Belum sempat ibunya membalas, tiba-tiba wajah ayahnya menyelonong masuk ke dalam bingkai kamera dari arah samping.
"Udah kayak muda lagi ya, Ray, ibu kamu?" goda ayahnya sambil terkekeh, yang seketika memancing senyum tipis di bibir Raya.
"Iya, Yah," sahut Raya lembut.
Sang ibu menyenggol lengan suaminya, lalu kembali menatap layar dengan wajah agak tersipu malu. "Ini, ayah kamu beliin Mamah kosmetik dari toko online, katanya biar tambah muda," ucap ibunya setengah berbisik.
Namun, senyum di wajah sang ibu mendadak memudar. Tatapannya di layar berubah intens, memperhatikan raut wajah anak perempuannya dengan penuh selidik khas intuisi seorang ibu.
"Kamu... baik-baik aja kan, Ray?"