168 Jam

Kal Q Fawzie
Chapter #44

Mahakarya Nilai Lima

Siang harinya, ponsel Raya bergetar menerima sebuah pesan gambar dari Asti.

Begitu dibuka, foto tiga "anak berbulu" kesayangan Asti langsung memenuhi layar. Luvi, Tom, dan Luna tampak berjejer rapi dengan bulu yang baru selesai dipangkas rapi di salon hewan.


“Gimana? Udah pada cakep, kan, anak-anak aku?” tulis Asti di bawah foto tersebut.


Raya terkekeh melihat wajah pasrah ketiga kucing itu. Alih-alih membalas lewat teks, Raya langsung memencet tombol video call. Detik berikutnya, wajah ceria Asti muncul di layar, langsung dikerubuti oleh anak-anak berbulunya yang sibuk mendusel.


"Lah, tumben nih anak video call duluan? Kiamat bentar lagi, ya?" cerocos Asti tanpa basa-basi di ujung telepon.


Raya langsung manyun dan refleks mengacungkan tinju kecilnya ke arah kamera. Asti malah terkekeh puas, menyadari ada ekspresi yang tidak biasa dari sahabatnya itu.


"Eh, minggu depan kamu ada acara gak, Ray? Si Susan ngajakin kemping tuh di tempat perkemahan saudaranya. Katanya tempatnya cakep parah, terus gak harus capek-capek naik gunung segala," ajak Asti bersemangat.


"Dih, jangan minggu depan dong! Geser minggu depannya lagi," tawar Raya cepat. "Minggu depan aku mau pulang."


"Dih, dih... nawar dia!" gerutu Asti.


Namun, ia tampak berpikir sejenak di layar sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Okelah kalau itu maumu. Entar Aku rayu si Susan biar digeser jadwalnya.


Itung-itung ini bakal jadi perkemahan tiga cewek single, dan aku bertindak sebagai pengasuhnya."


Mendengar kata single, Raya mendadak menatap layar dengan tatapan curiga, mencoba menutupi badai yang sebenarnya sudah lewat. “Aku gak single, ya," potong Raya.


Asti langsung memicingkan mata dan memajukan bibirnya. Melihat respons Asti, pertahanan Raya akhirnya runtuh juga. Ia menghela napas pasrah dan menyerah.


"Dari kapan kamu tahu, As?"


Sambil menyeringai penuh kemenangan, Asti mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah matanya sendiri—pose isyarat detektif yang sedang mengawasi. "Aku ini peka banget sama sinyal-sinyal patah hati, Sis," sahut Asti sok misterius.

Tawa Raya seketika pecah.


Lihat selengkapnya