Setelah sore yang melelahkan sekaligus seru karena kuliah masak darurat dari Asti, malam pun tiba. Raya berdiri mematung di tengah kamar kosannya.
Pandangannya menyapu sekeliling ruangan yang kini mendadak berantakan oleh sisa-sisa tepung, mangkuk kotor, dan alat dapur yang belum sempat ia bereskan.
Di atas meja rias, jurnalnya masih terbuka, bersebelahan dengan segelas kopi pahit yang kini sudah dingin sepenuhnya. Mata Raya terhenti, terkunci pada kaleng kopi hitam kosong yang ia beli di minimarket tadi.
Raya menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan seolah melepaskan sisa sesak yang masih tertinggal di dada. Ia melangkah mantap menuju sebuah kardus bekas yang tergeletak di dekat lemari pakaian—barang yang sudah teronggok diam di sana sejak seminggu lalu, menyimpan sisa-sisa memori yang tak lagi ia butuhkan.
Raya mengambil kaleng kopi kosong itu, lalu memasukkannya ke dalam sana.
Raya terdiam sejenak di depan kardus, seolah memantapkan hatinya. Setelah dirasa cukup, ia mengangkat kotak itu dengan kedua tangan, membawanya tepat di depan dada, lalu bergegas melangkah keluar kamar menuju lantai bawah tempat gudang penyimpanan berada.
Begitu pintu kamarnya terbuka dan ia melangkah ke koridor, pandangan Raya langsung menangkap sosok familiar. Di seberang sana, seperti biasa, Pak Halim sedang duduk santai menikmati angin malam.
"Itu kardus yang seminggu yang lalu ya, Raya?" tegur Pak Halim dengan suara beratnya yang khas, langsung mengenali barang yang sama sejak pekan lalu itu.
Raya menghentikan langkahnya sejenak, lalu melempar senyum. "Iya, Pak... Raya lupa terus. Tadinya mau langsung dibuang ke gudang bawah," jawab Raya agak canggung.
"Oh, ya sudah, taruh bawah saja dulu biar gak menuh-menuhin kamar," ujar Pak Halim sambil mengangguk.
"Iya, Pak, Raya ke bawah dulu," pamit Raya, lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Sesampainya di gudang bawah yang remang-remang, Raya meletakkan kardus itu di atas tumpukan barang-barang lama lainnya. Sebelum benar-benar melepaskannya, Raya mengulurkan tangan, mengelus permukaan kardus itu sebanyak tiga kali.