[2] Bintang Di Langit Abu-Abu

kound
Chapter #1

Majalah Dinding UI

Hari itu, langit di atas gedung Universitas Indonesia terasa mendukung bagi siapa pun yang beraktivitas di bawahnya. Tidak terlalu terik, tidak pula mendung. Seolah memberi ruang bagi setiap orang melakukan kegiatannya masing-masing. Langkah kaki terdengar silih berganti, percakapan kecil saling bersahutan, dan tawa sesekali pecah tanpa alasan yang terlalu penting. Semua bergerak, hidup, seolah masing-masing sudah tahu ke mana mereka akan pergi.

Namun tidak pada, Naya.

Ia hanya berdiam diri di lorong FMIPA setelah selesai melakukan pendaftaran ulang sebagai mahasiswa baru. Berdiri menyaksikan setiap orang yang lalu lalang di hadapannya. Menyaksikan bagaimana mereka saling berinteraksi dengan seru dan penuh tawa satu sama lain. Naya lihat lagi jam tangannya. Lalu memperhatikan lagi ke sekitarnya. Siapa tahu yang ia tunggu sudah datang walaupun ternyata belum. Bingung. Mamanya pergi ke toilet kampus mana, kenapa lama banget. Tetiba pandangannya terhenti pada Majalah Dinding di lorong kampus.

Naya mendekat tanpa sadar.

Bukan karena bentuknya bagus atau warnanya mencolok. Tapi karena ada sebuah artikel yang menarik perhatiannya. Ya. Artikel Astronomi. Matanya menelusuri judulnya perlahan. Lalu turun ke baris demi baris kalimat yang menjelaskan bagaimana sebuah bintang bisa tetap bersinar meski jaraknya begitu jauh. Bahkan ketika cahayanya sebenarnya sudah lama pergi dari sumbernya.

Naya terdiam. Entah kenapa, tetiba ada sesuatu dalam dirinya yang ditarik pelan, terasa seperti mundur dan rasanya semakin jauh. Sesuatu yang menarik dirinya dari lorong kembali ke satu waktu di tahun 2015, kala itu.


Juli, 2015.

Tempat belajar kali ini agak berbeda dari biasanya. Pantas Naya bilang kejutan karena Juna beneran terkejut begitu mereka sampai di Planetarium, Jakarta Pusat. Naya bilang agar Juna cepat paham pelajaran IPA yang saat itu tentang tata surya.

Dengan masih berseragam, mereka menyusuri dalam gedung. Naya jelaskan satu per satu setiap bagian ornamen dari alam semesta. Juna mendengarkan saja karena selain baru pertama kali datang, ia sedang dibuat kagum juga entah pada ornamennya atau pada orang yang menjelaskannya?

Mereka tiba di ruang audiovisual. Naya nunjuk dua bola di langit ruangan.

"Itu bulan, itu bintang."

"Bintang kok bulet?" bingung Juna, "Bukannya segi lima?"

Naya tersenyum, "Bintang itu sebenarnya sama kayak bulan, Jun. Mereka bulat. Bedanya, Bulan gak punya cahaya sendiri, sedangkan bintang punya. Makanya kelihatan lebih terang. Pantulan cahaya bintang itu ngelewatin atmosfer bumi, jadi keliatan kerlap kerlip, itu yang kita sering lihat bentuknya segi lima."

Juna ber-oh, ngerti? enggak.

Lanjut Naya, "Kadang kita emang harus lihat sesuatu lebih dekat dulu supaya bisa tahu aslinya."

Juna tersenyum memandang Naya. Benar juga, ia bahkan tidak tahu Naya semenyenangkan ini kalau tidak kenal lebih dekat.

Juna menghela nafas sambil masih tersenyum memandang bintang-bintang itu, "Berarti alam semesta ini indah banget yah Nay."

"Indah kenapa?"

"Di langit malam yang gelap, ada bintang yang selalu menyinari."

Deg. Naya terdiam memandang Juna. Dalam hatinya setuju. Langitnya juga sering gelap, lalu ada Juna yang selalu datang dan menyinari hari-hari gelapnya. Naya tetiba teringat masa-masa kebersamaan mereka di sekolah, di motor , di taman, dimana pun. Kadang memang ribut tapi banyak juga ketawa dan serunya. Ah, Juna benar. Rasanya memang sangat indah.

Juna noleh memandang Naya dan bingung karena Naya memandanginya.

"Nay?!!"

"Eh!" kaget Naya tersadar.

Lihat selengkapnya