Masih di bawah langit yang sama, di gedung Universitas Indonesia. Masih tidak terlalu terik, juga tidak pula mendung. Seolah memberi ruang bagi setiap orang melakukan kegiatannya masing-masing. Langkah kaki terdengar silih berganti, percakapan kecil saling bersahutan, dan tawa sesekali pecah tanpa alasan yang terlalu penting. Semua bergerak, hidup, seolah masing-masing sudah tahu ke mana mereka akan pergi.
Salah satunya adalah Juna.
Selesai melakukan pendaftaran ulang sebagai mahasiswa baru FEB, ia langsung berkumpul dan ngobrol dengan beberapa orang yang baru ia kenal dari kursus SIMAK. Obrolan mereka ringan, diselingi tawa dari bercandaan yang tidak jelas tapi gapapa karena mereka sambil menunggu temannya yang masih mengurus pendaftaran ulang.
Seorang dari mereka membuka topik baru, bagaimana perasaan mereka setelah resmi menjadi calon mahasiswa baru UI, kampus nomor satu di Indonesia.
"Nomor tiga," protes Juna "Nomor satu, UGM."
"UGM nomor dua," protes yang lain "Nomor satu, ITB."
"Nomor satu UGM," yakin Juna "Universitas Gunadarma Margonda."
Semua langsung ketawa termasuk Juna yang lanjut cerita, "Tapi kalau gua tetap gagal masuk UI, gua beneran akan masuk UGM Margonda. Soalnya gua udah capek banget belajar sbm, simak, kepala gua sampe ngebul banget kaya tinggal meledak aja."
Semua kembali tertawa karena Juna menceritakannya dengan sangat dramatis.
"Kenapa lu pengen banget masuk UI Jun?" tanya seorang dari mereka.
Tawanya Juna perlahan memudar mendengar pertanyaan itu. Kenapa UI? Karena kampus nomor tiga? sepertinya bukan.
"Karena gua punya janji harus masuk UI," jawab Juna seperti mengingat sesuatu.
"Janji sama orangtua lu?"
"Janji sama cewek gua."
Semua ketawa lagi dan jadi ramai tidak sangka ternyata Juna punya pacar. Juna juga ketawa lalu tetiba bingung, loh kenapa jadi tidak sangka?
"Cewek lu masuk UI juga Jun?"
"Dia masuk UGM, Yogya."
"Oh, bukan margonda nih yah?"
"Bukanlah. Dulu di sekolah, dia tuh anak lomba, peringkat satu terus, paling pinter pokoknya. Makanya dia pilih gua."
Semua langsung ketawa lagi. Tapi tidak pada Juna yang langsung menyerukan mereka pergi ke lapangan direktorat UI saja untuk foto-foto. Semua antusias langsung beranjak pergi kesana. Melihat reaksi itu, Juna jadi lega karena bisa mengakhiri obrolan tentang seseorang yang ia sebut sebagai ceweknya itu. Seseorang yang bahkan Juna tidak tahu kabar dan keberadaanya. Apakah benar di UGM Yogya atau tidak. Seseorang yang pernah ada di hidupnya.
Lima bulan yang lalu, sejak percakapan malam itu berakhir di rumah sakit, sejak saat itu juga Juna tidak tahu lagi kabar tentang Naya.
Pesan terakhir yang Juna kirim, sebuah pernyataan bahwa mereka resmi pacaran. Namun bagaimana bisa dibilang resmi jika terjadinya sepihak. Tidak ada persetujuan dari Naya sebagai pihak yang diajak. Pesannya hanya dibaca tanpa dibalas. Juna coba hubungi berkali-kali pun namun panggilan yang dituju selalu tidak aktif. Hari-hari berlalu seperti itu. Membuat Juna kesal yang perlahan berubah jadi kecewa.
Kecewa karena Naya tidak seharusnya pergi seperti ini. Kenapa harus meninggalkan kebingungan tentang hubungan mereka, apa dan bagaimana. Maksud Juna, andaikan malam itu, saat ia berkata jujur tentang perasaanya dan Naya langsung menolak. Mungkin, Juna tidak akan bersikap seperti orang gila, merasa memiliki hubungan pada seseorang yang sebenarnya tidak ada.
Beberapa kali, Juna mencari tahu tentang Naya dari Mira dan Gita, dua orang yang Naya pernah sebut sebagai teman dekatnya itu. Tapi mereka juga tidak tahu, atau tidak mau tahu. Entahlah, bertanya pada mereka hanya membuat Juna semakin kesal. Akhirnya Juna sebisa mungkin mencari tahu sendiri termasuk beberapa kali ke rumah Naya yang memang kosong.
Lalu, entah bagaimana, pendaftaran SNMPTN seolah memberikannya titik terang walaupun hanya setitik. Melihat nama kampus Universitas Indonesia membuat Juna teringat pembicaraan malam hari di Taman Ayodia.
Saat itu sambil makan sate, Naya cerita kalau ia dan Mamanya sedang berantem. Juna paham, pantesan Naya ajak makan di luar.
"Mama gua minta gua kuliah di UGM."
Juna memandang Naya agak kaget, "UGM Yogya?"
Naya berdehem membenarkan.
Juna terdiam. Tidak ada respon lagi karena ia sedang berpikir, berarti mereka akan berpisah setelah lulus nanti. Juna sadar diri, ia tidak mungkin juga masuk sana.
"Padahal gua maunya masuk UI," ucap Naya lagi.
Juna agak lega dengar itu.
"Am, UI, UGM sama-sama bagus, Nay."
"Iya, tapi UGM itu universitas terbaik nomor dua saat ini, kalahin UI. Makanya Mama gua minta gua kuliah disana."
"Justru UI butuh lu untuk kalahin UGM."
Naya langsung ketawa. Begitulah Juna, selalu ada-ada aja responnya. Dan selalu menyenangkan. Makannya Naya suka banget.
"Mama lu harus tahu itu," kata Juna lagi.
Naya menghela nafas, "Selama ini gua selalu ikutin mau Mama gua bahkan untuk hal yang gak gua suka sekalipun. Tapi kali ini gua tetep mau masuk UI."
"Kenapa UI?"
"Karena supaya dekat sama lu," jawab Naya yang tetiba kaget sendiri, bisa-bisanya ngomong gitu.
Juna terdiam memandang Naya.
"Sama yang lain juga," ralat Naya gugup "Sama lu, Billy, Akbar, Gita, Mira, Tomi, semuanya."
"Ohh, iya, iya," paham Juna mengangguk aja.
Naya tetap meluruskan, "Gua kan susah berteman. Kalau gua sendiri di Yogya, gua pasti gak punya teman. Karena kalian semua disini."
"Yaudah, gua juga masuk UI deh, biar lu ada teman."
Naya langsung ketawa. Lucu, karena Juna bilang seolah masuk UI segampang dia masuk mall.
"Kenapa ketawa? Gua serius, Nay."
"Iya. Tapi kalo mau masuk UI, lu harus belajar lagi loh Jun."
"Yaudah, ayo belajar! Gua suka banget belajar!"
Naya tersenyum, ia selalu senang kalau lihat Juna semangat belajar.
"Janji yah, pokonya lu harus masuk UI?" ucap Naya.
"Iya janji."
"Walaupun susah banget nanti?"
"Iya, Nay. Tapi lu janji, masuk UI juga ya. Nanti gua masuk sendirian lagi."