[2] Bintang Di Langit Abu-Abu

kound
Chapter #3

Teman Menjadi Pacar

Seharian penuh Naya bergelut dengan pikirannya mencari alasan untuk ijin keluar malam bersama Juna.

Mustahil ia minta ijin Mamanya. Sejak peristiwa tawuran lima bulan yang lalu, Mamanya melarang Naya berteman dengan Juna lagi. Entah gimana cara pikirnya, Mamanya selalu menilai Juna sebagai penyebab atas masalah yang terjadi padanya. Padahal saat itu, pihak sekolah memanggil orangtua karena Pak Guntur menilai kedisiplinan Naya menurun. Tentang tawuran pun, Naya juga tidak terlibat. Ia hanya berniat melerai aksi dengan memanggil polisi. Bahkan pertemuannya dengan Juna di kolam rektorat juga sudah jadi bahan ancaman kuliah jika Naya buat masalah lagi. Di titik itu, Naya protes karena ia merasa sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang baik dan tidak. Namun Mamanya tetap pada satu kesimpulan, Juna bukan pilihan yang baik. Akhirnya Naya mengalah. Ia mengiyakan dan berjanji tidak akan membuat masalah lagi atau menanggung sendiri risikonya jika hal buruk memang terjadi.

Naya bersikap seperti ini bukan karena ia dipihak Juna. Tapi karena sikap Mamanya yang terlalu berlebihan di usianya. Naya merasa dirinya harus belajar tanggungjawab tanpa bergantung pada siapapun. Kenapa? Karena ia sadar hanya punya Mamanya saja. Jika hari buruk datang dan ia harus bertahan sendiri, Maka Naya tidak mau menjadi orang yang kebingungan dalam menghadapinya. Mamanya terdiam, sedikit terenyuh dan memahami apa yang Naya rasakan.

Sekali lagi, Naya ijin mau membeli peralatan ospek. Mamanya ragu tapi ia mau antar. Naya langsung menolak, ia mau pergi sendiri. Mamanya menghela nafas lalu mengangguk, mengizinkan. Buru-buru Naya tutup gerbang dan menghela nafas sedikit lega. Ia jalan menuju portal komplek dan telepon seseorang yang ternyata sudah menunggu disana. Naya langsung lari menghampiri begitu melihat, Juna.

Naya langsung menyapa dan naik ke motor. Namun Juna tidak membalas sapaannya. Bahkan tanpa banyak bicara, ia langsung melajukan motor. Awalnya, Juna memang senang saat Naya menerima ajakannya. Tapi tidak berlangsung lama begitu Naya memintanya tunggu depan portal aja. Juna sempat nolak karena ia tidak nyaman jemput cewek pinggir jalan. Tapi Naya memaksa harus begitu kalau tetap mau jalan. Juna akhirnya mau tidak mau. Lalu protes sepanjang jalan. Naya dengarkan aja walaupun berisik banget.

"Apa susahnya jujur!" gerutu Juna, apalagi tahu Naya ijin pergi sendiri.

"Mama gua pasti gak akan ijinin kalau gua sama lu."

"Dulu kan gua pernah ke rumah lu minta ijin liburan dan dibolehin."

"Ya sekarang kan beda," bingung Naya bagaimana membuat Juna paham, "Mama gua tuh masih ingat kejadian tawuran. Makanya dia jadi begini sama lu."

"Emang salah gua apa?" tanya Juna, "Kan tawuran kemaren juga gara-gara lu."

Deg. Iya juga. Batin Naya.

Naya jadi semakin bingung.

"Gua juga gak mau lakuin itu," ucap Juna lagi, "Tapi kan tiba-tiba terjadi dan gua ada di tempat. Bukan berarti gua nakal atau gak baik. Apalagi gua sampai berdarah dan masuk rumah sakit. Siapa yang mau begitu."

Naya agak gemetar mendengar itu, Juna benar-benar marah dan Naya bingung harus gimana sekarang?

"Am, ya, ya udah sih gak usah bahas terus," Naya sangat tidak nyaman, "Kan, gua juga udah minta maaf."

"Ya, habis gua disalahin terus."

Naya tidak merespons lagi dan memilih diam, berharap Juna paham bahwa ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Juna tampaknya paham, karena setelah itu mereka jadi diam-diaman. Dari spion, Juna melihat Naya hanya menatap lurus ke jalan dengan ekspresi dingin. Ia menghela napas, yakin Naya marah. Sejak dulu memang begitu. Tapi Juna juga sadar seharusnya tidak perlu mengungkit kejadian yang sudah berlalu. Malam itu harusnya bisa menjadi malam yang menyenangkan karena mereka bisa berdua lagi di atas motor.

"Udah makan belum, Nay?" tanya Juna agak menoleh ke belakang.

Naya noleh, "Am, belum."

"Mau makan apa?"

"Temenin beli peralatan ospek dulu, Jun."

Juna berdehem walaupun bingung karena ospek juga masih lama. Tapi biarlah, tidak perlu banyak tanya selagi mereka bisa bersama. Juna langsung gas kencang laju motornya sampai membuat Naya terkejut.

"Pelan-pelan Jun."

"Pegangan aja, ha ha ha."

Naya tersenyum dan semakin erat memegang pinggang Juna.

Di supermarket, mereka mulai berburu “barang aneh” dari daftar teka-teki ospek. Dari “susu tidur”, “buah nasib”, sampai “bata Italia”, semuanya berubah jadi bahan tebak-tebakan yang berakhir dengan tawa.

"Nih, pulpen biasa-biasa aja," Juna kasih pulpen ke Naya.

"Pulpen standart?"

"Iya, standart banget, biasa aja."

"Ha ha ha! Tebak, kalau pulpen luar biasa berarti apa?"

"Apa tuh?"

"Pulpen pilot! Ha ha ha!"

"Ha ha ha!" ketawa Juna.

Mereka pindah ke vending mesin, kali ini mencari minuman beraksi.

"Extrajoss kali ya?" bingung Naya.

"Mahasiswa bawa extrajoss buat apa?"

Juna ambil teh kotak, "Ini kali..."

"Kenapa coba?" Naya sudah tahan ketawa, pasti ada-ada aja.

"Soalnya, Kotak pun beraksiiii! Hey!! Yang ada disanaaaa! Yang ada disiniiii!"

"HA HA HA, JUNNN!" ketawa Naya pecah melihat Juna nyanyi lagu kotak yang judulnya beraksi lengkap dengan gaya rock starnya.

Semua orang menoleh dan ketawa. Naya malu banget tapi tidak bisa berhenti ketawa bahkan sampai sakit perut karena lucu banget. Begitulah mereka mencari barang yang lainnya. Sampai mereka berdebat air putih itu susu atau aqua.

"Aqua itu bening, Nay. Bukan putih. Air putih itu pasti susu."

"Tapi susu kan ada warna coklat."

"Iya sih," bingung Juna "Ah, ini Bem nya siapa sih, ribet banget. Kaya SMA aja."

Naya hanya mengangguk setuju karena ia sudah capek banget keliling.

"Nanti kalau gua jadi ketua bem, gak akan ada lagi gini-ginian."

Naya noleh, "Lu mau jadi ketua bem?"

Juna terdiam seketika lalu mengangguk, "Iya, mau masuk bem."

Naya berdehem mengangguk. Juna tersenyum.

Sepulang dari supermarket, mereka makan gulai tikungan, tempat langganan mereka sejak dulu. Juna selalu pesan dua piring karena katanya sedikit. Naya tetap satu, bahkan menaruh potongan lemak ayam ke piring Juna. Bukan karena dia tidak suka, tapi karena seingatnya, Juna sangat suka itu.

Juna tersenyum melihat Naya, "Makasih, Nay."

"Gua kangen banget deh makan gulai disini. Di Semarang tuh gak ada."

"Makanya jangan kesana lagi."

"Supaya bisa makan gultik disini terus ya?"

"Supaya bisa makan sama gua terus."

Naya tertawa kecil sambil mengaduk gulai. Dadanya mulai terasa aneh. Entahlah mereka ini apa, terakhir yang ia dengar adalah pernyataan bahwa mereka pacaran tapi Naya tidak tahu itu beneran atau enggak.

"Nay," panggil Juna pelan.

"Hm?"

"Jangan pergi lagi yah."

Naya menoleh. Kali ini tatapan Juna berbeda.

Lanjut Juna, "Gua mau makan sama lu terus."

Tetiba Naya jadi gugup, "Kolestrol Jun, makan gultik terus."

Juna tersenyum tipis lalu bertanya, "Lu baca pesan terakhir gua waktu itu?"

Naya menggeleng.

"Ayo pacaran."

Naya terdiam.

Abang gultik langsung noleh dan senyum-senyum sendiri tapi tidak lama-lama karena ada pembeli lain.

"Gua kaya ngomong sama limbad," ucap Juna akhirnya.

"Ha ha ha, maksud lu gua?"

"Lagian diam aja. Jawab."

"Mama gua aja larang kita berteman, apalagi pacaran."

Juna terdiam beberapa detik, "Am, gua akan jelasin baik-baik ke Mama lu niat gua. Gua akan minta ijin buat hubungan kita."

"Ah, janganlah," larang Naya, "Mama gua gak akan setuju."

"Gua janji gak akan buat masalah. Gua kan juga masuk UI. Lu juga. Bearti kita jodoh."

"HA HA HA! Apaan sih lu!" Naya ketawa banget. Abang gultik juga ketawa.

Juna juga ketawa karena bingung juga ngomong apaan. Tapi ia beneran sedang serius.

"Maksud gua, kalau sesuatu memang milik kita, mau sejauh apa pun, pasti balik lagi," ucap Juna.

Naya mendengarkan saja.

Lanjut Juna lagi, "Jadi daripada Mama lu larang, lebih baik maafin dan percaya sama gua."

Lihat selengkapnya