Masih dalam Orientasi Kehidupan Kampus Universitas Indonesia. Agak lama karena memang berlangsung selama satu minggu. Selama itu juga Juna dan Naya tidak pernah ketemu dan itu yang sedang Juna permasalahkan di chat. Juna rasa kalau tidak bisa bertemu di pintu masuk, cari pintu lain sampai mereka ketemu. Naya langsung protes karena mereka akan terlambat apalagi selama ospek akan ada selalu bem yang tidak segan menegur kalau kita tidak disiplin. Maksud Naya, apakah dalam hal ini, ia salah dan sengaja gak mau ketemu? Juna bingung, siapa yang salahin Naya? Lalu terdiam karena langsung membayangkan ekspresi bete Naya. Ah, entah kenapa rasanya lucu. Juna langsung kirim pesan lagi:
[Kamu lihat aku gak sekarang? Aku yang lagi berdiri joget-joget sambil nyalain flash HP.]
Naya mau memastikan tapi tidak jadi. Mana mungkin mahasiswa baru boleh begitu ditengah seminar ospek. Kecuali kalau dia orang gila. Eh, tapi kan Juna memang gila. Entah kenapa Naya tersenyum dan membalas:
[Enggak ada tuh.]
[Buta.]
Naya langsung ketawa. Ia kirim pesan lagi:
[Aku barusan panggil kamu, kedengeran gak?]
Juna ketawa membaca itu dan membalas:
[Enggak Nay, coba ulang.]
[Budek.]
Juna dan Naya saling ketawa di tempatnya masing-masing.
Hari terakhir ospek, tiba.
Semua mahasiswa baru ramai memenuhi lapangan gedung rektorat untuk foto dengan jaket kuning kebanggaan mereka. Begitupun dengan Juna dan teman-temannya, di FEB. Tetiba Juna menjadi tukang foto dadakan bagi mahasiswa FEB bahkan bagi mahasiswa fakultas lain. Dan itu terlihat sangat heboh ketika Juna memberikan invoice dulu sebelum hasil fotonya.
Juna bilang, "Ye, namanya juga anak bisnis! Bayar dulu!"
Semua ketawa menyaksikan itu termasuk sekumpulan mahasiswi FEB.
"Dia berisik banget yah dari ospek, ha ha ha," bisik seorang dari mereka.
"Tapi emang lucu tahu dia sama temen-temennya," tambah yang lain.
"Ganteng lagi,"
"Namanya siapa sih?" tanya Abel, seorang dari mereka.
"Junaaa!" panggil seseorang dari kejauhan.
Juna langsung noleh karena suaranya tidak asing. Senyumnya semakin merekah begitu melihat, Nayaaa??!!!!!
Juna buru-buru kasih kamera ke temannya lalu langsung lari menghampiri Naya.
Sementara senyum sekumpulan mahasiswi FEB itu langsung memudar begitu melihat Juna memeluk Naya. Beberapa menebak itu pacar Juna. Beberapa tidak yakin.
Sama! Naya juga tidak yakin dengan sikap Juna yang tiba-tiba banget memeluknya. Naya hanya mematung kaget. Tapi tidak lama-lama karena Juna langsung melepaskan pelukannya dengan wajah gembira, katanya senang banget ketemu Naya. Naya langsung tersenyum mengangguk, ia juga senang.
"Kamu udah selesai foto-foto?" tanya Juna.
Senyum Naya memudar karena dia tidak foto, lebih tepatnya belum ada yang ia kenal juga untuk foto.
Juna memahami ekspresi Naya, "Eh, kita belum foto berdua! Ayo foto!"
Naya kaget begitu Juna langsung tarik tangannya ke tengah lapangan, ke antara teman-temannya di FEB. Bahkan Juna langsung memperkenalkan Naya sebagai mahasiswi FMIPA sekaligus PACARNYAAA!!!!!! YEAHH!!!!!!!
Semua ketawa dan tepuk tangan karena Juna benar-benar kaya komentator bola. Naya juga ketawa tapi berusaha menempel ke Juna berbisik, ia malu banget. Juna berbisik menyakinkan gapapa, kan ada aku.
Juna meminta temannya untuk fotoin ia dan Naya.
"Kita harus foto," bisik Juna merangkul Naya "Buat anak kita nanti."
"Ha ha ha!"
Cekrek.
Naya kaget, "Eh, belum siap."
Juna nurut mengikuti, atur ulang posisi dan gaya. Naya gugup tapi dia pun merangkul pinggang Juna. Cekrek. Juna memegang kepala Naya. Cekrek. Naya dan Juna memandang sambil ketawa. Cekrek.
Abel, seorang dari mahasiswi FEB beranjak melangkah ke tengah menbawa tripod kamera dan menyerukan agar semua mahasiswa FEB berkumpul foto dulu. Yang bukan dari FEB, minggir dulu. Semua ramai mengatur posisi. Juna dan Naya pun menyudahi foto mereka.
"Mama kamu jemput, Nay?" tanya Juna.
Naya menggeleng, "Mendadak gak bisa. Makanya aku langsung cari kamu."
Juna tersenyum, "Yaudah, pulang sama aku."
"Emang sama siapa lagi?" senyum Naya "Udah sana foto dulu, aku tunggu pinggir lapangan."
"Iya, aku gak lama."
Mungkin karena mahasiswa-mahasiswi FEB yang ikut foto lumayan banyak, jadi agak sulit diatur apalagi yang atur satu orang doang, cewek lagi didepan. Bukannya apa, kalau Juna gak lihat Naya berdiri menunggunya dibawah terik panas matahari, ia mungkin tidak akan maju menghampiri Abel, membantu mengatur posisi teman-temannya yang memang susah diatur. Suara Juna yang lantang dan sikap arahan yang tegas membuat orang-orang jadi segan dan akhirnya nurut.
Naya tersenyum melihat itu. Dalam hatinya, "Keren juga cowok gua." Naya bahkan langsung foto Juna. Namun bagaimana jika yang merasakan kekaguman itu tidak hanya Naya. Abel, yang berdiri samping Juna juga sama. Beberapa kali ia melirik Juna dengan tatapan kagum dan sedikit berdebar.
"Eh, lu mending langsung masuk di samping si Dewi deh," ucap Juna ke Abel.
"Oh, oke Jun."
"Semuanya siap-siap ya!" seru Juna.
"Bentar Jun, gatel."
"Cepetan! Cewek gua udah nungguin!"
Beberapa langsung melihat ke Naya termasuk Abel yang langsung tersenyum bersiap untuk foto.
Cekrek!
Sekali lagi!
Cekrek!
Juna langsung keluar barisan dan pamit, "Gua duluan semua! Sampe jumpa di kelasss!"
Belum dijawab, Juna langsung lari menghampiri Naya mengajak pergi.
"Eh, emang udah selesai?" bingung Naya karena yang lain masih dalam barisan.
Juna mengangguk dan tarik tangan Naya untuk pergi. Namun bagaimana kalau akhirnya Naya mempermasalahkan sikap Juna.
"Kamu gak boleh kaya gitu, kalau belum selesai, ya tetep ikutin sampe selesai."
"Yang penting udah foto, Nay."
"Nanti temen-temen kamu mikir gara-gara aku, kamu pergi duluan."
"Ya emang."
"Ih."
"Aku gak sabar mau jalan sama kamu," Juna rangkul Naya "Aku kangen banget sama kamu."
Naya terdiam, lalu perlahan tersenyum.
"Foto sama teman bisa kapan-kapan, jalan sama kamu kapan lagi, Asikk!"
"Terbalik gak sih? ha ha ha!"
"Enggak. Kamu yang paling utama."
Naya ketawa memukul Juna. Juna juga ketawa. Di atas motor, Naya memeluk Juna dari belakang. Mendengarkan cerita-cerita Juna yang tidak ada habisnya. Tentang jadwal kuliah. Tentang hima yang mau Juna ikuti. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Hal ini sering membuat Naya teringat bagaimana mereka dulu berdebat untuk pacaran. Maksud Naya, kenapa harus pacaran? Sebelum pacaran, mereka sama seperti ini. Setelah pacaran dan beberapa hari setelahnya, minggu demi minggu, bahkan bulan-bulan berikutnya juga sama saja. Tidak ada yang benar-benar berbeda. Mereka seperti dua orang yang memang terbiasa dekat. Naya sedang tidak memikirkan apapun, hanya saja ia bingung kenapa Juna mau banget pacaran.
****
Suatu waktu, sebuah grup yang berisi tiga orang, tetiba penuh dengan rentetan pesan masuk. Gita mengirimkan foto profil whatsapp yang menampilkan Juna sedang merangkul Naya di lapangan UI. Ya. Foto profile Juna.
Gita: [Nayaaa!!!]