Enam bulan berlalu.
Banyak hal yang menyenangkan, tapi tidak sedikit juga yang membuat Naya perlahan merasa lelah. Semakin dalam ia mengenal Juna, semakin sering muncul satu pertanyaan yang tidak benar-benar bisa ia jawab: Bagaimana jika ternyata mereka memang tidak cocok?
Seperti saat siang hari di pertengahan libur semester. Naya dan Juna duduk berhadapan di sebuah tempat makan. Belum juga pesanan datang, Naya sudah lebih dulu menatap Juna dengan satu tujuan yang sejak kemarin selalu tertunda, mana kartu hasil study Juna. Juna menghela napas, mencoba mengulur waktu dengan alasan yang itu-itu saja. Naya tidak mau tahu, ia mau lihat sekarang. Juna pasrah dan menunjukannya. Naya langsung terdiam. Ia tidak kaget karena sudah menduga pasti ada yang tidak beres. Benar saja, IPK Juna 2.68. Juna langsung menyakinkan kalau itu awal yang bagus. Naya kesal karena mereka masih semester satu, apanya yang bagus! Juna langsung terdiam, jujur, ia takut kalau Naya sudah begini. Naya menghela nafas mengingatkan Juna untuk jangan malas masuk kelas! Juna langsung janji akan rajin kelas! Janjiiii!!!!
Memang, Juna selalu ada waktu untuk Naya bahkan untuk sesuatu yang Naya tidak minta. Tapi justru itu yang selalu membuat Naya khawatir dan ternyata benar. Pasti Juna jarang ikut kelas. Makanya nilainya jelek semua.
****
Masih libur semester. Naya, Gita, dan Mira yang baru pulang dari Bandung. Mira kuliahnya memang di Bandung. Mereka bertemu di kafe untuk sekedar mengupdate kehidupan masing-masing. Gita dan Mira penasaran gimana dengan hubungan Naya yang hampir menjelang satu tahun. Seru? Menyenangkan?
"Melelahkan," keluh Naya.
Senyum Gita dan Mira memudar dan saling pandang seakan sudah paham.
"Gapapa Nay, lu kan baru pertama kali pacaran," ucap Mira.
"Bukan gitu," potong Naya "Tapi gak masuk akal aja dia selalu ninggalin kelas buat ketemu gua, ajak makan, atau ikut meeting hima yang hampir setiap hari sampe malem. Makanya dia terlambat terus sampe pindah ke apartment seberang kampus. Akhirnya IPKnya jelek. Pusing."
"Ya kenapa pusing Nay?" tanya Gita "Cowok lu dari SMA kan emang begitu, males belajar."
Naya membenarkan, "Itu kenapa pemikiran kita gak pernah cocok. Gua capek sama dia."
"Tapi lu senang gak sama dia?" tanya Mira.
"Senang!" seru Naya.
"Berarti lu harus terima semua kekurangan dia, termasuk sifat males belajarnya," jelas Gita.
"Itu bisa diubah Git!" protes Naya "Contoh kecilnya, masuk kelas yang cuma duduk dengerin dosen tapi dia lebih milih duduk di taman kampus gua. Ngapain? Tiap malem juga telepon gua yang harusnya dia bisa pakai belajar. Gua pernah temuin dia di ruang hima, gua kira belajar, ternyata tidur!!!!"
"Lu terima Juna sebagai apa si Nay?" tanya Mira "Teman belajar atau teman hidup?"
Naya terdiam.
Lanjut Mira, "Dari cerita lu, lu menganggap Juna masih sebagai temen belajar kaya sekolah dulu. Padahal pacaran itu adalah memiliki teman hidup untuk melakukan banyak hal di dunia ini yang isinya gak cuma belajar, sekolah, kuliah."
"Gua setuju sama Mira," tambah Gita "Lu pernah gak marah karena Juna cuekin lu, atau marah karena Juna mentingin temen daripada lu, atau marah karena Juna gak jemput?"
Naya menggeleng, "Justru gua mau kaya gitu."
"Yehhh," geram Gita dan Mira bersamaan.
Naya meluruskan, "Karena banyak hal penting yang masih bisa dia lakukan dibanding urusin gua."
"Ya karena bagi dia, lu yang paling penting, Naya!" kesal Gita.
Naya terdiam lagi.
"Pertanyaan gua satu Nay," ucap Mira "Seberapa penting Juna buat lu? Gua yakin, pasti lu tahu apa yang harus lu lakukan."
Sepulang dari pertemuan itu di busway dalam perjalanan pulang, Naya membuka pesan Juna yang belum ia balas dari siang. Juna bilang mau kumpul sama hima. Naya langsung balas, ok. Lalu terdiam lagi memikirkan ucapan Mira. Seberapa penting Juna? Naya teringat sejak sekolah Juna selalu menjadi orang mau dekat dengannya. Juna selalu menjadi bagian utama dari setiap kejadian yang Naya alami. Juga, Juna tidak pernah menyerah padanya bahkan sampai saat ini. Maksud Naya, Juna juga sangat penting untuknya. Naya menghela nafas bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia harus merasa tidak nyaman? Apa yang sebenarnya ia harapkan? Naya tidak mau hubungannya berakhir tapi dia juga tidak mau hubungan yang seperti ini. Naya teringat sesuatu. Lalu langsung kirim pesan ke Juna untuk mengabarinya jika sudah selesai kumpul hima, ia mau bicara penting. Naya terdiam, sepertinya ia tahu apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba Juna langsung telepon. Naya langsung angkat, "Halo, Jun!"
****
Naya melakukan diskusi panjang dengan Juna kalau di semester dua nanti ia akan bantu meningkatkan IPK Juna.
Juna langsung menolak. Pertama, mereka beda fakultas, dan ia tidak ingin Naya terbebani karena harus memahami mata kuliahnya. Kedua, kesibukannya di hima mungkin akan semakin padat, bahkan kemungkinan akan membuatnya absen kelas. Juna takut usaha Naya nanti sia-sia. Tapi Naya sudah memikirkan semuanya. Sebelum membicarakan ini, ia sudah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk kekhawatiran Juna. Naya tetap mau bantu. Silahkan, Juna fokus hima. Untuk tugas, rangkuman, catatan, biar dia yang kerjakan. Kalau Juna tidak bisa masuk kelas, cari orang lain untuk membantunya titip absen. Banyak kok yang melakukan itu. Lalu, setiap hari mereka wajib ketemu minimal satu jam untuk belajar.
Juna terdiam, masih ragu.
Sampai akhirnya Naya merengek, memaksanya setuju karena dulu mereka pernah begini dan berhasil kannn. Juna langsung menenangkan Naya karena berisik. Bukannya apa, beberapa orang di kafe jadi memandangi mereka.
"Kalo IPK kamu bisa tiga. Kamu minta apa aja, aku turutin," ucap Naya.
Juna terdiam memandang Naya lalu tersenyum, "Beneran apa aja?"
Naya tetiba jadi canggung. Entah kenapa ia menangkap maksud Juna berbeda.
"Iya, tapi yang sewajarnya," ralat Naya.
"Kalo kita liburan berdua wajar gak?" tanya Juna.
"Aku pikir-pikir dulu."
"Kan kamu bilang apa aja. Aku mau kita liburan berdua."
"Yaudah IPK kamu harus tiga."
"Iya, bisa! janji ya liburan berdua?" Juna ulurkan tangannya.
Naya berdehem memegang tangan Juna. Juna langsung tersenyum menyakinkan kalau ia jadi semangat belajar sekarang. Naya ketawa menyarkas, kita lihat berapa jam semangat Juna bisa bertahan. Juna langsung ketawa menilai Naya memang sangat memahaminya.
****
Memasuki masa perkuliahan semester dua.
Naya jadi rutin cek dan mengingatkan jadwal kelas Juna setiap hari. Juna sih senang-senang aja meresponnya. Kapan lagi Naya jadi rajin chat. Biasanya belajar terus. Tidak hanya itu, Naya juga mengingatkan untuk Juna harus kirim foto selfie begitu sampai kelas sesuai yang sudah mereka sepakati.
"Jangankan foto, kamu mau minta apapun, aku kasih sekarang juga," ucap Juna di telepon saat sudah sampai di kelas.
Naya yang sudah di kelasnya juga tersenyum, "Aku cuma mau kita liburan berdua, sayang."
Juna langsung ketawa, satu kelas langsung memandanginya tapi Juna bodo amat karena akhirnya Naya menyebutnya sayang.
"Iya, sayang. Aku usahain banget kita akan liburan," yakin Juna "Aku akan kerja keras demi kamu, benaran."
Naya langsung ketawa, satu kelas sampai memandanginya tapi biarlah, ia sedang senang banget.
Senang, karena Juna beneran jadi semangat di semester ini. Naya pun juga tidak mau membuat Juna jadi tertekan atau terbebani. Cukup jaman sekolah aja. Untuk itu, di semester ini Naya akan berusaha menyenangkan Juna juga. Sebisa mungkin ia juga mengikuti apa yang selama ini Juna mau. Salah satunya adalah penggunaaan kata sayang. Dulu, Juna pernah mempermasalahkan hal ini. Dia pernah tanya, sebenarnya Naya sayang padanya atau tidak. Lalu, Naya mengangguk. Juna kesal karena Naya tidak jawab. Naya juga kesal karena ia mengangguk, itu jawaban. Juna semakin kesal, mana sayangnya?!!!! Sampai situ, Naya paham begitu pentingnya kata sayang bagi Juna. Hanya saja Naya memang tidak terbiasa untuk mengucapkannya. Mungkin, ini saatnya ia harus membiasakan diri karena selain Juna memang kesayangannya, Naya juga merasa lucu jika mengatakannya.
"Jangan lupa kelas ya, sayang."