Seperti biasa, Juna kembali menempuh jarak dari apartment ke rumah Naya untuk menjemput ke kampus. Jauh, memang. Tapi tidak merepotkan. Sejak dulu, ada rasa yang selalu sama. Rasa yang membuat perjalanan itu selalu layak untuk ditempuh. Duduk berdua di atas motor bersama Naya, menikmati udara dengan berbagai obrolan sederhana telah menjadi rutinitas berulang yang tidak pernah bosan Juna lakukan.
Begitupun dengan Naya, ia jadi merasa semuanya jauh lebih ringan. Kecemasan yang dulu sempat mengganggu tentang hubungan mereka, tentang kemungkinan yang tidak pasti, kini terasa lebih seperti sisa-sisa adaptasi dari satu tahun yang telah mereka lewati. Perlahan, semuanya menjadi lebih tenang. Bahkan, tanpa ia sadari, ia mulai menantikan pagi-pagi seperti ini. Menantikan Juna datang, menantikan perjalanan singkat yang rasanya sangat berarti.
Begitu sampai di kampus FMIPA, Naya turun, tersenyum dan memegang tangan Juna.
"Semangat yah sayang hari ini," ucap Naya.
Juna tersenyum, "Kamu juga, sayang."
"Jangan lupa kelas. Kalo gak bisa ikut, langsung cari temen kamu aja buat absen. Kan temen kamu banyak."
"Iya, pasti. Kan aku janji kita mau liburan."
Naya ketawa.
Lanjut Juna, "Jadi aku akan rajin kelas, rajin belajar sama kamu, kalo ada tugas aku akan minta bantuan kamu, kalo ada quiz aku akan nyontek."
Senyum Naya memudar, "Ya jangan nyontek juga Jun."
"Daripada gak aku isi."
"Iya juga sih, ha ha ha."
Mereka mengakhiri perbincangan itu dengan saling melempar pernyataan saling menyanyangi satu sama lain. Juna langsung lajukan motor dengan semangat menuju kampusnya.
Begitu sampai di kelas, tetiba Abel datang menghampiri Juna dengan heboh.
"Jun, Jun, ada orang mau tawarin sponsor buat konser jazz."
Juna mengangguk paham, "Sponsor apa?"
"Rokok."
Juna kaget, "Eh, serius lu?"
Abel mengangguk, "Serius Jun! Mereka sekarang ada disini, mau ajak kita diskusi. Lu tahu kan, rokok itu sponsornya gede."
"Yaudah Bel, ayo temuin bentar!" Juna langsung beranjak lari keluar kelas bersama Abel, panitia sponsorship acara konser yang dikepalai oleh Juna.
Mereka ketemu pihak sponsor rokok dan melakukan diskusi yang lumayan alot. Nominal yang ditawarkan lumayan besar dengan kerjasama bahwa mereka dapat mendirikan booth rokok di area kampus. Juna dan tim hima keberatan karena kampus melarang penjualan rokok di area kampus.
"Kalau jual di luar kampus aja gimana?" tanya Juna pada semuanya.
"Eh, jual di wazbiqa aja gak sih?" antusias Abel.
Semua memandang Abel. Wazbiqa itu sejenis club malam 15 menit dari kampus.
Lanjut Abel, "Am, disitu kan udah pasti jual rokok, isinya juga banyak anak kampus. Kita sekalian nongkrong aja jual disana. Apalagi makin tengah malem, makin ramai."
"Bener lu bel, oke jual disana?" tanya Rudi.
"Bener!" yakin Abel "Gua sering kesana."
"Itu ide yang bagus sih," ucap pihak sponsor "Beberapa kampus yang kerjasama dengan kita juga ngakalinnya kaya gitu sih kak, jualan di luar kampus, cuannya gede banget."
"Yaudah, kita ambil kerjasamanya!" ucap Juna yakin "Deal!!!"
Diskusi dadakan sponsor itu selesai dan Juna lupa ada kelas karena memang setara dengan tiga sks. Tapi gapapa, baru sekali.
"Gua yakin Jun, pasti konser jazz nanti sukses besar, secara kita datengin HER gilaaa!!!" senang Abel saat jalan di koridor bersama Juna.
Juna ketawa, "Bener Bel. Jual rokok tuh gampang, kita sering-sering nongkrong aja. Apalagi di wasbiqa."
Abel sangat setuju lalu ia terdiam memandang Juna di sampingnya. Abel ragu tapi akhirnya ia beranikan juga bilang hal ini.
"Am, makan yuk--"
"Eh bentar Bel. Gua mau telepon Naya."
Juna langsung melipir ke pinggir dan langsung telepon Naya karena ia baca pesan dari Naya yang bilang perutnya sakit. Bahkan, Juna meminta Abel yang menunggunya untuk pergi duluan aja karena ia mau ke Naya. Abel terdiam lalu tersenyum mengangguk lalu pergi. Akhirnya Juna ke kampus Naya karena Naya ajak makan.
Sepanjang makan di kantin FMIPA. Naya mengeluh semester empat ini dosen-dosennya kurang enak. Juna mendengarkan saja karena sebenarnya ia sedang memikirkan hal lain yang ada kaitannya dengan Naya. Juna ragu, apakah ia harus bilang tentang sponsor rokoknya itu? Tapi kalau Naya tahu dimana dan jam berapa ia akan jualan, pasti tidak akan setuju dan marah karena Juna tetap akan melakukannya.
"Jun!" panggil Naya karena Juna memandanginya terus.
"Eh, iya Nay."
"Kamu lagi kenapa?"
Juna menggeleng dan melanjutkan makan, "Gapapa."
Naya bingung, "Ada masalah yah?"
"Gak ada," tawa Juna "Eh, ada deh Nay. Kayanya aku akan sering minta bantuan kamu deh."
Naya mengangguk antusias, "Iya gapapa, aku seneng bantu kamu."
"Jadi, acara aku kan 3 bulan lagi yah. Masih kurang dana. Aku akan sering cari dan ketemu sponsor. Jadi aku akan sering repotin kamu untuk bantuin tugas-tugas aku. Kamu kerjain di apartment aja, gapapa. Dan, kemungkinan aku juga gak bisa setiap hari belajar sama kamu. Gapapa kan ya? Tapi aku janji bisa saat ujian nanti, kamu tenang aja."
Naya terdiam karena sebenarnya mau ia protes pun, acara itu tetap harus dilakukan apalagi membawa nama kampus dan Juna sebagai ketua pelaksananya. Pasti gak gampang. Naya langsung paham dan sekali lagi menyakinkan kalau ia senang membantu Juna. Juna langsung tersenyum. Entahlah lebih baik jangan bahas rokok-rokokan, Naya juga tidak akan ngerti.
****
Hari-hari berjalan, Naya tidak sangka kalau Juna memang akan sesibuk ini cari dana. Pesan-pesannya selalu lama dibalas. Mungkin karena Juna selalu cepat membalas pesannya, jadi ia tidak terbiasa dengan perubahan sepele seperti ini. Pernah suatu waktu, Naya datangi kampus Juna untuk memberikan makan yang sengaja ia beli. Namun, sampai sana Juna mau pergi ketemu vendor panggung acaranya yang akan mulai dua bulan lagi. Naya paham karena Juna kan sudah mengabarinya akan pergi.
"Gapapa, aku mau antar makan aja," Naya beri makanan itu.
Sementara Rudi meminta mereka segera berangkat karena macet. Juna semakin tidak enak karena Naya baru datang.
"Maaf yah Nay, aku tinggal dulu, udah ditungguin."
"Iya gapapa Jun," tawa Naya "Am, aku ke apartment kamu aja yah, mau nunggu kelas."
"Yaudah, aku antar kamu dulu yuk."
"Eh, gak usah Jun, gapapa, udah sana pergi. Dadah!" Naya yang akhirnya langsung pergi.
Di mobil, Juna langsung makan makanan dari Naya karena ia memang belum makan. Lalu minta tissue. Rudi yang sedang menyetir arahkan di dasboard. Juna buka, tapi bagaimana kalau yang ia temukan bukan tissue kering tapi tissue magic dan kontrasepsi.
Juna langsung ketawa, "Lengkap juga persiapan lu Rud."
Rudi menoleh dan ketawa, "Sedia payung sebelum hujan lah."
"Sering lu ya sama cewek lu?" tanya Juna.
"Yoi! Goyangan astrid enak banget asli!"
Juna semakin ketawa, "Gila, gila!"
"Kaya lu gak gila aja."
"Enggaklah. Hubungan gua sama Naya itu sehat banget."
"Ah, gak seru lu! Coba dulu Jun, enak banget, sumpah."
"Gua udah pernah coba."
"Terus gimana?"
"Dia langsung meleos, gak mau."
Rudi langsung ketawa, "Berarti lu gak pernah dong?"
"Enggak sih."
"Terus lu kalo lagi pengen, gimana?"
"Gua shalat."
"Asikkkk, ha ha ha!"
Juna juga ketawa, "Gak lah, gua gak sesuci itu. Tapi, gua ke Naya itu lebih pengen dia cukup ada dan deket gua aja. Kejadian waktu itu pun dia bilang kalau dia gak bisa dan gak mau kaya gitu. Gua pun ngerti dan gak maksa, jadi gua gak akan lakuin itu lagi sama dia."
"Terus sama siapa lu lakuin? cewek lain?"
"Enggaklah gila!"
Rudi langsung ketawa. Juna juga ketawa. Obrolan laki-laki pada umumnya yang memang tidak bisa Juna hindari tapi juga tidak tabu.
****