Acara festival musik jazz selesai dengan memuaskan. Kredibilitas Juna sebagai ketua pelaksana diacungkan jempol oleh seluruh bagian kampus. Nama Juna semakin terkenal apalagi ia direncanakan akan menjadi kandidat terkuat ketua bem selanjutnya. Juna semakin semangat dan mempertaruhkan seluruh usahanya untuk rencana tersebut.
Hal itu membuat jadwal Juna ikut berubah. Kesibukan jadi lebih padat. Bahkan ia jadi lebih sering nongkrong dengan berbagai orang di setiap fakultas dan itu terjadi setiap waktu. Hari-harinya selalu penuh hanya dengan kuliah dan rapat. Sampai membuatnya lagi-lagi harus membatalkan jalan dengan Naya. Tidak bisa makan dengan Naya. Tidak sempat jemput atau antar Naya. Dibagian itu Naya masih tidak apa-apa tapi bagaimana jika respon Juna juga ikut berubah. Juna lama merespon pesan-pesannya. Jarang mengabari atau meneleponnya.
"Gak bisa lagi yah?" tanya Naya menerima telepon Juna yang bilang kalau mereka tidak jadi pergi makan.
"Aku mau pergi ke FT, Nay. Mau makan disana aja gak?"
"Oh, gak usah lah, Jun. Gapapa aku makan di kantin aja."
"Yaudah, maaf yah Nay."
"Iya."
Panggilan berakhir. Naya terdiam menghela nafas.
Suatu waktu, langit sudah hampir gelap. Katanya Juna mau antar pulang. Itu kenapa saat kelas selesai, Naya buru-buru keluar kelas dan langsung senang begitu lihat Juna sudah ada di parkiran kampusnya. Naya langsung lari menghampiri. Akhirnya!
"Makan dulu ya," ajak Naya.
"Makan dimana?"
"Bebas, dimana aja."
"Tapi aku gak bisa lama-lama Nay, nanti jam tujuh diajak rapat sama alumni bem."
"Oh kamu masih ada kegiatan? aku kira udah kosong."
"Iya, soalnya mau pemilu raya."
Juna memang pernah cerita kalau ia resmi dijadikan kandidat calon ketua bem.
Naya bilang, "Atau aku pulang sendiri ajalah, gapapa."
"Ya jangan gitu, kan mau pulang bareng, Nay."
"Soalnya jalanan pasti macet. Nanti kamu balik kesini kemaleman. Gapapa Jun, aku pulang naik busway aja yah."
"Gapapa?" ragu Juna.
Naya tersenyum mengangguk. Lalu naik ke motor minta Juna antar dia ke halte aja. Juna tersenyum senang, ayo.
****
Suatu waktu di malam hari saat sedang belajar di kamarnya. Handphone Naya berbunyi. Ia lihat, Juna menelepon. Naya langsung angkat.
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Juna.
"Lagi belajar, kamu?"
"Lagi kumpul hima. Aku mau minta tolong buatin tugas, soalnya besok di kumpul, bisa sayang?"
Naya terdiam. Sekalinya telepon, minta tolong buatin tugas.
"Iya, bisa, kirim aja yah, sayang."
"Besok berangkat kampus bareng aku yah. Aku jemput."
"Oke. Kamu jangan pulang malem-malem yah, kabarin aku kalo udah selesai kumpul."
"Iya sayang, makasih yah, I love you." panggilan berakhir.
Tok! Tok! Tok!
"Mba Nayaaa, Bibi masuk yah."
Naya noleh, Bi Imah buka pintu langsung masuk dengan ekspresi kebingungan. Naya juga jadi bingung.
"Kenapa Bi?"
"Itu Mba, ada bapak di bawah."
Naya langsung terdiam.
"Papa Bi?" ragu Naya.
Bibi mengangguk, "Iya Mba. Bibi udah kasih tahu Ibu juga. Bapak nanya Mba."
Naya tetiba jadi gemetar sendiri dan meminta Bi Imah keluar, "Bilang aja gak ada."
Naya langsung tutup dan kunci pintu. Naya tetiba merasa lemas, jadi tersungkur di pintu. Naya berusaha mencerna semuanya. Ia sangat kaget tapi juga bercampur bingung. Papanya datang. Papa yang pernah meninggalkannya, datang. Ada apa ini. Kenapa tiba-tiba. Naya bahkan sudah lupa bentuk wajahnya bukan karena ia tidak ingat tapi karena dia berusaha melupakan kejadian tiga belas tahun yang lalu itu. Entah kenapa matanya menjadi sangat panas. Naya berusaha menenangkan dirinya namun sulit. Apalagi saat Mamanya pulang, tidak lama Naya terkejut mendengar keributan oleh keduanya. Suara teriakan yang sangat mengganggu dari kecil.
Besoknya, Naya pergi ke kampus sendiri naik busway. Pertama, Juna tidak ada kabar bahkan sejak terakhir mengirim tugas. Kedua, Juna tidak ada di portal saat Naya tiba. Beberapa menit Naya tunggu dan hubungi juga tidak ada respon. Naya menghela nafas kesal apalagi sampai kampus, Juna baru telepon. Ia sedang malas mengangkat tapi ia lebih malas lagi kalau ribut.
"Halo?" ucap Naya.
"Nay, aku tidur di kost temen, semalem bergadang karena rapat kabinet, jadi kesiangan."
"Iya, aku udah sampe kampus juga. Aku mau kelas dulu yah."
Naya langsung akhiri panggilan dengan kesal. Kesal banget.
Naya mengikuti kelas dengan pikiran yang sangat mengganggu. Menyebalkannya adalah itu tentang Papanya. Selesai kelas, Naya keluar dan melihat Juna sudah duduk di kursi taman kampusnya. Naya sebenarnya malas menemui tapi sudah datang jadi ia hampiri.
"Jun," Naya sampai.
"Eh, sayang. Udah kelas?"
Naya terdiam memandang Juna yang nampak lusuh dan tidak bersemangat.
Naya pegang dahi Juna, "Kamu sakit?"
Juna tersenyum, "Enggak."
"Kenapa lemes banget?"
"Aku kurang tidur."
Kekesalan Naya mereda dan langsung ajak Juna makan. Di kantin, Naya membahas kerisauannya dengan organisasi Juna.
"Kalau terlalu berat, gak perlu diikutin Jun," ucap Naya.
"Aku kan mau jadi ketua bem."
"Tapi emang harus setiap hari setiap malem ya rapatnya?"
"Ya kan yang dibahas banyak."
"Aku bukannya gak suka sama Bem kamu, tapi ini aneh."
"Makanya kamu masuk bem, biar tahu."
Naya terdiam, ia juga paham itu.
"Tapi kamu juga harus jaga kesehatan Jun," cemas Naya.
Juna terdiam sesaat sambil memainkan sendoknya.
"Aku minta maaf yah, Nay."