Jam dinding di sudut kafe itu hampir menunjuk pukul sembilan malam namun suasana masih ramai oleh para pengunjung. Tapi tidak pada salah satu meja dekat jendela. Naya nampak tenang duduk seorang diri bertemankan buku-buku dihadapannya. Buku yang sama sekali tidak ada di mata kuliahnya tapi ia harus pahami satu per satu babnya. Buku hukum perdata sengketa kepemilikan rumah. Walaupun Mamanya melarangnya ikut campur tapi Naya tidak bisa masa bodo saat hampir setiap hari melihat Mamanya berhadapan dengan Papanya dan dua kuasa hukumnya itu.
Keyakinannya sudah bulat, ia akan cari cara agar Mamanya bisa menang. Walaupun sebenarnya Naya juga tidak yakin. Karena dari semua buku hukum yang ia baca, isinya selalu sama: "Dalam hukum perdata, pemilik rumah yang sah adalah nama di sertifikat. Biaya bangun atau renovasi dari pihak lain tidak membuat jadi pemilik tanpa dokumen perjanjian, dan hanya dianggap sebagai bantuan."
Naya pernah tanya dokumen perjanjian yang dimaksud, tapi Mamanya menggeleng tidak ada. Naya frustasi. Maksud Naya, jika memang bukan milik, kenapa tidak pergi saja dari awal?!!!
Akhirnya beginilah Naya, hari-hari ia gunakan untuk memahami perkara rumahnya. Ia bahkan tidak punya banyak teman dari fakultas manapun seperti Juna. Jadi ia kesulitan mau tanya hal ini ke mahasiswa fakultas hukum.
Ponselnya tetiba bergetar. Orang yang sedang ia pikirkan, muncul. Naya angkat telepon Juna.
"Halo, sayang. Aku emang lagi gak ada tugas," ucap Juna menjawab pertanyaan Naya di chat, ada tugas nggak?
"Kamu gak kelas lagi ya?" curiga Naya.
"Kelas. Tanya aja si Rudi."
"Aku cuma tanya aja. Biasanya kan kan kamu kirim tugas. Ini udah beberapa hari gak kirim."
Juna terdiam, sebenarnya ada tapi ia memang tidak berikan ke Naya lagi.
"Iya, lagi gak ada, Nay."
"Pokoknya awas yah nilai kamu turun semester ini."
"Iya, enggak," yakin Juna "Kan aku janji kita mau liburan."
Naya terdiam lalu tersenyum dan mau bilang tidak sabar liburan tapi suaranya bertabrakan dengan pelayan kafe yang memanggil pemesan makanan. Mendengar itu, Juna jadi bingung.
"Ini kamu lagi dimana?" tanya Juna.
"Kafe," jawab Naya santai "Aku gak sabar deh mau liburan."
"Sama siapa?"
"Sama kamu."
"Kamu di kafe sama siapa? ngapain?"
Naya mau bilang sendiri tapi melihat buku-buku dihadapannya, ia tidak yakin. Naya takut Juna akan datang kalau ia pergi sendiri. Biasanya gitu.
"Sama Mamaku," ragu Naya.
"Tumben bisa teleponan ada Mama kamu?"
Deg. Naya panik. Bener lagi.
"Mamaku lagi di wc," gugup Naya "Makanya bisa angkat telepon."
"Iya, aku cuma nanya aja. Besok pagi aku jemput ya berangkat kampus."
"Ah, nanti gak dateng."
"Dateng, janji. Ini kamu di kafe lagi ngapain?"
Naya tetiba panik lagi, "Eh, Mamaku udah dateng Jun, udah dulu yah, dah," Naya langsung akhiri dan menghela nafas lega.
Sementara di ruang bem, Juna juga menghela nafas setelah teleponnya Naya akhiri karena ada Mamanya. Juna merasa kaya pacaran sama anak SD. Lalu ia semakin menghela nafas begitu melihat buku-buku tugas di hadapannya. Juna langsung kerjakan lagi sebisa mungkin. Ya. Juna memutuskan untuk tidak minta bantuan Naya lagi karena rasanya keterlaluan saja kalau ia tetap minta Naya kerjakan tugasnya disaat ia sendiri tidak bisa selalu ada. Tetiba pintu ruang bem terbuka, Juna langsung noleh.
"Hai, Jun!" sapa Abel masuk.
"Hey," sapa Juna juga. Lalu keduanya tersenyum.
****
Pagi hari begitu sampai di portal komplek rumah. Naya hanya bisa terdiam begitu melihat Juna belum ada atau tidak akan ada? Mana katanya mau jemput! Gerutu Naya langsung jalan ke halte busway. Baru kali ini ia merasa sangat kesal tapi bukan karena tidak dijemput lagi tapi karena kaya dipermainkan. Sesampainya di kampus, Naya dikagetkan oleh Ruben yang tetiba muncul.
"Pagi Nay!"
Naya kaget tapi tidak berekspresi saja. Dan Ruben peka.
"Eh, kenapa? ceria banget kayanya."
"Kalo lu gak jadi jemput Gita, lu kabarin dia gak?"
Ruben semakin bingung, "Am, kabarin lah. Biar dia gak nunggu."
"Maksud gua gitu Ben!" kesal Naya langsung jalan lagi. Ruben langsung paham dan mengikuti.
"Juna gak jemput lu yah?" tanya Ruben.
"Iya dan udah sering kali kaya gini," entah kenapa Naya jadi sedih banget "Maksud gua, gak usah janjiin sesuatu yang gak bisa dia lakuin. Jadi gua gak akan nunggu."
"Putusin aja Nay."
Naya noleh.
"Gua bukannya gak dukung," ucap Ruben "Tapi selama gua perhatiin, gua ngerasa cuma lu yang ada di hubungan ini."