Siang itu, perpustakaan kampus yang biasanya tenang justru terasa menekan. Naya duduk diam di salah satu meja, menatap selembar kertas di depannya. Tangannya dingin. Ujung jarinya sedikit bergetar. Bagaimana tidak, matanya terus memandang kertas quiz miliknya yang bernilai D. Sekali lagi, nilainya D!!!!!
Naya menarik napas pelan, lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia memejamkan mata, menahan sesuatu yang hampir runtuh. Tapi tidak lama, Naya langsung bangun. Tidak di tempat ini. Tidak sekarang. Tapi ia juga bingung harus apa dengan kertas yang sangat menampar harga dirinya itu. Hasil quiz yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencengkram kertasnya. Ini semua gara-gara Papanya! Jam belajarnya jadi berantakan dan ia tidak fokus pada ujian. Mata Naya menjadi sangat panas menahan bulir-bulir tipis yang memenuhi pandangannya.
“Nay!!!”
Naya refleks menyembunyikan kertas itu ke bawah meja. Jantungnya berdegup cepat saat melihat Juna sudah duduk di hadapannya, menatapnya tanpa senyum.
"Kamu kemana aja?!" tanya Juna dingin "Chat, telepon, semuanya gak ada yang kamu bales."
"Am, aku, aku gak ada waktu."
Juna terkekeh kesal, "Emang kamu ngapain aja?! Aku sampe lupa kalo kita masih pacaran, Nay."
Naya terdiam. Dadanya jadi sesak. Rasanya ia semakin mau nangis, "Yaudah, putus aja kalo udah lupa."
"Ya gak putus juga," kesal Juna "Aku bingung kalau kamu begini. Berhari-hari gak ada kabar. Kalo kamu sibuk, aku juga sibuk tapi aku selalu punya waktu buat kabarin kamu."
Naya tidak menjawab walaupun ia ingin bicara. Tapi kepalanya terlalu penuh. Dadanya terlalu sesak. Juna terdiam melihat itu. Kekesalan pun mereda karena merasakan sepertinya Naya sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia tidak tahu kenapa. Juna menghela nafas karena dibanding ia tanya, ia sangat berharap Naya bisa cerita sendiri padanya.
Naya menoleh, "Yaudah, aku minta maaf."
Juna berdiri, "Kamu udah gak ada kelaskan? Kita kemana yuk."
"Aku gak bisa, kamu duluan aja."
"Kamu kenapa sih!" bentak Juna.
Semua orang langsung memandang mereka. Naya pun sangat kaget sampai airmatanya tetiba keluar tapi buru-buru langsung ia hapus.
"Ayo pergi!" ucap Juna bingung dan kesal bercampuran.
"Yaudah, ayo!" Naya langsung berdiri lalu jalan pergi duluan karena malu.
Juna langsung mengejar dan jadi sangat bingung karena Naya terus jalan sambil terisak dan menangis. Juna berusaha meluruskan sikapnya tadi karena bingung kenapa sikap Naya jadi begini? Apa ia buat salah lagi? Naya tetap jalan saja mengabaikan. Juna benar-benar lelah. Ia tanya lagi, Apa Naya benar-benar mau putus?
Langkah Naya terhenti dan memperlihatkan kertas quiznya pada Juna.
"Nilai aku D!!!" kesal Naya sambil terisak.
Juna kaget tidak percaya. Ha?! Kok bisa?!!
Naya semakin terisak, "Padahal aku belajar setiap malem. Tapi soalnya emang susah. Dosennya juga pelit. Terus kamu marah-marahhh!!!"
Naya langsung duduk menutup wajahnya sambil menangis. Juna jadi panik dan duduk menenangkan. Jujur, Juna masih tidak percaya juga Naya dapet D? Sebuah tiga kata yang sangat lucu. Naya dapat D??? Kalau boleh ketawa, mungkin Juna sudah ketawa paling kencang.
Juna ajak Naya ke apartmentnya. Naya mengangguk setuju karena suasana hatinya benar-benar sedang kacau.
Begitu sampai. Naya hanya duduk dan terus diam. Juna yang sedang siapin makanan terus memperhatikan saja. Sebenarnya ia malas jika dengar tentang ujian dan nilai. Tapi kali ini, Naya benar-benar sedang terpuruk. Lihat saja pandangannya. Seperti tidak ada semangat hidup. Juna antar makanan ke meja ruang tengah memberikannya ke Naya.
"Kamu, makan dulu."
Naya ambil, "Makasih."
"Aku gak tahu sesusah apa pelajaran kamu, sampe chat aku gak kamu buka."
"Iya, aku buka buku terus."
Juna mau protes karena tidak percaya tapi dia adalah Naya. Bisa aja begitu.
Lanjut Juna, "Lain kali buka aja walaupun gak sempet bales."
"Kalo aku gak ada kabar, pasti aku sibuk belajar."
"Pentingan mana aku atau belajar?" Juna berusaha mencairkan suasana.
"Belajar lah."
"Belajar bisa kapan aja."
"Sekarang aku tanya kamu," potong Naya "Pentingan mana aku atau bem?"
Juna diam.
Lanjut Naya, "Kamu juga sering nongkrong, rapat bem, aku gak pernah permasalahin."
"Kan karena mau ada pemilu raya."
"Aku juga mau ada UAS."
"Ya emang kamu doang yang mau UAS?"
Naya diam.
"Aku cuma minta kabar aja Nay. Aku cuma mau tau kamu baik-baik aja atau nggak."
Deg. Naya memandang Juna.
Juna senderkan kepalanya ke sofa mereka duduk, menghela nafas, "Aku takut kamu kenapa-kenapa kalau gak ada kabar."
Naya mau nangis lihat Juna.
Juna memandang Naya lalu meraih tangan Naya "Udah, gapapa."
Tetiba Naya terisak, "Yaudah, aku kan udah minta maaf, Jun."
Juna jadi ketawa melihat itu.
"Eh, Nay, udah jangan nangis terus. Kan aku bilang juga gapapa."
"Aku lagi sedih banget, kamu bahas chat terus."
"Ha ha ha, ya kamu gak bales chat aku. Maksud aku, senang sedih kabarin. Kan aku gak tau mata kuliah kamu, dosen kamu, keadaan kamu, gimana aku bisa tau kalo kamu gak bilang."
Naya semakin terisak, "Udahlah Jun, jangan peduliin aku."
Juna semakin ketawa, "Gimana jangan peduli, aku kan pacar kamu."
Naya masih terisak.
Juna membuka lebar tangannya, "Sini, aku peluk."
Naya menggeleng.
Juna tersenyum langsung memeluk Naya yang tidak menghindar juga.
"Udah, udah, aku yang salah," ucap Juna mengusap punggung Naya.