[2] Bintang Di Langit Abu-Abu

kound
Chapter #10

Liburan

Memasuki liburan semester tiga.

Teras rumah Juna malam begitu sangat ramai. Tas-tas carrier terbuka, perlengkapan berserakan, suara plastik, kotak-kotak makanan, dan tawa bercampur jadi satu. Juna berdiri di tengah semuanya, seperti seorang komandan yang tidak sah. Tangannya bergerak cepat, matanya menyapu satu per satu isi tas. Bagkan Juna langsung cek untuk kedua kalinya. Ia tidak benar-benar percaya. Satu per satu ia pastikan, merapikan, bahkan marah karena temannya menyusun barang sangat berantakan. Juna membetulkan susuannya. Semua langsung ketawa saling menyalahkan. Tapi tidak pada satu orang yang duduk dekat pintu. Rudi hanya diam memperhatikan Juna saja.

“Jangan sampe ada yang ketinggal,” kata Juna "Atau sampe gunung, kita tinggal kalo ada yang lupa."

Tawa langsung pecah. Bukan ancaman, tapi cukup untuk bikin semua orang refleks ngecek ulang tas masing-masing. Malam makin larut, tapi energi mereka masih menggebu apalagi Juna yang terus melontarkan obrolan tidak jelas dan tidak penting. Suara ketawa mereka juga penuh dari lelucon yang bahkan tidak lucu.

"Jun, udah, tidur Jun, berisik lu," ucap Rudi yang memang sudah rebahan dan terpejam.

Ketawanya Juna memudar dan membubarkan perkumpulan karena jam juga sudah menunjuk pukul 1 dini hari. Mereka tidak boleh terlambat besok. Jadi, ayo tidur!! Ayooo!!!!!!!!

Rudi mengernyit lagi-lagi keberisikan. Ia bukannya terganggu, hanya saja ia tidak nyaman melihat Juna yang terlalu memaksakan semangat padahal baru putus. Sejak Juna ajak mereka semua naik gunung dua hari yang lalu, bahkan sudah beliin tiketnya saja, Rudi sudah yakin Juna lagi gak baik-baik saja. Lalu, sekarang jadi orang super sibuk dan paling ramai. Rudi sangat tidak nyaman tapi ia juga paham apa yang Juna sedang rasakan. Jadi biarinlah, ikutin aja coba.


****


Bi Imah mulai sadar ada yang tidak beres sejak ia perhatikan setiap hari Naya hanya bangun, duduk, melamun, lalu kembali tidur di kamar. Jarang turun makan. Sekalinya, di bawakan makanan, justru tidak dimakan. Di tanya pun, hanya menggeleng tidak apa-apa. Bi Imah sangat paham, tidak apa-apa Naya pasti sedang kenapa-kenapa. Bi Imah sangat sedih jika Naya sudah begini. Masalahnya, sejak kecil hidup Naya sudah terlalu keras, ia tidak pernah benar-benar bisa menyampaikan apa yang dialami termasuk kesedihannya. Bi Imah yakin saat ini pun pasti sedang begitu.

Sampai akhirnya, kekhawatiran itu tidak bisa lagi disimpan sendiri. Bi Imah menahan langkah Mama Naya yang terlihat sedang buru-buru mau pergi. Menyampaikan apa yang terjadi pada Naya. Mama Naya terdiam, bahkan ia tidak tahu kalau Bi Imah tidak beri tahu. Iya. Akhir-akhir ini ia sedang disibukkan oleh persidangan sengketa rumah yang belum juga menemukan titik terang. Setiap hari dipenuhi dokumen, pertemuan dengan pengacara, dan keputusan-keputusan yang tidak bisa ditunda. Mendengar tentang Naya, tentu ia khawatir. Tapi ada hal lain yang juga tidak kalah penting, sesuatu yang menyangkut masa depan mereka.

“Bi, tolong perhatiin aja ya. Kalau dia aneh-aneh, langsung kasih tahu saya."

Hanya itu.

"Am, Ibu gak mau temui dan tanya kondisi Mba Naya dulu?" tanya Bi Imah.

"Nanti Bi. Pagi ini kan sidang rumah dimulai, saya buru-buru."

Mama Naya jadi pusing memikirkan sesuatu lalu menghela nafas.

"Biarin dulu aja dia kaya gini, daripada ikut campur. Saya pergi dulu yah Bi," Mama Naya bergegas jalan keluar.


Matahari tampak terang di jam satu siang. Entah sudah hari ke berapa yang Naya habiskan hanya untuk tenggelam di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya tanpa benar-benar melihat apa-apa. Tubuhnya tidak sakit tapi ia juga tidak punya alasan untuk bangun.

[Kali ini IPK aku pasti naik Nay, aku janji. Kali ini kita pasti liburan.]

Suara Juna terlintas lagi.

Harusnya mereka sedang pergi liburan berdua. Pasti Naya sedang dibuat kesal karena Juna datangnya terlambat dengan alasan yang itu-itu saja, rapat bem. Naya menghapus airmata yang lagi-lagi jatuh tanpa diminta. Ia lelah. Bukan cuma karena menangis, tapi karena harus mengulang hal yang sama setiap hari, mengingat lalu mencoba melupakan, Juna.

Masalahnya, terlalu banyak kejadian antara mereka dan Naya bingung harus apa dengan semuanya. Ia menarik selimut lebih tinggi sampai menutup wajahnya, lalu memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Hanya untuk lagi-lagi menghentikan pikirannya yang terus tertuju pada Juna. Naya tidak tahu bagaimana harus menjalani hari-hari setelah ini. Kalau bisa, ia ingin waktu berhenti saja di sini.

KLEK! pintu kamar Naya tetiba terbuka.

"NAYAAAAA!!!!!" Gita dan Mira tetiba masuk.

Mata Naya langsung terbuka bahkan melotot kaget, kok bisa mereka berdua datang?!!

Gita langsung tarik selimut Naya, "Gini hari belum bangun, mau jadi apa lu Nay?!"

Naya tarik selimut lagi, "Gua mau tidur siang, ngantuk."

"Terus kita berdua udah dateng kesini, lu tetep mau tidur siang?" tanya Mira.

Gita heran, "Bi Imah bilang lu tidur mulu kaya putri salju."

Naya tidak jawab. Dia malah makin menggulung diri dengan selimutnya sampai mirip kepompong. Melihat itu, Gita dan Mira saling memandang dengan tatapan yakin, singkron, mantap.

"Tarik?"

"Tarik!"

Mereka berdua langsung nyerbu selimut itu lagi.

SRET!!! Tapi kali ini Naya udah siap. Dia nahan selimutnya pake seluruh tenaga. Gita dan Mira kaget dan tetap tarik juga dan Naya tetap terus tahan.

"POKOKNYA LU HARUS BANGUN NAY!!" Gita kerepotan.

"LEPASIN WOOOOI!" Mira ikut narik.

"GAK MAU!!!" Naya teriak balik sambil nahan mati-matian.

Adegan berubah jadi tarik tambang di atas kasur. Selimut ketarik ke kanan, ke kiri, ke atas, gak jelas arahnya.

"KITA GAK AKAN KALAH SAMA ORANG YANG MANDI AJA JARANG!" Gita ngegas.

"GUA MANDI YA KEMAREN!"

"KEMAREN KAPAN?! TAHUN KEMAREN?!" Mira nyamber.

"AH, LU BERDUA RIBET BANGET!!!"

Tarikan makin brutal. Kasur sampai bunyi kriyet-kriyet kayak ikut stres. Apalagi Naya semakin kesal yang membuat semua energinya ia kerahkan untuk menarik selimutnya dengan sangat kencang.

BRAKKKK!!!!!

Gita dan Mira langsung teriak karena ketarik, jatuh dan menindih Naya.

Lihat selengkapnya