2 Makhluk 1 Insan Volume 1

Naufal Khoirul Anam
Chapter #1

1. Aku dan Kakek

"Lari Lari Lari."


"Sial, kenapa ada orang berpakaian hitam di tempat ini. Padahal kami cuma numpang lewat."


"Jelaskan saja ke mereka nanti pa—" Seorang anak yang sedang kabur bersama kita mau, ia terkena peluru nyasar di kepala.


"Intinya harus kabur dari mereka. Kita semua berpisah, bersembunyi dan berpencar, kumpul di tempat yang sama."


Itu ide yang bagus, kami sama-sama mencuri sesuatu yang berharga dari kota penuh dengan kriminal yaitu makanan untuk bertahan hidup di usia 8 Tahun demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka semua tertangkap satu persatu, salah satu diantara yang berpakaian hitam tersebut berpengalaman dalam mencari orang lain. Aku yang satu-satunya selamat, meskipun untuk datang kembali sebagai pahlawan. Orang berpakaian hitam tersebut, ku tikam dari belakang, meskipun mereka berteriak kesakitan. Ku tak peduli menjadi seorang pembunuh dihadapan teman ku, ini semua untuk bertahan hidup di tempat yang kejam, rusak, tidak ada yang peduli. Karena mereka punya tujuan yaitu pemanggilan ritual sang Messiah.


Sebelum awal mula ini terjadi, aku yang sebagai narator akan ku jelaskan secara terperinci dan panggil aku Yudas, itu adalah nama sementara dari seorang kakek yang begitu berjasa semenjak masih balita. Orang-orang sekitar, termasuk anak-anak yang sebaya selalu memanggilku dengan panggilan Yudas. Aku anggap itu sebagai nama asliku.


...


Aku terlahir dari got, itu yang kuingat saat masih bayi. Selebihnya di asuh oleh anjing liar perempuan, yang dibuang oleh majikannya sama anak-anaknya. Anjing ini cukup pintar, mana yang bersih dan mana yang kotor. Ia juga cukup terawat beserta anak-anaknya, anehnya waktu bayi. Aku tak memiliki ingatan yang buruk, mereka juga gak pernah menjilati ku saat masih bayi, terus terjaga air liurnya untuk menghindari dari virus ataupun bakteri yang dibawa sama mereka.


Usia satu tahun, tak banyak yang kuingat cuma satu hari di mana. Anak-anaknya dibunuh oleh orang iseng, yang memakai benda cukup keras. Suara tersebut masih teringat dan aku dibawa lari oleh Ibu anjing dari anak-anaknya yang ditinggal, karena induk anjing tersebut percaya anak-anaknya bisa mandiri.


Ia membawaku ke pemukiman kumuh, di sana masih ada harapan kecil. Melihat bayi yang memakai baju tanpa bawahan, aku dikategori kan sebagai laki-laki oleh mereka, yang kebanyakan perempuan tanpa sosok seorang ayah.


Diasuh dirawat diberikan ASI dari berbagai wanita yang ada di sana. Anak-anak dari anjing tersebut juga selamat membawa bayi dari luar pemukiman satu persatu, namun makhluk yang satu ras dengan ku tak mampu mengasuhnya. Maka dari itu, Ibu anjing dari anak-anak nya yang merawat sendiri dan membagi tugas ke anak-anaknya menyuruh mereka mencari makanan. Karena tau susahnya jika tak ada satu makhluk pun gak bisa bertahan hidup sendirian.


Anak-anak anjing tersebut menjadi liar, mencuri makanan dari pasar secara kelompok. Yang selalu ada pemimpin di dalam regu nya, yang paling tertua memiliki tubuh sedikit besar dari anak-anak anjing lainnya.


Aku sejak kecil lebih suka berkumpul dengan mereka ketimbang dari ibu persusuan ku. Yang hanya memedulikan bayi laki-laki jika anak-anak anjing lainnya menemukan balita ataupun bayi yang baru lahir dan dibuang.


Diriku yang kecil belum tau apa-apa, ataupun berharap ke sesuatu, semoga bayi yang diasuh oleh anak-anak anjing ikut tumbuh besar tapi gizinya tak tercukupi. Ibu anjing tersebut sadar hal itu dan meminta pertolongan ke makhluk yang lebih superior dari mereka yaitu manusia.


Mereka gak mau membantu malahan mengkebiri anjing-anjing yang membawa petaka, di situlah aku pertama kali menangis sebagai seorang bayi dan ingatan masih membekas sampai sekarang.


Anak-anak anjing tersebut menggonggong hanya untuk meminta bantuan, para pria paruh bayah yang selama ini tak melakukan apapun cuma meratapi penyesalan sisa hidupnya. Mereka hanya berpikir ingin berguna dalam seumur hidupnya kembali sebagai orang ayah, meskipun bayi perempuan tersebut bukan anak kandung mereka melainkan anak angkat.


Sampai di umur dua tahun, aku mulai memiliki ingatan yang bagus, kadang kala suka tercampur dan terlupakan. Tapi, aku suka dengan namanya buku bergambar yang ada simbol ataupun tulisan yang besar, tangan ku selalu kotor karena menggambar di atas tanah dengan batu-batu yang ada dan menirunya.


Kami para anak-anak sering mendengar cerita dari kakek-kakek, para paruh bayah pria, wanita ataupun para gelandang disebut tunawisma dari berbagai bahasa, budaya yang masih suka beraktifitas, mereka bercerita sukarela dan ada yang masih mengingat seluruh momen yang seperti keajaiban secara tiba-tiba ada gerombolan anjing yang membawa perubahan ke distrik kumuh ini. Salah satu orang menceritakan yang sesungguhnya kami berasal dari mana dan anak-anak anjing yang menemukan kita mantan majikan yang mana, mereka memberi tau dan masih ingat tempat-tempat nya yang secara kebetulan ada mereka di titik-titik tersebut.


Mereka penurut dan jauh lebih pintar ketimbang manusia di sini, aku ingin tau caranya gimana. Lalu ada seorang kakek memberitahu ada tempat namanya TPA, tempat pembuangan akhir. Anak-anak sepantaran dengan ku pergi ke sana sebagai tempat bermain dan bersenang-senang, cuma barang-barang rongsokan sama mesin yang berjalan sendiri, tapi di sini gak ada makanan, air bersih secara gratis, begitu susah untuk dicari.


Kami belajar memburu dari anak-anak anjing lebih tepatnya mencuri, cuma itu satu-satunya cara, menghafal rute perjalanan berangkat sama pulang, memantau kebiasaan manusia besar, mencuri di saat mereka lengah oleh anak-anak anjing. Meskipun mereka punya senjata tajam, itu gak bisa mengancam mereka kecuali ada senjata jarak jauh yang mengenai mereka langsung membunuhnya.


Senjata tersebut adalah senapan api dan aku memiliki trauma dengan suaranya yang masih teringat sampai sekarang. Anak-anak anjing tak cukup bodoh, satu melawan dan terus menggonggong untuk terfokuskan oleh mereka yang bisa bergerak dengan lincah dari keempat kakinya. Ketika lolongan panjang dari atas bangunan oleh pemimpin anjing tersebut, mereka semua terkena gigit dan terkoyak dagingnya oleh anak-anak anjing dan melempar senjata nya dengan kaki-kaki mereka sampai terlempar di bawah kaki ku yang sedang bersembunyi di balik tembok bangunan. Melihat satu anak kecil yang disandra padahal kita tak berkumpul ataupun bersembunyi di satu tempat, secara kebetulan ditemukan dan aku ambil lalu pegang pistol tersebut ke arah penyandra tersebut. Mereka terus mengejek anak yang tertangkap dan satu-persatu ketahuan, aku dalam keadaan terpojok gak ada pilihan lain, langsung ku tembak pelatuknya mengenai ke salah satu kaki tapi meleset. Seketika ada orang lain yang menarik pelatuk secara bersamaan mengenai dahi ke orang yang aku tembak, ia langsung tewas di tempat, seolah-olah aku yang melakukannya, aku bengong dan terkejut tidak tau apa tindakan selanjutnya. Itu semua terjadi begitu cepat, manusia besar terkejut dengan hal itu, ia mengira aku yang membunuhnya. Saat aku terdiam untuk memahami apa yang terjadi, tangan ku masih bergemetar dan kesaktian dari dorongan ledekan pistol tersebut, mereka mulai emosi dan mau menyerang siapapun yang disekitarnya. Aku dibawa oleh pemimpin dari anak-anak anjing, tanpa membawa apapun selain rasa syok dan trauma yang seperti menggentayangi ku.


Kelompok tersebut terbagi dua, ada yang mencuri, ada yang mengalihkan perhatian seperti diri ku. Dalam kasus mencuri mendapatkan makanan bisa dibilang ini merupakan kesuksesan besar dan disimpan ke tempat-tempat persembunyian masing-masing anak sama anak anjing yang bersama mereka, tak semua dibawa ke distrik kumuh. Hanya secukupnya, untuk menghindari namanya perebutan. Apa yang dilakukan oleh manusia besar tersebut tak tinggal diam saja, mereka mencari setiap seluk beluk bangunan tua yang penghuni para gelandang untuk mengejar kami dari belakang dan mengendus jejak kami dalam waktu bersamaan setelah kami kabur dari distrik sebelah.


Manusia besar tersebut jauh lebih pintar dan berakal, aku tak ada di sana waktu itu. Masih dibawa ke atas bangunan yang tertinggi oleh pemimpin anak-anak anjing, yang bisa memantau dari ketinggian disitulah pembunuhan terjadi atas kemarahan mereka yang gak tau awalnya, cuma mencuri dibagi secara kelompok semua kena imbasnya. Mungkin ini adalah kesalahan ku, telah membunuh salah satu manusia besar yang mereka kira. Anak-anak banyak yang bersembunyi sama dengan hasil makan curiannya, ada beberapa yang pamer ke distrik kumuh. Suara keras tembakan yang tak ada hentinya, semuanya mati di tempat dimana mereka terakhir bernafas. Mayat-mayat terselempangan dengan genangan darah yang menempel di alas kaki para manusia besar tersebut.


Itu pemandangan yang sungguh mengerikan sekali, anak-anak anjing tak ada yang terbunuh. Karena mereka tau dari baunya, bahwa makhluk yang superior dari mereka bisa merasakan firasat hewannya yaitu hukum alam. Para anak-anak anjing tersebut sudah belajar dari kesalahan yang sebelumnya. Mereka pernah diasuh oleh mantan majikan yang memiliki sifat lebih buruk dari majikan sebelumnya. Ibu anjing tersebut naik ke atas dan menarikku untuk mengindari pembunuhan yang sedang dilakukan, aku memeluknya dan menangis ketakutan. Apa yang semua ini terjadi masih belum mengerti sama sekali, yang ku tahu lingkungan tempat kita tinggal, tak ada yang peduli. Kecuali hewan-hewan kecil yang memakan tubuh mayat tersebut, sebelum terjadinya pembusukan. Anak-anak anjing membawa nya ke TPA, sungguh ironi sekali, mereka masih mengingat bayi yang dibawa saat masih kecil malah terbunuh dan bersedih.


Sisanya ada anak-anak yang bersembunyi bersama anak-anak anjing lainnya bisa dihitung, berduka cita dan para wanita yang sudah menjadi ibu persusuan sekaligus gelandangan yang tak tau semua ini menjadi korban juga. Kecuali ada kakek tua yang bersembunyi di tempat tinggalnya dekat saluran pembuangan air. Yang siapapun tak mau ke sana, karena baunya tidak mengenakan dan sarang dari berbagai penyakit.


Kakek tua ini agak aneh, menyuruh tumpukkan mayat tersebut untuk tak dibawa ke sana. Malahan di kubur dalam-dalam dengan kendaraan yang besar yang gak tau fungsinya. Tapi bisa mengeruk tanah dari kulihat dan menaburkan sebuah cairan yang baunya juga aneh.


Dia membaca bacaan yang aneh dari buku yang tidak aku mengerti dan pahami. Para anak-anak anjing berbela sungkawa atas kejadian yang menyedihkan ini. Aku melihatnya dan merasa kelaparan setelah pengkuburan selesai. Cuma ada satu anak yang selamat yaitu diriku. Seketika distrik ini yang tadinya banyak orang dan sunyi, mereka gak ada. Beneran sudah tidak ada di muka bumi.


Aku merasa sendirian dan kesepian melihat dua hal yang bersamaan, antara kematian dan kehidupan itu sendiri yang sedang kurasakan. Apakah aku akan mengalami hal itu juga, kelak nanti.


Kakek tua tersebut membawakan sebuah makanan yang baunya agak mirip dengan cairan yang dituangkan di atas para mayat. Aku mengambilnya dengan tangan yang kotor tak peduli rasanya menjijikan atau apapun itu, rasanya bukan kehidupan. Aku merasakan hal yang sama apa yang sedang kurasakan orang-orang yang sudah di dalam sana.


"Ini bakteri dari umbi-umbian yang sering kamu makan waktu masih kecil, kamu pasti tak mengingat rasa tersebut, orang-orang juga gak suka dengan baunya yang menjijikkan, tetapi secara ironisnya mereka yang gak mau memakannya malah mengalami kejadian yang buruk diakhir hayatnya. Malahan kita berdua yang suka makanan ini bertahan hidup dan para anak-anak anjing itu juga terpaksa makanan menjijikan dari tong sampah hanya sekedar bertahan hidup. Biarkan mayat-mayat yang telah aku siram supaya tanah-tanah tersebut menjadi subur, makhluk mati apa yang kita pijak juga perlu makanan. Tanah sama bakteri tersebut, supaya mereka gak mati sia-sia."


Anak-anak mulai bertanya, kenapa manusia besar itu memburu kita itu yang aku sampaikan. Jawab dari kakek tua ini berkata, "Hahaha ... Itu apa yang kalian tuai. Mencuri bukan hal yang baik apalagi membunuh orang seperti mereka, mungkin keberuntungan sedang tidak berpihak pada kalian semua." Tapi, kami melakukan semua hanya untuk bertahan hidup. Apakah aku akan berakhir seperti mereka saat ini. Keharapan ku seperti sudah pupus ikut terkubur dengan para mayat.


Kakek tua ini menawarkan ke anak kecil yang baru berumur 2 tahun, tak tau apa-apa. "Gimana? Mau bekerja dengan ku? Tapi harus berpuasa dan menahan dahaga." Apa yang ia katakan padaku, sama sekali tidak mengerti.


Anak-anak lebih suka mengambil barang milik orang lain, jauh lebih mudah. Karena mencuri itu enak bagi mereka dengan hasil yang nyata.


Aku menoleh ke arahnya, tak tau mau menjawab apa. "Bekerja dengan kakek?"


"Jika kamu tidak mau, tak apa. Riwayat mu akan berakhir sama dengan mereka dalam hitungan hari."


Aku berdiri meninggalkan kakek tersebut, berjalan luntang-lantung tanpa tujuan dan tidur meringkuk kedinginan di sudut pojokan rumah gubuk bekas orang-orang yang telah dibunuh. Berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain dan berharap ada satu potongan makanan ataupun air yang tersisa, semuanya nihil. Melihat ke arah langit dan merasakan kedinginan yang telah menusuk tulang-tulang ku. Badan ku jatuh lemas di atas tanah yang sudah dingin. Semua tubuhku memerah membekas.


Ada satu anjing membawaku ke tempat yang lebih baik, tak tau ke mana. Di sana ada perapian yang menghangatkan tubuh ku dan menjatuhkan begitu saja, membuat ku tersadar sepenuhnya.


"Sudah kuduga kamu anjing yang begitu pintar." Aku mendengar suara yang kas dan yang sama belum lama ini.


"Bi ... ar ... kan a. ... ku m...at...i." Suaraku yang mau hilang dan begitu kering tenggorokan ku terasa serak, gak punya energi.


...


Tubuhku mulai membaik, secara perlahan ada cairan hangat yang masuk ke mulutku. Kulitku yang dingin tertutup oleh selimut seadanya dari bekas kain yang rusak. Kakek itu, memberikan makanan yang agak cair untuk mengisi perut ku keroncongan.


Saat aku sudah cukup istirahat dan semuanya terisi, tubuhku kembali normal melihat ada anak anjing dan kakek tua itu menyambutku.


"Gimana tubuh mu? Apa sudah baikan?"


Aku melihat keluar bukan untuk mengalihkan perhatian ada benda putih di atas tanah. "Itu adalah salju, waktunya untuk memanen dan mengambil salju tersebut." Kakek tua itu begitu aktif, ia menyekop tumpukan benda putih ke dalam ember lalu dimasukkan ke drum yang begitu besar.


Aku awalnya cuma sekedar melihat dan memperhatikan, secara inisiatif ikut membantunya dalam keseharian. Kakek memberikan ku sebuah pengetahuan, drum tersebut di dalamnya akan meleleh lalu disaring dengan bebatuan yang ada di dalamnya lalu berpindah ke drum lebih besar ada berada di atas ketinggian dengan pompa hidram yang bekerja secara otomatis. Cuma memberikan gambaran secara asal di atas tanah bersalju, aku cuma mengikuti pola gambar tersebut tanpa mengerti apa yang ia jelaskan.


Selama di musim bersalju, aku tak banyak beraktivitas para anak-anak anjing yang awalnya bolak-balik kemari, lama kelamaan semakin sedikit dan cuma bertahan satu anjing yang setia. Ia selalu berada di sampingku untuk menjaga ku.


"Kuberikan nama Johan ke anjing itu."


"Nama?"


"Ya, nama. Kamu sudah punya nama?" Aku menggeleng kepala dan merasa sedih. Memberikan nama ke anak manusia bukan perkara yang mudah, kakek tua tersebut sering memanggil ku dengan sebutan bocah, Kadangan berseru "Hei!" Jika aku dipanggil.


Aku selalu penasaran dengan kegiatan kakek selain memasukkan salju ke dalam drum, menyalakan api, memeriksa gudang bawah tanah ada beberapa makanan yang disimpan sama duduk diam berjam-jam ditemani sebuah lembaran yang begitu tebal.


"Ini namanya buku. Apakah kamu tertarik?"


Aku mengangguk dan diberikan sebuah buku yang ada gambarnya, sebuah kertas buram dan alat tulis dari arang. Kesibukan ku adalah belajar simbol-simbol belum mengerti pengucapannya. Kakek mengajari ku cara membaca, awalnya satu simbol aku terus berulang menulis dang mengucapkannya setelah bosan ke simbol lainnya. Setiap hari simbol-simbol tersebut masuk ke dalam otakku dan mengingatnya lalu dinamakan sebuah huruf.


Pada awalnya aku belajar dan selalu meniru apa yang diucapkan kakek. Secara perlahan aku bisa membaca buku yang ada gambarnya, aku tulis ulang dan mengimajinasikan beberapa hal untuk perkembangan yang jauh lebih besar. Kakek selalu menggunakan berbagai bahasa setiap harinya, ia suka berbicara dan bercanda. Aku suka bertanya, bertanya menanyakan artinya untuk memahami yang diucapkan.


Kakek tua itu merasa takjub dan gembira, aku bisa mengerti dan mengikuti apa yang diucapkan kakek. Akhirnya ia punya pendengar yang bagus, selalu penasaran apa yang ia ceritakan setiap malamnya sebelum kami pergi tidur.


Setelah musim salju mereda, tanah tersebut kembali normal sedia kala tidak ada benda putih di atas permukaannya.


Aku diajak kakek berjalan-jalan cukup jauh, ia mengenali ku apa itu pedagang, apa itu barang dagangan dan apa itu transaksi jual beli tawar menawar. Lalu memberitahu ku macam-macam bentuk ikan, sayuran, buah-buahan yang begitu nyata dibandingkan ada di buku gambar. Mencium, memegang, merasakan, aku hanya tersenyum dan tertawa sepanjang hari.


Saat pulang kembali ke rumah kakek, sebenarnya bukan rumah. Itu semacam gubuk-gubuk kecil, yang menyimpan berbagai barang dekat dengan TPS. Beliau mengajariku merasakan makanan yang enak itu gimana, meskipun keterbatasan bahan. Ia menyimpan berbagai makanan yang cepat membusuk, jauh jauh sekali berada di bawah tanah. Yang begitu dingin dan begitu melelahkan bagi kakek, tempat di sini pula persembunyiannya jika ada orang asing menggeruduk tempatnya kakek.


Aku diberikan sebuah buku, secara bertahap belajar mengenal angka. Tangan ku selalu kotor oleh arang, tanah liat untuk melampiaskan imajinasi ku dalam bentuk gambar. Aku belajar mengambil sesuatu, menyusunnya, dibentuk lalu dihancurkan dan terus diulang.


Setiap malam, kakek memberikan ku bacaan buku dongeng yang ringan secara perlahan naik tingkatan ke kisah cukup berat supaya aku bisa belajar memahami, berdiskusi dan mengkategori.


Kakek mengenalkan ku berbagai macam emosi, apa itu marah, sedih, senang, ngambek, kesal, cemberut, iri, cemburu, kasih sayang dan cinta. Itu semua bercampur aduk menjadi satu awalnya, secara awal aku mengerti dan selalu menggambarkan emosi yang begitu jelas. Karena belum tau apa arti kebohongan, berdiam dan memanipulasi. Itu belum boleh diajarkan, karena selalu penasaran dan terus penasaran di kala sedang sendirian aku mengambil buku secara acak dan membacanya. Tanpa sebuah kejelasan cuma bisa berimajinasi dan mengidentifikasi. Aku bertanya kepada kakek, apakah ada buku selain ini? Kakek langsung mengambilnya dan menjauhi yang sekiranya belum pantas aku konsumsi.


Pada saat itu aku sering bertanya, ke hal-hal yang kecil dan begitu cerewet mulutku akan hausnya ilmu pengetahuan. Otakku selalu kelaparan dibandingkan perutku sama tubuhku yang lelah.


Kakek memberikan ku berbagai macam ensiklopedia seperti tanaman, hewan, makanan, buah-buahan. Keinginan tahuan ku teralihkan selang beberapa waktu. Lalu diberikan pembelajaran menghitung saat pergi berbelanja dan mengenalkan apa itu uang berbagai macam merek nya dari berbagai negara.


Aku belajar menghitung dan mengingat perkalian dasar sebagai landasan pembelajaran logika. Memahami setiap paragraf yang begitu dan tertata namun tidak tau apa yang sedang disampaikan si penulis. Terkadang aku membacanya dua kali dan menulis di atas tanah liat.


Tak banyak hiburan di sini ataupun permainan, habisnya belum ada anak kecil ataupun pengangguran yang bisa ke mari setelah insiden mengerikan tersebut. Aku mulai merasakan rasa takut, ancaman, hal yang tidak mengenakkan lainnya namun aku tidak percaya dengan adanya hal mistis karena belum pernah melihat.


...

Lihat selengkapnya