2 Makhluk 1 Insan Volume 1

Naufal Khoirul Anam
Chapter #1

1. Akhir Zaman ialah dunia dongeng

"Lari Lari Lari."


"Sial, kenapa ada orang berpakaian hitam di tempat ini. Padahal kami cuma numpang lewat."


"Jelaskan saja ke mereka nanti pa—" Seorang anak mau kasih tau, ia terkena peluru nyasar di kepala.


"Intinya harus kabur dari mereka. Kita semua berpisah, bersembunyi dan berpencar, kumpul di tempat yang sama."


Itu ide yang bagus, kami sama-sama mencuri sesuatu yang berharga dari kota penuh dengan kriminal yaitu makanan untuk bertahan hidup di usia 8 Tahun demi menyambung hidup.


Sebelum awal mula ini terjadi, aku yang sebagai narator akan ku jelaskan secara terperinci dan panggil aku Yudas, itu adalah nama samaran demi menjaga kode yang selalu ingin dimainkan oleh anak-anak sebaya seperti mata-mata.


...


Aku terlahir dari got, itu yang kuingat saat masih bayi. Selebihnya di asuh oleh anjing liar perempuan, yang dibuang oleh majikannya sama anak-anaknya. Anjing ini cukup pintar, mana yang bersih dan mana yang kotor. Ia juga cukup terawat beserta anak-anaknya, anehnya waktu bayi. Aku tak memiliki ingatan yang buruk, mereka juga gak pernah menjilati ku saat masih bayi, terus terjaga air liurnya untuk menghindari dengan virus ataupun bakteri yang dibawa sama mereka.


Usia satu tahun, tak banyak yang kuingat cuma satu hari di mana. Anak-anaknya dibunuh oleh orang iseng, yang memakai benda cukup keras. Suara tersebut masih teringat dan aku dibawa lari oleh Ibu anjing anak-anaknya yang ditinggal karena percaya bisa mandiri.


Ia membawaku ke pemukiman kumuh, di sana masih ada harapan kecil. Melihat bayi yang memakai baju tanpa bawahan, aku dikategori kan sebagai laki-laki oleh mereka karena kebanyakan perempuan tanpa sosok seorang ayah.


Diasuh dirawat diberikan ASI dari berbagai wanita yang ada di sana. Anak-anak dari anjing tersebut juga selamat membawa bayi dari luar pemukiman satu persatu, namun makhluk yang satu ras dengan ku tak mampu mengasuhnya. Maka dari itu, Ibu anjing dari anak-anak nya yang merawat sendiri dan membagi tugas ke anak-anaknya menyuruh mereka mencari makanan. Karena tau susahnya jika tak ada satu makhluk pun gak bisa bertahan sendirian.


Anak-anak anjing tersebut menjadi liar, mencuri makanan dari pasar secara kelompok. Yang selalu ada pemimpin di dalam regu nya yang paling tertua memiliki tubuh sedikit besar dari anak-anak anjing lainnya.


Aku sejak kecil lebih suka berkumpul dengan mereka ketimbang dari ibu persusuan ku. Yang hanya memedulikan bayi laki-laki jika anak-anak anjing lainnya menemukan.


Diriku yang kecil belum tau apa-apa berharap ke sesuatu, semoga bayi yang diasuh oleh anak-anak anjing ikut tumbuh besar tapi gizinya tak tercukupi. Ibu anjing tersebut sadar hal itu dan meminta pertolongan ke makhluk yang lebih superior dari mereka yaitu manusia.


Mereka gak mau membantu malahan mengkebiri anjing-anjing yang membawa petaka, di situlah aku pertama kali menangis sebagai seorang bayi dan ingatan masih membekas sampai sekarang.


Anak-anak anjing tersebut menggonggong hanya untuk meminta bantuan, seorang pria paruh bayah yang selama tak melakukan apapun cuma meratapi penyesalan sisa hidupnya. Mereka hanya berpikir ingin berguna dalam seumur hidupnya kembali sebagai orang ayah, meskipun bayi perempuan tersebut bukan anak kandung mereka melainkan anak angkat.


Sampai di umur tiga tahun, aku mulai memiliki ingatan yang bagus, kadang kala suka tercampur dan terlupakan. Tapi aku suka dengan namanya buku gambar, tangan ku selalu kotor karena selalu menggambar di atas tanah dengan batu-batu yang ada.


Kami para anak-anak sering mendengar cerita dari kakek yang masih suka beraktifitas, beliau mengingat seluruh momen yang seperti keajaiban tiba-tiba ada gerombolan anjing yang membawa perubahan ke distrik kumuh ini. Beliau menceritakan yang sesungguhnya kami berasal dari mana dan anak-anak anjing yang menemukan kita, mereka memberi tau dan masih ingat tempat-tempat.


Mereka penurut dan jauh lebih pintar ketimbang manusia di sini, aku ingin tau caranya gimana. Kakek tersebut memberitahu ada tempat namanya TPA, tempat pembuangan akhir. Anak-anak sepantaran dengan ku pergi ke sana sebagai tempat bermain dan bersenang-senang, tapi makanan itu gak gratis, air bersih di sini juga susah dicari.


Kami belajar memburu dari anak-anak anjing, menghafal rute perjalanan sama pulang, memantau kebiasaan manusia besar, mencuri di saat mereka lengah oleh anak-anak anjing. Meskipun mereka punya senjata tajam, itu gak bisa mengancam mereka kecuali ada senjata jarak jauh yang mengenai mereka langsung membunuhnya.


Senjata tersebut adalah senapan api dan aku memiliki trauma dengan suaranya yang masih teringat sampai usia remaja. Anak-anak anjing tak cukup bodoh, satu melawan dan terus menggonggong untuk terfokuskan oleh mereka yang bisa bergerak dengan lincah dari empat kakinya. Ketika lolongan panjang dari atas bangunan pemimpin anjing tersebut, mereka semua terkena gigit dan terkoyak dagingnya oleh anak-anak anjing dan melempar senjata nya dengan kaki-kaki mereka sampai di bawahku. Melihat satu anak kecil yang disandra, aku pegang pistol. Mereka terus mengejek dan langsung ku tembak pelatuknya mengenai dahinya. Seketika langsung tewas di tempat, aku tidak tau apa yang kulakukan. Itu semua terjadi begitu cepat, manusia besar terkejut dengan hal itu. Aku cuma berdiri diam terbengong, dibawa oleh pemimpin dari anak-anak anjing tanpa membawa apapun selain rasa trauma yang seperti menghantui ku.


Ini merupakan kesuksesan besar, telah mencuri makanan dari pasar dan disimpan ke tempat-tempat persembunyian masing-masing anak, tak semua dibawa ke distrik kumuh. Hanya secukupnya, untuk menghindari namanya perebutan. Apa yang dilakukan oleh manusia besar tersebut, mengejar kami dari belakang seperti sedang mengendus.


Manusia besar tersebut jauh lebih pintar, aku tak ada di sana waktu itu. Masih dibawa ke atas bangunan oleh pemimpin anak-anak anjing yang bisa memantau, disitulah pembunuhan terjadi atas kemarahan mereka yang gak tau awalnya. Mungkin ini adalah kesalahan ku, telah membunuh pemimpin manusia besar. Anak-anak banyak yang bersembunyi sama dengan hasil makan curiannya, ada beberapa yang pamer ke distrik kumuh. Suara keras tembakan yang tak ada hentinya, semuanya mati di tempat mereka masing-masing. Mayat-mayat terselempangan dengan genangan darah yang menempel di alas kaki mereka.


Itu pemandangan yang sungguh mengerikan sekali, anak-anak anjing tak ada yang terbunuh. Karena mereka tau dari baunya, bahwa makhluk yang superior dari mereka. Ada yang memiliki sifat lebih buruk dari mantan majikan mereka, Ibu anjing tersebut naik ke atas dan menarikku, aku memeluknya dan menangis ketakutan. Apa yang semua ini terjadi masih belum mengerti sama sekali, yang ku tahu lingkungan tempat kita tinggal tak ada yang peduli. Kecuali hewan-hewan kecil yang memakan tubuh mayat tersebut, sebelum terjadinya pembusukan. Anak-anak anjing membawa nya ke TPA.


Anak-anak yang bersembunyi bersama anak-anak anjing lainnya, berduka cita dan para wanita yang sudah menjadi ibu persusuan sekaligus gelandangan yang tak tau semua ini menjadi korbannya. Kecuali kakek tua itu yang bersembunyi di tempat tinggalnya dekat saluran pembuangan air. Yang siapapun tak mau ke sana, karena baunya dan sarang penyakit.


Kakek tua ini agak aneh, menyuruh tumpukkan tersebut untuk tak dibawa ke sana. Malahan di kubur dalam-dalam dengan kendaraan yang besar yang gak tau fungsinya. Tapi bisa mengeruk tanah dari kulihat dan menaburkan sebuah cairan yang baunya juga aneh. Pernah kumakan rasanya cukup enak.


"Ini bakteri dari tape yang sering kamu makan. Biarkan tanah-tanah tersebut menjadi subur. Supaya mereka gak mati sia-sia."


Anak-anak mulai bertanya, kenapa manusia besar itu memburu kita. "Hahaha ... Itu apa yang kalian tuai. Mencuri bukan hal yang baik apalagi membunuh orang seperti mereka." Tapi, kami melakukan semua untuk bertahan hidup.


"Gimana? Mau bekerja dengan ku? Tapi harus berpuasa dan menahan dahaga."


Anak-anak lebih suka mengambil barang milik orang lain, jauh lebih mudah. Karena mencuri itu enak bagi mereka dengan hasil yang nyata.


"Kakek, aku boleh bekerja dengan kakek?" Aku mengajukan sendirian tidak ada anak-anak yang mau ikut dan satu anjing besar yang membantuku juga bersedia.


"Hohoho, kamu yakin?"


"Ya." Aku cuma mengangguk dan masih merasa takut bila mencuri ataupun membunuh.


Beliau mengajakku ke rumah gubuknya yang terdiri dari tumpukan rongsokan. Tapi terus kuikuti ada benda-benda yang mirip di pasar, aku menelan ludah dan perutku merasa kelaparan.


"Ada sebuah pepatah anak muda, tidak bekerja tidak ada makanan. Jadi, kamu bekerja terlebih dahulu sebelum memakan hasilnya. Apakah kamu bersedia?"


Aku membantah pepatah tersebut, "Tidak ada makanan, gimana orang bekerja karena gak ada energi yang diisi. Kakek kalau berdagang di pasar, apakah cuma membawa niatnya aja tanpa membawa barang dagangannya?"


Ia malah tertawa padaku, "Kamu pintar sekali bersilat lidah anak muda. Itu tepat sekali yang kamu katakan. Akan kumasakkan sesuatu pada mu."


Aku tidak ingin menjadi penikmat, aku ingin tau proses pembuatannya. "Kakek, tolong ajari aku."


"Boleh, kamu masih kecil jadi lihat-lihat aja dulu." Ia memperkenalkan ku berbagai perkakas dan tempat buat masak adalah dapur. Letaknya cukup jauh dari pemukiman, karena baunya bisa ke cium sampai sana.


Aku belajar cara memegang pisau terlebih dahulu, gimana memotong, mengiris, mengupas dan menghancurkan umbi-umbi berlapis yang membuatku mengeluarkan ku air mata.


"Eee ... Jangan menyeka dengan tangan kotor. Kamu harus cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu."


"Tapi ini perih banget kakek, aku sudah gak tahan."


"Sabar sebentar, aku ambilkan air gayung."


Ini sudah gak tertahankan, aku merasa sedang menangis meskipun sudah diseka. Air mata ku gak bisa terus berhenti.


"Apa yang sedang kamu rasakan anak muda?"


"Aku tidak tau. Entah kenapa, menangis secara sendiri."


"Tenangkanlah dirimu. Itu namanya perasaan sedih."


"Perasaan sedih? Kenapa aku bisa bersedih?"


"Kamu melihat banyak mayat-mayat yang berjatuhan di atas jalan. Ibu menyusui mu juga hampir diburu semua tanpa terkecuali termasuk orang-orang gak bersalah para gelandang sama penghuni di dalam gubuk."


"Kenapa kakek gak bantu mereka? Sama melawannya?"


"Anak muda. Apa yang kamu harapkan dengan pria paruh baya seperti ku. Terkadang kita harus kejam untuk bertahan hidup dan itu merupakan bentuk proses yang paling susah, karena manusia memiliki hati."


"Hati?"


"Iya. Itu ada di bawah dada mu, tepatnya di bawah kamu nafas."


"Kakek asal jeplak aja."


"Saya bukan ahlinya soal itu, ada teman kakek yang lebih muda dariku dia adalah dokter yang gila."


"Dokter gila? Dokter gila maksudnya apa?"


"Nanti saja jelasinnya. Kita masak dulu, habis itu bekerja lalu makan."


"Hee? Bukannya kebalik?"


"Anak muda, di mana-mana kita harus mengeluarkan jerih keringat dari kita terlebih dahulu, baru mendapatkan sebuah imbalan, mengerti?"


"Ta-Tapi, aku boleh minum?"


"Ya. Tapi jangan banyak-banyak nanti kembung."


"Kembung itu apa?" Kakek malah menepuk jidatnya. "Kakek kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa, kamu banyak tanya. Nanti semua akan kakek jelasin. Sana pergi siram tanaman."


"Gimana? Harus pakai apa?"


Kakek menyuruhku duduk diam, tidak diizinin banyak tanya. Beliau sudah tua, pasti gampang capek. Kurasa tidak, ia mengajariku bercocok tanam, mengolah limbah di saluran, memasak, memijat tubuhnya, cara tidur masih banyak sekali gak bisa disebutkan.


"Anak muda, kamu mau belajar membaca? Bercerita setiap waktu luang kepadamu sangat melelahkan."


"Kakek saja ingin bermalas-malasan lebih lama."


"Aku sudah berumur, sewajarnya memang begitu. Itu sangat berguna di masa depan mu. Kamu juga belajarnya begitu cepat dan langsung paham sekali melihat."


"Kalau aku mau belajar membaca, aku juga mau belajar menulis. Aku ingin beberapa kertas untuk mencoret-coret sama menggambar."


"Baiklah, tapi kamu cari sendiri kertas yang kosong di TPS."


"Kakek punya banyak buku di lemari bawah tanah, kenapa gak dikasih?"


"Buku-buku itu lebih bernilai, sudah gak bisa dicetak lagi. Jika dirusak sama kamu, bisa ganti rugi?"


"Kakek. Mana yang lebih penting? Antara ladang sayuran sama buku? Jika gak makan satu Minggu, kakek akan mati kelaparan."


"Anak muda. Kamu mau mengancam ku? Atau sekedar berunding?"


"Itu hanya sebatas perumpamaan. Kakek jangan salah paham dulu, aku masih memerlukan kamu sampai akhir hayat."


Ia tertawa, "Anak muda. Aku tidak akan berumur panjang. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi pasti akan meninggal, tapi lebih cepat lebih baik." Matanya memperlihatkan keputusasaan. Badanku bergetar begitu hebat, mendekati kakek dan merenung. "Jangan buat candaan tentang kematian. Mendengarkannya saja membuatku merasa sedih."


"Maaf Maaf anak muda. Aku tidak bermaksud begitu." Namun aku tetap menangis di dekapannya. "Hidup mu pasti penuh dramatis di masa depan, kamu harus mengontrol emosimu dan lebih pragmatis."


Aku menyeka air matanya dan bertanya tentang arti pragmatis. "Itu hanyalah masalah prinsip dan kamu harus memiliki prinsip untuk bertahan hidup."


"Aku masih kecil, mana tau tentang hal yang rumit seperti prinsip."


"Kalau gitu cepatlah dewasa dalam pemikiran bukan badan. Kakek akan mengajarkan mu prinsip-prinsip yang dipegang manusia dan kamu harus memanfaatkan nya. Akan ku pinjam buku-buku kakek di lemari bawah tanah dan teruslah merasa penasaran dan mencari tau tentang kebenaran tapi kamu harus batasi, itu juga bisa membawa mu ke hal yang berbahaya atau mengancam nyawa mu."


"Ya kakek."


Selama tiga bulan aku bekerja sambil mempelajari di waktu luang yang kumiliki. Karena aset yang dimiliki semua manusia adalah waktu. Prinsip-prinsip hidup bukan pragmatis saja, ada idealis, dogma, teoritis, aku dibesarkan oleh perempuan selama tiga tahun yang memiliki rasa romantis, kakek mengajariku pragmatis.


Pergi ke TPS mencari benda yang berguna ditumpukan rongosokan, aku mengambil semua kertas sama buku-buku yang terbuang. Lalu kusortir di gubuk kakek, ia pun marah padaku karena gak ada ruangan untuk beristirahat.


Aku disuruh membangun sesuatu seperti gudang, tempat ku untuk tidur, tempat belajar sama tempat buang hajat. Ia memang sedikit keras terkadang juga lembut, tapi suka sekali bercanda sama tertawa gak jelas.


Setiap hari, aku mengurus ladang sayur tiap pagi sama sore. Siangnya banyak sekali membaca buku dan memahami. Aku menemukan beberapa tulisan yang aneh bentuknya tidak kukenal.


"Ini bahasa Slavia timur yang masih menggunakan aksara kiril."


"Slavia timur? Itu sebuah negara?"


"Ya, negara sangat besar dengan sebutan dulu satu benua di Utara yang dekat dengan kutub." Aku membuka buku gambar yang bertuliskan atlas dan menunjukkannya.


"Ya, benar sekali. Itu negara adalah ibunya pembuat nuklir sampai sekarang dimanfaatkan teknologinya dan terus dikembangkan sampai terbang ke luar angkasa."


"Hebat sekali, aku penasaran dengan dua bahasa yang mirip ini. Apakah cara membacanya sama?"


"Ini mandarin mirip seperti bahasa orang timur. Sekarang penduduknya sudah punah beberapa dekade yang lalu, yang masih bertahan adalah bahasa nenek moyangnya. Cara pengucapannya beda, harus menggunakan aksen."


"Aksen? Seperti dibuat-buat gitu kita berbicara?"


"Bisa dibilang begitu."


"Apakah ada bahasa yang sesuai prinsip ku, misalnya romantisasi."


"Tentu saja, itu bahasa tua dari mitologi yunani disebut bahasa latin, jika kamu tertarik cara membacanya sedikit puitis."


"Hal yang lain seperti peperangan apakah ada bahasa yang hilang?"


"Tentu saja ada, Germany, Italy, Netherland sebagain bahasa orang eropa telah lenyap dan disimpan ke dalam archive dunia Maya."


"Dunia Maya itu apa?"


"Nanti kalau kamu sudah besar dan keluar dari sini. Akan mengenal dunia Maya sama teknologi yang maju. Kamu gak penasaran dengan bahasa yang digunakan umat manusia turun ke bumi pertama kali?"


"Sedikit. Tapi kebanyakan bukunya dalam kondisi setengah terbakar. Aku gak bisa melihat isi lengkapnya tapi jarang kutemukan buku tentang bahasa yang kakek miliki, yaitu bahasa Ibrani. Aku juga belum tau namanya kakek itu siapa."


Ia tersenyum dan mengeluarkan kitab di lemari yang terkunci. "Ini buku-buku peninggalan sahabatku yang masih terjaga kemurniannya sama seperti isi di dalam Qur'an. Kitab Injil zaman sekarang banyak dirombak sama direvisi oleh penerjemah demi urusan politik di dalam gereja-gereja mereka."


"Oh, jadi buku yang dibakar itu."


"Jangan disebut. Biarkan para pendosa merasakan azab dari Tuhan."


"Tuhan? Itu siapa kakek? Apakah itu teman mu?"


"Hahaha, anak muda, kamu lucu sekali. Tuhan milik semua orang yang mengimani-Nya. Dia cuma satu dari dulu sampai sekarang. Kamu pasti akan bertanya apa itu kata mengimani?" Aku cuma mengangguk. "Mengimani berarti itu kepercayaan yang mutlak."


"Kepercayaan, jadi aku sama Kakek saling percaya gitu?"


"Ya." Ia mengelus rambutku. "Kamu paham soal itu."


"Habisnya, aku sayang sama kakek. Kalau bisa, aku ingin umur kakek bertambah seratus tahun sampai menjadi debu."


"Do'a mu mengerikan sekali. Jangan bercanda begitu, seratus tahun itu lama sekali, nanti malaikat ada yang mencatat."


"Ma—"


"Hah, kamu kalau bertanya gak ada habisnya." Ia menyuruhku mengambil buku besar di rak paling bawah."


"Baca semua isi buku itu, ada istilah-istilah yang membuat mu mengerti semua."


"Kamus besar. Jadi lengkap semuanya?" Ia gak mendengarkan ku malah tidur di tempat ia biasa duduk. "Hm, dasar tukang tidur."


Aku tidak menghafali dan melafalkan seluruh istilah sama penjelasannya, secara perlahan-lahan aku akan tau sendiri. Dan buku berharganya kakek, ia malah taruh di dasar lantai. Aku membaca kisah-kisah buku tersebut seperti jurnal kehidupan satu orang setiap bukunya, totalnya ada 13 Buku dan memiliki namanya masing-masing. Simon, Andreas, dua Yakob beda marga, Yohan, Filip, Natanael, Tomas, Matius, Petrus, Tadeus, dan yang terakhir Yudas dengan nama yang disilang dan isi bukunya juga penuh coretan merah. Ada tulisan kakek di sini yang kukenal adalah ...


"Bangun Kakek, waktunya makan malam sama dongengnya. Buruan bangun keburu dicabut oleh malaikat pencabut nyawa."


"Haaa ... Heee .... Hooo ..." Beliau tiba-tiba sontak terkejut. "Jangan memanggil arwahku. Jika beneran mati, gimana?"


"Kakek masih belum waktunya untuk meninggalkan ku, itu cuma candaan anak kecil, kenapa harus mendengarkan nya."


"Bocah kurang ajar, anak bandel. Perhatikan ucapan mu, itu bisa jadi do'a jika itu yang kamu harapkan. Jangan main-main sama do'a, Tuhan itu maha mendengar. Ia masih memiliki 98 nama lainnya."


"Maaf kakek, aku tidak mengulangi nya lagi. Tapi, aku ingin tau setelah melihat buku-buku berharga kakek dan membacanya. Aku penasaran dengan salah satu coretan silang merah ini?"


"Oh, bukunya Yudas. Itu hanya kejahilian kita saja waktu dulu. Dia menulis kisah romantis nya ketimbang jurnalistik nya sendiri, yang ia tulis adalah seorang wanita cantik seorang ibunya Al-Masih. Dia jatuh cinta padanya. Kami sering mengejeknya dan menggodanya, jadi ia mencoret-coret isi bukunya sendiri karena ketahuan dibaca oleh kita semua."


"Al-Masih, itu siapa?"


"Guru kita, kamu percaya tidak? Beliau masih hidup sampai sekarang. Ia akan menjadi pahlawan bumi diakhir zaman."


Aku penasaran dan ingin bertemu dengannya, "Sekarang beliau tinggal di mana?"


"Aaah soal itu, agak sulit untuk dijelaskan. Kamu harus merasakan kematian terlebih dahulu, baru bisa ketemu."


"Aku harus mati dulu? Gak mau. Aku masih muda ingin melakukan banyak hal."


"Sudah kuduga kamu akan mengatakan itu. Kamu gak tertarik soal wanitanya?"


"Aku masih bocah, mana tau soal perempuan sama daya tariknya."


"Kalau kamu melihatnya sendiri di usia remaja pasti langsung jatuh cinta, sama seperti si Yudas."


"Kakek punya fotonya?"


"Tentu saja ada. Jika kamu terpesona, aku akan panggil kamu Yudas. Anak muda, kamu belum punya nama 'kan?"


"Belum, apa itu sebuah pertaruhan? Coba tunjukkan pada ku."


"Ini bukan foto, hanya berupa lukisan dari orang-orang zaman dulu. Tapi hampir mendekati aslinya." Ia memberikan kertas gulungan yang sedikit berat, ketika kubuka isinya cuma diam terpana melihatnya.


"Gimana? Kamu merasakan sesuatu anak muda. Beliau sedang memanjatkan do'anya ke Tuhan. Gambar ini memperlihatkan di usianya yang masih remaja. Aku tidak tahu kenapa dibuat seperti itu, kemungkinan tukang gambarnya suka anak kecil."


Aku mengusap gambar atas kepalanya, rambutnya yang sedikit panjang, kulitnya yang terlihat mulus, baju yang ia pakai terlihat cantik dan bagus hitam legam.


"Anak muda, anak muda ... Aku panggil beberapa kali, gak denger?"


"Aku denger kok."


"Alah, boong kamu. Matamu terpukau melihat kecantikannya. Hahaha, kamu sekarang kupanggil Yudas."


"Yudas? Aku tidak tertarik dengan perempuan yang ada digambar." Ia menyodorkan tangannya kepadaku, "Kembalikan lukisannya, itu benda berharga sepeninggalan guruku. Lagian itu hanya sebatas gambar."


"Gak. Kakek memberikannya padaku, jadi gambar ini resmi jadi milikku dan akan ku pajang di kamar ku."


"Dasar bocah, kamu masih kecepetan untuk tau soal jatuh cinta."


"Jatuh cinta? Apa itu? Makanan? Yang kutahu hanyalah perasaan suka. Aku cuma suka gambar ini dibandingkan gambar yang sering kulihat, kakek tau siapa namanya?"


"Gak."


"Alah, kakek boong nih, ketahuan. Boong itu dosa loh."


"Apa yang kamu tau soal dosa?"


"Aku bocah masih tiga tahun. Gak tau apa-apa soal dosa sama yang benar, jadi kakek harus ajari aku soal itu."


"Kamu pandai bercakap seperti Yudas! Sekarang aku akan panggil kamu dengan sebutan Yudas, kamu harus menjawabnya. Atau gak mau ku ajari hal lainnya?"


"Ja-jangan kakek, aku kembalikan gambarnya. Malam ini, kakek berjanji mau bercerita tentang 25 pejuang yang memperjuangkan ketauhidan Tuhan. Aku penasaran, silahkan panggil aku sesuka hati mu."


Kakek ambil gambar lalu ia gulung dan disimpan di lemari secara rapat bersamaan 13 bukunya berharga. Malam ini, kami menghabiskan waktu seperti biasa bercanda gurau dan kuberikan lontaran pertanyaan sampai bibirnya lebih tebal dari biasanya dan tidur di tengah malam.


...

Lihat selengkapnya