"Lari Lari Lari."
"Sial, kenapa ada orang berpakaian hitam di tempat ini. Padahal kami cuma numpang lewat."
"Jelaskan saja ke mereka nanti pa—" Seorang anak yang sedang kabur bersama kita mau, ia terkena peluru nyasar di kepala.
"Intinya harus kabur dari mereka. Kita semua berpisah, bersembunyi dan berpencar, kumpul di tempat yang sama."
Itu ide yang bagus, kami sama-sama mencuri sesuatu yang berharga dari kota penuh dengan kriminal yaitu makanan untuk bertahan hidup di usia 8 Tahun demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka semua tertangkap satu persatu, salah satu diantara yang berpakaian hitam tersebut berpengalaman dalam mencari orang lain. Aku yang satu-satunya selamat, meskipun untuk datang kembali sebagai pahlawan. Orang berpakaian hitam tersebut, ku tikam dari belakang, meskipun mereka berteriak kesakitan. Ku tak peduli menjadi seorang pembunuh dihadapan teman ku, ini semua untuk bertahan hidup di tempat yang kejam, rusak, tidak ada yang peduli. Karena mereka punya tujuan yaitu pemanggilan ritual sang Messiah.
Sebelum awal mula ini terjadi, aku yang sebagai narator akan ku jelaskan secara terperinci dan panggil aku Yudas, itu adalah nama sementara dari seorang kakek yang begitu berjasa semenjak masih balita. Orang-orang sekitar, termasuk anak-anak yang sebaya selalu memanggilku dengan panggilan Yudas. Aku anggap itu sebagai nama asliku.
...
Aku terlahir dari got, itu yang kuingat saat masih bayi. Selebihnya di asuh oleh anjing liar perempuan, yang dibuang oleh majikannya sama anak-anaknya. Anjing ini cukup pintar, mana yang bersih dan mana yang kotor. Ia juga cukup terawat beserta anak-anaknya, anehnya waktu bayi. Aku tak memiliki ingatan yang buruk, mereka juga gak pernah menjilati ku saat masih bayi, terus terjaga air liurnya untuk menghindari dari virus ataupun bakteri yang dibawa sama mereka.
Usia satu tahun, tak banyak yang kuingat cuma satu hari di mana. Anak-anaknya dibunuh oleh orang iseng, yang memakai benda cukup keras. Suara tersebut masih teringat dan aku dibawa lari oleh Ibu anjing dari anak-anaknya yang ditinggal, karena induk anjing tersebut percaya anak-anaknya bisa mandiri.
Ia membawaku ke pemukiman kumuh, di sana masih ada harapan kecil. Melihat bayi yang memakai baju tanpa bawahan, aku dikategori kan sebagai laki-laki oleh mereka, yang kebanyakan perempuan tanpa sosok seorang ayah.
Diasuh dirawat diberikan ASI dari berbagai wanita yang ada di sana. Anak-anak dari anjing tersebut juga selamat membawa bayi dari luar pemukiman satu persatu, namun makhluk yang satu ras dengan ku tak mampu mengasuhnya. Maka dari itu, Ibu anjing dari anak-anak nya yang merawat sendiri dan membagi tugas ke anak-anaknya menyuruh mereka mencari makanan. Karena tau susahnya jika tak ada satu makhluk pun gak bisa bertahan hidup sendirian.
Anak-anak anjing tersebut menjadi liar, mencuri makanan dari pasar secara kelompok. Yang selalu ada pemimpin di dalam regu nya, yang paling tertua memiliki tubuh sedikit besar dari anak-anak anjing lainnya.
Aku sejak kecil lebih suka berkumpul dengan mereka ketimbang dari ibu persusuan ku. Yang hanya memedulikan bayi laki-laki jika anak-anak anjing lainnya menemukan balita ataupun bayi yang baru lahir dan dibuang.
Diriku yang kecil belum tau apa-apa, ataupun berharap ke sesuatu, semoga bayi yang diasuh oleh anak-anak anjing ikut tumbuh besar tapi gizinya tak tercukupi. Ibu anjing tersebut sadar hal itu dan meminta pertolongan ke makhluk yang lebih superior dari mereka yaitu manusia.
Mereka gak mau membantu malahan mengkebiri anjing-anjing yang membawa petaka, di situlah aku pertama kali menangis sebagai seorang bayi dan ingatan masih membekas sampai sekarang.
Anak-anak anjing tersebut menggonggong hanya untuk meminta bantuan, para pria paruh bayah yang selama ini tak melakukan apapun cuma meratapi penyesalan sisa hidupnya. Mereka hanya berpikir ingin berguna dalam seumur hidupnya kembali sebagai orang ayah, meskipun bayi perempuan tersebut bukan anak kandung mereka melainkan anak angkat.
Sampai di umur dua tahun, aku mulai memiliki ingatan yang bagus, kadang kala suka tercampur dan terlupakan. Tapi, aku suka dengan namanya buku bergambar yang ada simbol ataupun tulisan yang besar, tangan ku selalu kotor karena menggambar di atas tanah dengan batu-batu yang ada dan menirunya.
Kami para anak-anak sering mendengar cerita dari kakek-kakek, para paruh bayah pria, wanita ataupun para gelandang disebut tunawisma dari berbagai bahasa, budaya yang masih suka beraktifitas, mereka bercerita sukarela dan ada yang masih mengingat seluruh momen yang seperti keajaiban secara tiba-tiba ada gerombolan anjing yang membawa perubahan ke distrik kumuh ini. Salah satu orang menceritakan yang sesungguhnya kami berasal dari mana dan anak-anak anjing yang menemukan kita mantan majikan yang mana, mereka memberi tau dan masih ingat tempat-tempat nya yang secara kebetulan ada mereka di titik-titik tersebut.
Mereka penurut dan jauh lebih pintar ketimbang manusia di sini, aku ingin tau caranya gimana. Lalu ada seorang kakek memberitahu ada tempat namanya TPA, tempat pembuangan akhir. Anak-anak sepantaran dengan ku pergi ke sana sebagai tempat bermain dan bersenang-senang, cuma barang-barang rongsokan sama mesin yang berjalan sendiri, tapi di sini gak ada makanan, air bersih secara gratis, begitu susah untuk dicari.
Kami belajar memburu dari anak-anak anjing lebih tepatnya mencuri, cuma itu satu-satunya cara, menghafal rute perjalanan berangkat sama pulang, memantau kebiasaan manusia besar, mencuri di saat mereka lengah oleh anak-anak anjing. Meskipun mereka punya senjata tajam, itu gak bisa mengancam mereka kecuali ada senjata jarak jauh yang mengenai mereka langsung membunuhnya.
Senjata tersebut adalah senapan api dan aku memiliki trauma dengan suaranya yang masih teringat sampai sekarang. Anak-anak anjing tak cukup bodoh, satu melawan dan terus menggonggong untuk terfokuskan oleh mereka yang bisa bergerak dengan lincah dari keempat kakinya. Ketika lolongan panjang dari atas bangunan oleh pemimpin anjing tersebut, mereka semua terkena gigit dan terkoyak dagingnya oleh anak-anak anjing dan melempar senjata nya dengan kaki-kaki mereka sampai terlempar di bawah kaki ku yang sedang bersembunyi di balik tembok bangunan. Melihat satu anak kecil yang disandra padahal kita tak berkumpul ataupun bersembunyi di satu tempat, secara kebetulan ditemukan dan aku ambil lalu pegang pistol tersebut ke arah penyandra tersebut. Mereka terus mengejek anak yang tertangkap dan satu-persatu ketahuan, aku dalam keadaan terpojok gak ada pilihan lain, langsung ku tembak pelatuknya mengenai ke salah satu kaki tapi meleset. Seketika ada orang lain yang menarik pelatuk secara bersamaan mengenai dahi ke orang yang aku tembak, ia langsung tewas di tempat, seolah-olah aku yang melakukannya, aku bengong dan terkejut tidak tau apa tindakan selanjutnya. Itu semua terjadi begitu cepat, manusia besar terkejut dengan hal itu, ia mengira aku yang membunuhnya. Saat aku terdiam untuk memahami apa yang terjadi, tangan ku masih bergemetar dan kesaktian dari dorongan ledekan pistol tersebut, mereka mulai emosi dan mau menyerang siapapun yang disekitarnya. Aku dibawa oleh pemimpin dari anak-anak anjing, tanpa membawa apapun selain rasa syok dan trauma yang seperti menggentayangi ku.
Kelompok tersebut terbagi dua, ada yang mencuri, ada yang mengalihkan perhatian seperti diri ku. Dalam kasus mencuri mendapatkan makanan bisa dibilang ini merupakan kesuksesan besar dan disimpan ke tempat-tempat persembunyian masing-masing anak sama anak anjing yang bersama mereka, tak semua dibawa ke distrik kumuh. Hanya secukupnya, untuk menghindari namanya perebutan. Apa yang dilakukan oleh manusia besar tersebut tak tinggal diam saja, mereka mencari setiap seluk beluk bangunan tua yang penghuni para gelandang untuk mengejar kami dari belakang dan mengendus jejak kami dalam waktu bersamaan setelah kami kabur dari distrik sebelah.
Manusia besar tersebut jauh lebih pintar dan berakal, aku tak ada di sana waktu itu. Masih dibawa ke atas bangunan yang tertinggi oleh pemimpin anak-anak anjing, yang bisa memantau dari ketinggian disitulah pembunuhan terjadi atas kemarahan mereka yang gak tau awalnya, cuma mencuri dibagi secara kelompok semua kena imbasnya. Mungkin ini adalah kesalahan ku, telah membunuh salah satu manusia besar yang mereka kira. Anak-anak banyak yang bersembunyi sama dengan hasil makan curiannya, ada beberapa yang pamer ke distrik kumuh. Suara keras tembakan yang tak ada hentinya, semuanya mati di tempat dimana mereka terakhir bernafas. Mayat-mayat terselempangan dengan genangan darah yang menempel di alas kaki para manusia besar tersebut.
Itu pemandangan yang sungguh mengerikan sekali, anak-anak anjing tak ada yang terbunuh. Karena mereka tau dari baunya, bahwa makhluk yang superior dari mereka bisa merasakan firasat hewannya yaitu hukum alam. Para anak-anak anjing tersebut sudah belajar dari kesalahan yang sebelumnya. Mereka pernah diasuh oleh mantan majikan yang memiliki sifat lebih buruk dari majikan sebelumnya. Ibu anjing tersebut naik ke atas dan menarikku untuk mengindari pembunuhan yang sedang dilakukan, aku memeluknya dan menangis ketakutan. Apa yang semua ini terjadi masih belum mengerti sama sekali, yang ku tahu lingkungan tempat kita tinggal, tak ada yang peduli. Kecuali hewan-hewan kecil yang memakan tubuh mayat tersebut, sebelum terjadinya pembusukan. Anak-anak anjing membawa nya ke TPA, sungguh ironi sekali, mereka masih mengingat bayi yang dibawa saat masih kecil malah terbunuh dan bersedih.
Sisanya ada anak-anak yang bersembunyi bersama anak-anak anjing lainnya bisa dihitung, berduka cita dan para wanita yang sudah menjadi ibu persusuan sekaligus gelandangan yang tak tau semua ini menjadi korban juga. Kecuali ada kakek tua yang bersembunyi di tempat tinggalnya dekat saluran pembuangan air. Yang siapapun tak mau ke sana, karena baunya tidak mengenakan dan sarang dari berbagai penyakit.
Kakek tua ini agak aneh, menyuruh tumpukkan mayat tersebut untuk tak dibawa ke sana. Malahan di kubur dalam-dalam dengan kendaraan yang besar yang gak tau fungsinya. Tapi bisa mengeruk tanah dari kulihat dan menaburkan sebuah cairan yang baunya juga aneh.
Dia membaca bacaan yang aneh dari buku yang tidak aku mengerti dan pahami. Para anak-anak anjing berbela sungkawa atas kejadian yang menyedihkan ini. Aku melihatnya dan merasa kelaparan setelah pengkuburan selesai. Cuma ada satu anak yang selamat yaitu diriku. Seketika distrik ini yang tadinya banyak orang dan sunyi, mereka gak ada. Beneran sudah tidak ada di muka bumi.
Aku merasa sendirian dan kesepian melihat dua hal yang bersamaan, antara kematian dan kehidupan itu sendiri yang sedang kurasakan. Apakah aku akan mengalami hal itu juga, kelak nanti.
Kakek tua tersebut membawakan sebuah makanan yang baunya agak mirip dengan cairan yang dituangkan di atas para mayat. Aku mengambilnya dengan tangan yang kotor tak peduli rasanya menjijikan atau apapun itu, rasanya bukan kehidupan. Aku merasakan hal yang sama apa yang sedang kurasakan orang-orang yang sudah di dalam sana.
"Ini bakteri dari umbi-umbian yang sering kamu makan waktu masih kecil, kamu pasti tak mengingat rasa tersebut, orang-orang juga gak suka dengan baunya yang menjijikkan, tetapi secara ironisnya mereka yang gak mau memakannya malah mengalami kejadian yang buruk diakhir hayatnya. Malahan kita berdua yang suka makanan ini bertahan hidup dan para anak-anak anjing itu juga terpaksa makanan menjijikan dari tong sampah hanya sekedar bertahan hidup. Biarkan mayat-mayat yang telah aku siram supaya tanah-tanah tersebut menjadi subur, makhluk mati apa yang kita pijak juga perlu makanan. Tanah sama bakteri tersebut, supaya mereka gak mati sia-sia."
Anak-anak mulai bertanya, kenapa manusia besar itu memburu kita itu yang aku sampaikan. Jawab dari kakek tua ini berkata, "Hahaha ... Itu apa yang kalian tuai. Mencuri bukan hal yang baik apalagi membunuh orang seperti mereka, mungkin keberuntungan sedang tidak berpihak pada kalian semua." Tapi, kami melakukan semua hanya untuk bertahan hidup. Apakah aku akan berakhir seperti mereka saat ini. Keharapan ku seperti sudah pupus ikut terkubur dengan para mayat.
Kakek tua ini menawarkan ke anak kecil yang baru berumur 2 tahun, tak tau apa-apa. "Gimana? Mau bekerja dengan ku? Tapi harus berpuasa dan menahan dahaga." Apa yang ia katakan padaku, sama sekali tidak mengerti.
Anak-anak lebih suka mengambil barang milik orang lain, jauh lebih mudah. Karena mencuri itu enak bagi mereka dengan hasil yang nyata.
Aku menoleh ke arahnya, tak tau mau menjawab apa. "Bekerja dengan kakek?"
"Jika kamu tidak mau, tak apa. Riwayat mu akan berakhir sama dengan mereka dalam hitungan hari."
Aku berdiri meninggalkan kakek tersebut, berjalan luntang-lantung tanpa tujuan dan tidur meringkuk kedinginan di sudut pojokan rumah gubuk bekas orang-orang yang telah dibunuh. Berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain dan berharap ada satu potongan makanan ataupun air yang tersisa, semuanya nihil. Melihat ke arah langit dan merasakan kedinginan yang telah menusuk tulang-tulang ku. Badan ku jatuh lemas di atas tanah yang sudah dingin. Semua tubuhku memerah membekas.
Ada satu anjing membawaku ke tempat yang lebih baik, tak tau ke mana. Di sana ada perapian yang menghangatkan tubuh ku dan menjatuhkan begitu saja, membuat ku tersadar sepenuhnya.
"Sudah kuduga kamu anjing yang begitu pintar." Aku mendengar suara yang kas dan yang sama belum lama ini.
"Bi ... ar ... kan a. ... ku m...at...i." Suaraku yang mau hilang dan begitu kering tenggorokan ku terasa serak, gak punya energi.
...
Tubuhku mulai membaik, secara perlahan ada cairan hangat yang masuk ke mulutku. Kulitku yang dingin tertutup oleh selimut seadanya dari bekas kain yang rusak. Kakek itu, memberikan makanan yang agak cair untuk mengisi perut ku keroncongan.
Saat aku sudah cukup istirahat dan semuanya terisi, tubuhku kembali normal melihat ada anak anjing dan kakek tua itu menyambutku.
"Gimana tubuh mu? Apa sudah baikan?"
Aku melihat keluar bukan untuk mengalihkan perhatian ada benda putih di atas tanah. "Itu adalah salju, waktunya untuk memanen dan mengambil salju tersebut." Kakek tua itu begitu aktif, ia menyekop tumpukan benda putih ke dalam ember lalu dimasukkan ke drum yang begitu besar.
Aku awalnya cuma sekedar melihat dan memperhatikan, secara inisiatif ikut membantunya dalam keseharian. Kakek memberikan ku sebuah pengetahuan, drum tersebut di dalamnya akan meleleh lalu disaring dengan bebatuan yang ada di dalamnya lalu berpindah ke drum lebih besar ada berada di atas ketinggian dengan pompa hidram yang bekerja secara otomatis. Cuma memberikan gambaran secara asal di atas tanah bersalju, aku cuma mengikuti pola gambar tersebut tanpa mengerti apa yang ia jelaskan.
Selama di musim bersalju, aku tak banyak beraktivitas para anak-anak anjing yang awalnya bolak-balik kemari, lama kelamaan semakin sedikit dan cuma bertahan satu anjing yang setia. Ia selalu berada di sampingku untuk menjaga ku.
"Kuberikan nama Johan ke anjing itu."
"Nama?"
"Ya, nama. Kamu sudah punya nama?" Aku menggeleng kepala dan merasa sedih. Memberikan nama ke anak manusia bukan perkara yang mudah, kakek tua tersebut sering memanggil ku dengan sebutan bocah, Kadangan berseru "Hei!" Jika aku dipanggil.
Aku selalu penasaran dengan kegiatan kakek selain memasukkan salju ke dalam drum, menyalakan api, memeriksa gudang bawah tanah ada beberapa makanan yang disimpan sama duduk diam berjam-jam ditemani sebuah lembaran yang begitu tebal.
"Ini namanya buku. Apakah kamu tertarik?"
Aku mengangguk dan diberikan sebuah buku yang ada gambarnya, sebuah kertas buram dan alat tulis dari arang. Kesibukan ku adalah belajar simbol-simbol belum mengerti pengucapannya. Kakek mengajari ku cara membaca, awalnya satu simbol aku terus berulang menulis dang mengucapkannya setelah bosan ke simbol lainnya. Setiap hari simbol-simbol tersebut masuk ke dalam otakku dan mengingatnya lalu dinamakan sebuah huruf.
Pada awalnya aku belajar dan selalu meniru apa yang diucapkan kakek. Secara perlahan aku bisa membaca buku yang ada gambarnya, aku tulis ulang dan mengimajinasikan beberapa hal untuk perkembangan yang jauh lebih besar. Kakek selalu menggunakan berbagai bahasa setiap harinya, ia suka berbicara dan bercanda. Aku suka bertanya, bertanya menanyakan artinya untuk memahami yang diucapkan.
Kakek tua itu merasa takjub dan gembira, aku bisa mengerti dan mengikuti apa yang diucapkan kakek. Akhirnya ia punya pendengar yang bagus, selalu penasaran apa yang ia ceritakan setiap malamnya sebelum kami pergi tidur.
Setelah musim salju mereda, tanah tersebut kembali normal sedia kala tidak ada benda putih di atas permukaannya.
Aku diajak kakek berjalan-jalan cukup jauh, ia mengenali ku apa itu pedagang, apa itu barang dagangan dan apa itu transaksi jual beli tawar menawar. Lalu memberitahu ku macam-macam bentuk ikan, sayuran, buah-buahan yang begitu nyata dibandingkan ada di buku gambar. Mencium, memegang, merasakan, aku hanya tersenyum dan tertawa sepanjang hari.
Saat pulang kembali ke rumah kakek, sebenarnya bukan rumah. Itu semacam gubuk-gubuk kecil, yang menyimpan berbagai barang dekat dengan TPS. Beliau mengajariku merasakan makanan yang enak itu gimana, meskipun keterbatasan bahan. Ia menyimpan berbagai makanan yang cepat membusuk, jauh jauh sekali berada di bawah tanah. Yang begitu dingin dan begitu melelahkan bagi kakek, tempat di sini pula persembunyiannya jika ada orang asing menggeruduk tempatnya kakek.
Aku diberikan sebuah buku, secara bertahap belajar mengenal angka. Tangan ku selalu kotor oleh arang, tanah liat untuk melampiaskan imajinasi ku dalam bentuk gambar. Aku belajar mengambil sesuatu, menyusunnya, dibentuk lalu dihancurkan dan terus diulang.
Setiap malam, kakek memberikan ku bacaan buku dongeng yang ringan secara perlahan naik tingkatan ke kisah cukup berat supaya aku bisa belajar memahami, berdiskusi dan mengkategori.
Kakek mengenalkan ku berbagai macam emosi, apa itu marah, sedih, senang, ngambek, kesal, cemberut, iri, cemburu, kasih sayang dan cinta. Itu semua bercampur aduk menjadi satu awalnya, secara awal aku mengerti dan selalu menggambarkan emosi yang begitu jelas. Karena belum tau apa arti kebohongan, berdiam dan memanipulasi. Itu belum boleh diajarkan, karena selalu penasaran dan terus penasaran di kala sedang sendirian aku mengambil buku secara acak dan membacanya. Tanpa sebuah kejelasan cuma bisa berimajinasi dan mengidentifikasi. Aku bertanya kepada kakek, apakah ada buku selain ini? Kakek langsung mengambilnya dan menjauhi yang sekiranya belum pantas aku konsumsi.
Pada saat itu aku sering bertanya, ke hal-hal yang kecil dan begitu cerewet mulutku akan hausnya ilmu pengetahuan. Otakku selalu kelaparan dibandingkan perutku sama tubuhku yang lelah.
Kakek memberikan ku berbagai macam ensiklopedia seperti tanaman, hewan, makanan, buah-buahan. Keinginan tahuan ku teralihkan selang beberapa waktu. Lalu diberikan pembelajaran menghitung saat pergi berbelanja dan mengenalkan apa itu uang berbagai macam merek nya dari berbagai negara.
Aku belajar menghitung dan mengingat perkalian dasar sebagai landasan pembelajaran logika. Memahami setiap paragraf yang begitu dan tertata namun tidak tau apa yang sedang disampaikan si penulis. Terkadang aku membacanya dua kali dan menulis di atas tanah liat.
Tak banyak hiburan di sini ataupun permainan, habisnya belum ada anak kecil ataupun pengangguran yang bisa ke mari setelah insiden mengerikan tersebut. Aku mulai merasakan rasa takut, ancaman, hal yang tidak mengenakkan lainnya namun aku tidak percaya dengan adanya hal mistis karena belum pernah melihat.
...
Musim dingin berikutnya, kami bertemu kembali. Waktu terasa sedang berhenti bagiku. Tidak ada kesibukan selain makan, minum, tidur. Aku belajar membaca setiap harinya, mengenal emosi jauh lebih jelas, mengontrol nya dan memanipulasi diri sendiri. Logika ku terus tumbuh begitu cepat, matematika merupakan pelajaran yang menyenangkan aku sudah melewati masa aritmatika sama aljabar. Probabilitas merupakan ilmu yang bisa berandai-andai, otakku menerima rangsangan yang luar biasa. Aku mengenal dari buku jurnalistik kedokteran itu namanya dopamin.
Belajar hal yang sulit, jika sudah bisa kuasai rasanya bikin candu sekali. Aku belum tau hal yang ku emosikan berupa kebanggaan namun itu semua dipatahkan oleh kakek. Dari segala bidang keilmuan yang ia miliki, langsung bisa menjawab apa yang kurasakan dan kuinginkan.
Kami setiap harinya berdebat dengan hal-hal yang kecil setiap harinya, ini bukanlah membangkang karena merasa janggal aja di otakku yang sedang berkembang begitu cepat. Kadang kala aku sedang emosi mencampurkan berbagai bahasa setiap kalimat yang ku lontarkan. Ia namun menjawab dengan bahasa asing yang tak pernah ku dengar. Itu rasanya begitu licik sekali. Aku penasaran begitu penasaran, kakek memberikan ku buku lagi yang begitu tebal dan tinggi untuk mempelajari sendiri secara otodidak. Karena ia tak mau mengajari ku, jadi aku anggap ini sebagai motivasi.
Saat musim dingin telah lewat, kakek berhenti memberikan ku sebuah makanan, minuman, tempat tidur yang nyaman, ruang untuk mandi. Beliau tak mengusir ku melainkan bernegosiasi, itu cara kita hidup diluar selain meminta tolong dan mengenalkan ku apa itu pekerjaan, karena beliau sudah menganggapku memilki pengetahuan yang cukup meskipun tubuhku anak kecil, aku mampu berpikir secara matang seperti orang dewasa muda.
"Ada sebuah pepatah anak muda, tidak bekerja tidak ada makanan. Jadi, kamu bekerja terlebih dahulu sebelum memakan hasilnya. Apakah kamu bersedia?"
Meskipun beliau berkata demikian, aku dengan mudahnya membantah pepatah tersebut, "Tidak ada makanan, gimana orang bekerja karena gak ada energi yang diisi. Kakek kalau berdagang di pasar, apakah cuma membawa niatnya aja tanpa membawa barang dagangannya?" Karena ada kasus di mana, orang kelaparan dipaksakan bekerja akan meninggal terlebih dahulu.
Ia malah tertawa padaku, "Kamu pintar sekali bersilat lidah anak muda. Itu tepat sekali yang kamu katakan. Akan kumasakkan sesuatu pada mu." Panggilan ku juga berubah gak disebut bocah lagi.
Aku tidak ingin menjadi penikmat saja di zona nyaman bisa-bisa lupa dengan daratan, aku ingin tau proses pembuatannya, caranya berladang dan berkebun di tanah yang subur habis musim dingin mereda. "Kakek, tolong ajari aku."
Aku sudah tau dengan sebutan sekop, cangkul, cungkir yang biasa digunakan keseharian namun belum mengenal alat pembantu lainnya seperti cangkul berbentuk garpu dan celurit.
Kegiatan dan kesibukan ku makin bertambah, aku belajar dan mencari buku tentang tanaman, cara berkebun dan membangun sistem irigasi ataupun penyiraman.
Sering kali aku mengambil barang bekas, di mana ada anjing liar yang sering membantuku jika dalam kesulitan membawa benda yang berat.
"Terima kasih banyak." Aku tersenyum ke anjing tersebut dengan membalas mengelus tubuhnya dan perutnya.
"Johan, kamu sudah kembali. Apa yang kau temukan di luar sana?" Ia langsung berdiri dan mendekati kakek tua tersebut.
Anjing gak bisa berbicara, namun kakek tau apa yang ia sampaikan. "Kakek, apakah ada bahasa anjing?"
"Tentu saja tidak ada, yang ada malahan hinanaan bagi orang dungu."
"Hinaan? Apa maksudnya?" Kakek gak menjawab, ia ingin aku cari tau sendiri. Aku sering berbicara kepada Johan untuk bisa mengenalinya lebih dekat. Pada awalnya ia memang jarang sekali kemari dan selalu bersama kerumunan nya.
"Anu, maaf atas mengganggu waktu kalian. Apakah kalian penduduk asli distrik ini?" Dua orang yang berjas rapi, namun salah satunya dilepaskan jas hitamnya diselendangkan di atas lengan.
"Kalian siapa? Ada keperluan apa?" Ucap kakek.
"Maafkan kami belum memperkenalkan diri, aku inspektur Yorda. Ini rekan ku Inspektur ..." Ia memberikan dua kartu nama, kakek tidak mempedulikannya langsung diberikan padaku.
"Inspektur Yorda K. Weston, Penjaga keamanan kriminal tingkat satu. Inspektur Nolan Erickson, penjaga keamanan kriminal tingkat satu," bacaku.
"Anak muda, baca mu lancar sekali. Berapa umur mu?" Tanya inspektur yang baru menyerahkan dua kartu nama.
Aku melihat ke arah orang tua di sebelah, "Kakek, umur ku berapa tahun?"
"Melihat biologis nya, sekitar 4 sampai 5 tahun," ucap inspektur Yorda.
"Bukan pak Yorda, perkiraan ku 3 tahun."
"Dia jauh lebih muda. Apakah mungkin seorang anak umur 3 tahun bisa lancar membaca?" balasnya.
"Hmm ... Aku rasa tidak," balas inspektur belum mengenalkan diri.
"Sudah cukup. Kalian kesini bukan untuk membahas umur cucuku kan?" ujar Kakek.
"Kakek, aku ini cucu mu? Kurasa kamu sekedar memungutnya dari Johan," polos ku.
"Diamlah sebentar bocah!" bentaknya.
Aku menangis, baru pertama kali kakek memarahiku. "Huwaaa, kakek jahat. Padahal aku cuma sekedar bertanya."
Mereka bertiga kewalahan menghadapi ku. Salah satu inspektur memeriksa saku jasnya, "Kamu mau permen anak muda?"
"Permen?" Aku mengambil dan berhenti nangis sejenak. "Ini tidak menyehatkan," langsung aku buang ke atas tanah.
"Eeeh?" keluh mereka.
Johan mendorong tubuhku, untuk menjauhi mereka. "Padahal aku bertanya pada diriku sendiri hiks. Umur ku saja tidak tau hiks, aku hanya sekedar anak buangan. Nama aja hiks, nama saja hiks, aku gak punya. Kenapa anjing seperti mu bisa memiliki nama, itu gak adil sama sekali. Hiks ... Hiks ..."
Mereka bertiga datang menghampiri ku, "Apa mau kalian? Jika mau menghibur pergi dari sini, di sini cuma kebun kosong," untuk mencoba mengusir mereka sambil membelakangi.
"Kami ingin bertanya, tahun lalu ada genosida secara masal di distrik ini. Apakah kamu salah satu anak yang berhasil terselamatkan?" ucap Inspektur dengan nada yang begitu dingin.
Aku melihat mereka dengan muka marah, "Kalian gak peka sekali, ada anak kecil bukannya untuk dihibur malah diberikan pertanyaan gak jelas. Kalian pikir aku gak selamat? Lihat pakai mata kepala kalian secara lebar-lebar. Jika mau tanya secara detail, aku gak tau apa-apa."
"Pak Yorda, sudah kuduga ia begitu pintar sekali."
"Kakek, apakah anda mengajarkan pendidikan padanya?"
"Kakek, hanya membagikan cerita halu nya. Dia payah sekali dalam mengajar, aku belajar sendiri secara otodidak," potong ku.
"Bocah, kamu tidak sopan sekali dengan orang yang sudah menyelamatkan mu," keluhnya.
"Sejak kapan aku meminta pertolongan pada mu, bukankah kamu melihat sendiri keputusan ku untuk menghindari mu. Jika gak ada Johan, aku gak akan terselamatkan. Waktu itu, aku sudah siap mati dengan anak-anak yang dibunuh. Aku diberikan kesempatan untuk hidup, karena mulut ku menerima cairan yang kamu masukkan ke dalam tubuh ku. Berarti aku berhutang nyawa pada mu. Jangan kasihani bocah yang gak punya nama ini. Apa untungnya bagi kalian?" Sambil menahan isakan tangisan.
"A-Anu ..." salah satu dari mereka mencoba berbicara secara baik-baik.
"Apa? Kalian belum puas? Mayatnya ada di dekat kuburan TPS sebagai buktinya, kakek tua bangka itu tau letak nya. Biarkan aku sendirian!" teriak ku dan berdiri lagi pergi ke gubuk ku sendiri dan menyeret papan kayu yang begitu berat.
Orang dewasa ternyata jauh lebih egois dibandingkan anak kecil. Mereka melakukan hanya demi pekerjaan tanpa memedulikan perasaan si korban, apakah itu sebuah profesionalitas? Di mana sisi kemanusiaannya. Mereka hanyalah budak sistem yang mengabaikan jati diri.
Johan menggonggong di luar gubuk ku, sepertinya ia mau menjaga ku dan menjauhi mereka. Aku habiskan waktu di sini untuk membaca buku, kalau capek ya tidur, kalau lapar aku pergi ke distrik sebelah dan berjalan kaki cukup jauh. Meskipun gak punya uang, aku bisa meminta dengan menunjukkan belas kasihan.
...
Aku melihat tiga orang dewasa dekat dengan api unggun di tengah malam. Saat ku dorong balik pintu kayu berat ini. Mereka mulai memanggil ku, karena aku tau sedang lapar.
"Gimana? Mau bergabung bersama kami? Sebagai permintaan maaf si kakek." Dia begitu akrab sekali dengan anak kecil.
"Gak, aku mau masak sendiri." Tolak ku.
"Dia sedang PMS?"
"Pak Yorda, itu gak sopan sekali. Dia masih kecil belum baligh."
"Kakek, biarkan aku memasak. Aku sudah sering melihat caranya memasak. Masakan mu selalu kurang enak," pintaku secara jujur
"Boleh, kamu masih kecil jadi lihat-lihat aja dulu." Ia memperkenalkan ku berbagai perkakas.
Aku belajar cara memegang pisau terlebih dahulu, gimana caranya memotong, mengiris, mengupas dan menghancurkan umbi-umbi berlapis yang membuatku mengeluarkan ku air mata.
"Kakek, mata ku perih sekali."
"Eee ... Jangan menyeka dengan tangan kotor. Kamu harus cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu," beliau menjadi gelapan dan merasa rikuh.
"Tapi ini perih banget kakek, aku sudah gak tahan," keluhku.
"Sabar sebentar, aku ambilkan air ga—" Punggungnya mulai sakit-sakitan.
Aku tidak bisa melihatnya begitu jelas, "Kakek, jangan mati dulu."
"Siapa yang mau mati?! Aduduh punggung ku malah encok."
Ini sudah gak tertahankan, aku merasa sedang menangis meskipun sudah diseka. Air mata ku gak bisa terus berhenti.
Salah satu dari mereka mengambil air dan membasuh muka ku lalu menyeka dengan sapu tangan. "Sudah bersih semua anak muda. Sudah mendingan?" Jawab ku mengangguk.
"Apa yang kamu rasakan anak muda, setelah memotong bawang itu?" tanya Inspektur Yorda.
"Aku tidak tau. Entah kenapa, menangis secara sendiri," jawabku.
"Apakah waktu itu, kamu menangis juga?" Dia mulai mengungkit hal itu lagi, sungguh keras kepala sekali.
"Pak Yorda, jangan bahas itu lagi."
"Tidak tau, aku gak terlalu mengingatnya begitu jelas. Hanya merasakan ketakutan, apakah semua orang besar bisa melakukan hal kejam ke anak kecil yang gak tau apa-apa. Cuma untuk bertahan hidup dan tidak beruntung terdampar ke sini." Sebenarnya, aku masih mengingatnya lewat ingatan pendengaran di telinga ku. Suara tembakan tanpa henti dan teriakan gila sama tawaan yang kalut. Tubuhku merinding bergetar ketakutan.
"Tenangkanlah dirimu. Anak muda, jangan diingat." Inspektur yang membantuku menyeka air mata, menenangkan ku. "Aku sungguh takut sekali, benar-benar takut. Waktu itu, aku memegang senjata yang jatuh di dekat ku. Salah satu dari mereka sadar, lalu menyandra satu anak kecil. Mereka terus menerus mengejek ku, tangan ku masih merasakan beban berat sama dorongan senjata tersebut. Itu membuat ku terkejut, kupikir itu adalah awal mula kejadian tersebut. Tapi, orang yang mengejekku tak terkena sama sekali waktu aku menarik pelatuknya, namun di waktu secara bersamaan kepalanya langsung pecah di depan mata ku. Aku begitu syok melihatnya dan diam mematung. Setelah itu cuma mengingat suaranya saja."
"Sudah cukup, sudah cukup anak muda. Kamu gak perlu menjelaskan lebih detail lagi."
Perasaan ini, rasa takut ini, tak akan pernah menghilang seumur hidupku. "Paman, ingatan ini terus menghantuiku setiap kali aku sedang bermimpi. Makanya aku selalu membaca buku dan menggambar begitu banyak untuk mengalihkan ingatan ini."
"Tidak apa, kamu gak perlu takut. Kamu sudah aman." Tangan kecilku menggenggam erat tubuhnya.
"Anak muda, selanjutnya kamu melihat apa setelah mereka pergi dari sini?" Kekehnya.
"Inspektur Yorda! Itu sudah cukup, dia sedang mengalami trauma dan syok hebat."
"Aku melihat banyak mayat-mayat yang berjatuhan di atas permukaan tanah. Ibu menyusui ku juga hampir diburu semua tanpa terkecuali, termasuk orang-orang gak bersalah para gelandang sama penghuni di dalam gubuk. Tidak ada yang berani melawannya," genggaman ku semakin kencang.
"Apakah kamu masih mengingat wajah si pelaku?" Aku terdiam termenung.
"Sudah cukup. Anak muda, kamu gak perlu menjawab dan menjelaskannya lagi." Aku melepas pelukannya dan menggambar muka di atas tanah, kutukan ini harus dilepaskan.
"Dia jago menggambar, ciri-cirinya begitu jelas. Ingatannya juga begitu bagus. Nolan, sepertinya para pelakunya. Aku sudah tau." Sebuah cahaya kilat saat aku sedang membelakangi.
"Siapa pak Yorda?"
Ia menunjuk ke arah muka yang aku gambar, sebuah simbol yang gak tau apa artinya.
"Kita tak memiliki cukup kekuatan, setidaknya ke sini gak membawa tangan kosong. Anak kecil ini sudah menjadi bukti yang kuat apa yang ia ceritakan."
"Apakah anda gila?" sangkalnya.
"Ini memang terdengar gila dan gak masuk akal. Lagian sudah kurekam, mereka gak akan percaya narasumbernya dari anak kecil dan kita sudah tau letak mayatnya yang terkubur. Ini bukanlah kasus yang bisa kau pecahkan sendiri. Ini adalah pilihan siapa yang benar dan siapa yang salah, jika kamu menggali lebih dalam. Keluarga besar mu bisa terancam balik."
"Kita beneran gak bisa melakukan apa-apa?" kecewanya.
"Ya. Ada kalanya kita harus menyerah, kamu memang jenius dan baru mendapatkan calon pasangan. Kamu punya ambisi dan misi hidup begitu jelas. Anak muda, apakah kamu setuju dengan pendapat ku?"
"Tidak tau dan kamu begitu jahat terus mencerca pertanyaan. Tapi, aku berterima kasih pada mu. Rasanya begitu lega bisa membagikan rasa takut ini sama trauma nya," ujar ku.
"Tekad kamu kuat sekali, gimana mau jadi anak angkat ku?" tawarnya.
"Anda jangan keluarkan pernyataan yang begitu konyol. Aku masih ada hutang nyawa sama kakek, kenapa kakek gak bantu aku? Sama mengusirnya?"
"Bocah. Apa yang kamu harapkan dengan pria paruh baya seperti ku. Sekarang punggung ku sakit sekali."
Aku suruh anjing itu untuk menubruk tulang belakangnya begitu keras. "Johan tunggu sebentar, apa yang sedang kamu laku aaaaaww—" Satu korban jatuh di atas tanah.
Kakek tua itu bangkit kembali, "Bocah. Apa yang kamu pikirkan? Menyuruh Johan melakukan hal itu."
"Gimana punggung kakek? Apakah masih sakit?"
"Aku sudah sembuh," ia melihat tubuhnya sendiri bisa berdiri tegap. "Aku sudah sembuh, hohoho. Johan, terima kasih banyak. Kamu anjing yang baik sekali."
Suara ku tiba-tiba menjadi serius, "Kakek. Kenapa waktu itu kamu tidak melawan mereka? Ataupun menolong nya."
"Bocah kuberitahu pada mu. Terkadang kita harus kejam untuk bertahan hidup dan itu merupakan bentuk proses yang paling susah, itu adalah rasa Ego kita dan kita harus mengalihkan hati nurani kita."
"Ego? Hati nurani ... Sebenarnya itu apa? Hati di dalam diri kita sebagai penawar racun, kalau ego aku sudah tau. Kalau nurani itu sebenarnya apa?"
"Anak muda, sepertinya kamu tidak puas dengan jawabannya," ucap Inspektur yang masih kupegang.
"Sedikit, melihat kakek sering sakit punggung. Mana mungkin ia bisa melawannya," ejek ku.
"Bocah, kamu mulai berani menghina ku."
"Aku berbicara soal fakta, punggung mu sudah sembuh kan? gak mau ku pijat, malam ini?"
"Tolong bermurah hatilah kepada kakek tua ini, anak muda," ucap kakek.
"Ya ya, nanti habis makan. Aku belum selesai memasak."
"Kamu mau bikin apa anak muda? Bolehkah aku membantu?" Aku terima tawaran dari inspektur muda yang pengertian ini.
"Hati nurani, sebenarnya ada di jauh lubuk hatimu terdalam." Tiba-tiba inspektur dingin ini nyeletuk. Kamu tidak pantas bilang begitu dalam benakku, mereka pasti berpikir demikian. "Jika kamu mau memasak, aku akan membantu juga. Aku sering melihat istriku memasak makanan enak untuk satu keluarga."
"Pulanglah, ke rumah asal mu. Bukannya ia sedang menunggu mu untuk bisa makan malam bersama. Aku tidak perlu bantuan mu. Inspektur ini saja sudah cukup membantuku."
"Sepertinya, aku kurang disukai oleh anak kecil. Putri ku saja pergi meninggalkan rumah demi menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi di usia muda nya. Aku payah sekali sebagai seorang ayah. Tapi, istri ku belum lama ini telah melahirkan seorang putri lagi dengan normal."
"Kalau gitu cepat pulang lah, jenguk istri mu di rumah sakit. Sekalian periksa dokter psikiater untuk memeriksa kewarasan mu, setelah mengintrogasi anak kecil yang trauma ini."
"Sebenarnya, kami ingin pulang. Tapi, keluar malam hari tempat ini gak aman sama sekali. Jadi, kami menetap di sini semalaman."
"Kakek gak keberatan menerima tamu yang gak diundang? Ku kira kamu akan mengusir nya."
"Sudah ku coba dan diperingatkan berkali-kali. Lewat jalur belakang, saluran pembuangan tersebut. Tapi gak tahan sama bau di dalamnya."
"Uwwah, payah. Dua orang dewasa yang payah. Jika kalian ingin hidup, harus berkorban. Nahan bau saja gak kuat," ejekku.
"Anak muda, aku sudah mengupas kulit luarnya kentang sama wortel." Aku juga mengupasnya dan masih mampu berkomunikasi, tapi hasilnya hancur berantakan tak seperti milikku. "Terima kasih banyak, bantuan anda sudah cukup. Sisanya aku bisa melakukan sendiri."
"Kenapa? Kenapa? Aku melakukan hal yang salah?"
"Kamu payah sekali memegang pisau, kalah sama anak kecil. Lihat, tangannya yang kecil dan gemulai seharusnya memegang mainan atau boneka kesayangan. Ia malah terampil memegang benda yang berbahaya," ejek rekannya. "Kamu sedang bikin kare kan? Nasinya sudah matang, sebenarnya kami juga belum makan malam. Kakek mu sepertinya belum, untuk menunggu mu keluar dari sana," imbuhnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, ini sebagai permintaan maaf ku sudah egois ke kalian."
"Anak kecil seharusnya gak memiliki pemikiran orang dewasa. Aku hanya memberikan pengetahuan dasar untuk mengenal huruf, simbol, angka sama cara membaca. Bocah, sudah sejauh mana buku yang kau baca?"
"Apakah itu tanggung jawab kakek, yang telah memberikan ku pengetahuan? Aku hanya mengambil buku yang ada di gudang secara diam-diam, waktu kakek sedang tidur. Menggunakan katrol yang ada di atas, aku cuma bikin pendorong nya saja dari roda troli bekas."
"Itu hal yang luar biasa anak muda. Sudah kuduga, aku tertarik pada mu. Aku ingin kamu menjadi anak angkat ku. Kakek itu gak mau menganggap mu sebagai cucunya."
"Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak mau."
"Tidak apa. Tidak apa, bocah. Itu adalah pilihan mu sendiri, jika kamu ingin menetap di sini sebagai cucu ku tidak apa. Jika kamu ingin ikut bersamanya, aku juga tidak keberatan. Malahan kamu bisa mendapatkan mass depan yang lebih baik."
"Gak mau ... Aku gak mau, hatiku sudah menentukan ingin tinggal dengan siapa. Aku ingin tinggal bersama kakek, jadi cucu angkat mu, aku malahan merasa senang." Itu jawaban dariku. Tangan ku berhenti memasak, untuk menyeka air mata ku yang berlinang kembali.
Mereka melanjutkan proses memasak ku yang berhenti ditengah pembuatannya, tinggal mengaduk kuali sampai airnya mengental. Bau sedap bisa tercium dari berbagai arah.
"Maafkan kakek telah membentak mu. Aku merasa senang, kamu memilih tinggal bersama ku."
Aku balik badan dan memeluknya begitu erat, tangisan ku tak berhenti di waktu yang cukup lama. "Sebenarnya hiks, waktu itu hiks ... Aku kesepian hiks ... Aku sangat kesepian hiks ... Tidak ingin mati."
"Yosh yosh, tidak apa. Aku sudah membulatkan tekad ku untuk merawat mu. Jangan menangis terus, kamu harus tumbuh menjadi orang yang kuat di lingkungan yang keras ini," beliau terus mengelus rambutku.
"Kakek, anak muda. Kare nya sudah matang, ayo makan keburu dingin."
"Ayo, kita makan malam bersama. Kamu tidak keberatan makan bersama dengan dua tamu yang tidak kamu kenal?"
Wajahku mendongak ke atas, melihat raut mukanya yang sudah keriput. "Tidak apa, asal bersama kakek. Itu sudah cukup."
Malam yang dingin ini berubah menjadi kehangatan, kami saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Aku sungguh beneran senang, bisa tinggal bersaman kakek. Karena aku tau, kakek memang bisa hidup sendirian dan sudah terbiasa merasakan nya. Tapi, aku ingin datang mengisi hatinya yang kosong, satu sama lain. Johan, anjing pintar ini sudah kuanggap sebagai teman ku. Kedua inspektur tidur semalam di sini, tempat ini memang sungguh berbahaya, gak layak dan gak cocok untuk tinggal anak kecil seperti ku.
-------------------------------------------------
"Gak bisa tidur," aku pergi dari gubuk mereka juga masih terjaga. Baterai penerangan sudah habis, cuma tinggal api unggun yang terus menyala. Ada perasaan yang gak mengenakan dari sudut kegelapan. Salah satu dari mereka terus berjaga secara bergiliran. Aku masih anak kecil dibiarkan tidur dekat mereka sampai nyenyak.
...
Pagi harinya, kedua inspektur sudah pergi sebelum fajar menyingsing. Kakek masih lelah tertidur, Johan pun sama. Aku memeriksa persediaan makanan di bawa tanah menggunakan troli yang sudah dikaitkan dengan katrol. Turun ke bawah masukkan ke keranjang, lalu naik lagi secara perlahan ke permukaan yang menanjak. Pagi-pagi aku sudah berolahraga dan begitu capek, terutama tenggorokan ku terasa kering.
Aku memompa air dari dalam tanah, tenaga ku gak cukup kuat tapi terus berusaha sampai mengisi embernya saja. Aku bangunkan Johan, tak ada tanggapan sama sekali. Mau masak pun cuma sup sayur bening ditambah garam sama lada. Gak enak agak sedikit hambar, gak sesegar beli langsung dari pasar.
Aku masih lapar, gak ada energi untuk baca buku, kertas buramnya juga habis, gak bisa ngapa-ngapain setelah mereka terbangun di siang hari. Duduk-dudukan sambil mengamati semut yang ada dikebun, masih dalam proses pertumbuhan. Gabut sekali rasanya, semalam aku bermimpi begitu indah tak ada bayangan kelam kala itu.
Kakek akhirnya bangun, Johan pun sama. "Aku lapar, aku capek, aku haus." Dia melihat masakan dan mencicipinya, ku katakan aku bosan. Ingin makan makanan yang lain. Beliau membuka gudang makanan yang diawetkan, umbi-umbian yang difermentasi sampai lahap dan habis, ku abaikan soal baunya.
Siang hari sampai sore, aku menggambar anatomi manusia di atas tanah yang begitu besar. Kakek memberitahu ku bagian-bagian organ yang ada di dalam kita dan penasaran kenapa kita selalu memiliki dua pasang organ.
"Kakek, di kepala kita memiliki dua pasang mata, dua pasang telinga, dua lubang hidung, kenapa mulut sama otak cuma satu?"
"Kata siapa gak memiliki pasangan, otak kita memiliki 4 bagian. Otak kiri mengatur anggota tubuh mu bagian kanan, otak kanan sebaliknya, memiliki otak depan sama otak belakang. Mulut pun sama bukan di depan melainkan di dalam rongga saat kita sedang mengunyah."
"Kalau Lidah gimana? Jika kita punya dua pasang lidah, kita bisa lebih peka terhadap rasa."
"Kalau makan makanan enak memang terasa jauh lebih nikmat. Tapi, kalau kita minum obat rasanya akan jauh lebih pahit."
"Uweek ... Aku gak suka rasa pahit. Tapi kek, jika kedua mata buta. Memiliki dua lidah bisa menjadi alternatif penglihatan, lewat sensor pengecapnya."
"Dari mana kamu tau hal itu?"
"Jurnalistik yang aku baca akhir-akhir ini. Ternyata lidah memiliki ribuan saraf sensorik. Tapi, satu aja cukup jika tiap hari merasakan makanan kakek yang ancur begitu rasanya. Malahan tersiksa."
"Itu makanan yang menyehatkan yang ku buat, meskipun sedikit hambar. Itu masih bisa dikonsumsi."
"Kakek, jarang membeli rempah-rempah. Kare semalam yang aku masak rasanya enak sekali. Gak mesti makanan sehat harus hambar rasanya."
"Lanjutkan saja menggambar mu turun ke tenggorokan, apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?"
"Hmm ... Mungkin perut kita yang katanya memiliki usus sepanjang 8 meter, apakah itu benar? Kenapa bisa muat."
Kakek melipat kertas bekas di masukkan ke kotak kecil lalu diberikan sedikit air supaya menyusut dan mengembang kembali jika kertas tersebut kembali kering. "Itulah kehebatan usus kita, bisa kembang susut begitu fleksibel. Lambung menghancurkan makanan yang lembut setelah kita kunya lalu diubah menjadi energi."
"Terus kalau paru-paru gimana? Saat kita sedang bernafas, kenapa perut kita yang mengembang bukan di dada."
"Karena kita memiliki diafragma yang ada di bawah paru-paru, tempatnya berada di atas usus sama hati. Kalau di dada sebenarnya paru-paru kita mengembang namun tak terlihat jelas yang terhalang tulang rusuk begitu kaku."
"Ini pertanyaan terakhir, kenapa hati manusia cuma satu. Kalau sakit hati kenapa ada dijantung, itu begitu ambigu sekali.
"Iya. Itu ada di bawah paru-paru dan letaknya juga gak begitu jauh dari jantung. Jika kamu merasakan jatuh cinta kepada seseorang, jantung mu akan berdegup lebih kencang. Bukan hati mu, itu sebatas perumpamaan kalimat romantis. Dalam ilmu kedokteran, sakit hati itu gak ada kecuali kamu minum air keras begitu banyak yang terkontrol bisa berbahaya." Sambil menunjuk dan mencoret-coret di atas tanah.
"Kakek pernah mengalami jatuh cinta?"
"Pernah, tapi gak punya waktu untuk mengurusi nya."
"Hooh, pantes kakek gak punya cucu atau anak."
"Gak sopan sekali. Gini-gini, aku bisa menarik perhatian wanita."
"Di tempat ini cuma kita berdua sama satu ekor anjing." Johan menggonggong.
"Kamu tidak ingin pergi keluar untuk jalan-jalan?"
"Belum waktunya, aku masih belum selesai menggambar anatomi ini. Kalau kakek mau jalan-jalan akan aku temani."
"Tidak apa, kakek ingin istirahat lagi. Semalam, rasanya gak begitu nyaman untuk tidur."
Sudah kuduga, ia merasakan hal yang sama apa yang kurasakan. "Malam ini, aku bisa tidur bersama?"
"Ya. Mau bacakan dongeng lagi?" Penuh kegirangan aku menjawabnya. Kali ini, ia ingin membawakan cerita yang seperti apa. Aku tidak sabar dan membawaku pergi ke pasar untuk berbelanja bersama. Tak ada yang mengikuti, Johan tetap ada disamping kami sebagai pengawal. Kami membeli ikan sama minyak goreng. Makan malam kali ini cukup mewah, tetapi harus mengambil sisa makanan yang tersisa di bawah tanah.
Kami bagi tugas, Johan mengisi air dengan menarik pakai tuas yang sudah diikat. Aku memutar katrol untuk menarik troli yang berisikan serabut kayu. Kakek ... Kakek ya istirahat sejenak habis berjalan cukup jauh.
Aku sama Johan mandi terlebih dahulu, menggunakan yang seadanya membilas dengan air tak ada yang namanya bahan kimia, masakan pun juga sama.
Makan malam hari ini agak sedikit berbeda ada bumbu merah yang membuatku penasaran sangat penasaran. Ingin kucoba namun tak diizinkan oleh kakek. Tapi, aku sudah terbiasa rasa pedas dari lada. Kalau namanya cabe ataupun paprika merah yang ada di buku gambar sayuran belum pernah kumakan.
"Cuma sedikit saja, kakek." Menaruh di atas sup daging yang rasanya manis asin gurih, mulut sama lidah ku rasanya terbakar hanya sedikit menangis tapi rasanya begitu enak dan nagih.
"Sepertinya kamu kuat makan makanan pedas. Jangan terlalu keseringan lambung mu masih belum kuat menahannya." Ia memberikan cairan putih yang baru pertama kali ku lihat, ini adalah susu tanpa perasa buatan. Aku langsung menyukainya tapi harganya begitu mahal, kakek tak sering memberikan ku susu murni berkualitas ini.
Sebelum membaca dongeng, aku bertanya perihal tentang diriku menurut pandangan kakek. "Apakah aku normal anak kecil bisa mengungkapkan perasaan secara mendetail?" Kakek menjawab itu hal yang normal, membaca buku yang sulit dari berbagai bahasa, menghitung yang sudah bergelut dengan logika, menggambar sesuai apa yang ada di imajinasikan termasuk memecahkan masalah dan membuat solusi.
"Bocah, engkau dianugerahi sebuah kejeniusan. Anak seumuran mu keseharian nya cuma bermain, makan, tidur, bersenang-senang, meskipun penasaran dengan segala hal yang ada disekitar namun tak memiliki kepintaran seperti mu. Mereka berdua juga menganggap mu sebagai anak yang pintar dan spesial."
"Alasan ku untuk lahir itu apa?"
"Lagi-lagi kamu memberikan pertanyaan yang berat. Kakek gak bisa menjawab, kau harus menemukan tujuan hidup mu sendiri. Sekarang kamu masih kecil ada keterbatasan fisik sama energi. Kau akan jadi orang yang luar biasa kelak nanti."
"Tetapi di mata kakek, aku biasa-biasa aja. Memiliki anggota tubuh yang normal, sifat dan perilaku masih anak kecil, ingin egois menang sendiri. Menurut ku, kakek juga jenius."
"Benarkah? Hahaha ... Aku hanya berumur panjang dan memiliki pengalaman yang didampingi pengetahuan umum secara luas. Kakek sering kali berkeliling dunia saat masih muda. Semakin haus akan adanya hal yang tidak diketahui, semakin kecilnya keberadaan kita."
"Apa maksud kakek? Keliling dunia itu gimana rasanya?"
"Menyenangkan melihat berbagai hal yang indah di luar sana, tetapi kamu sudah tidak memiliki kesempatan yang sama."
"Kenapa? Apakah dunia sama seperti di sini atau di pasar?"
"Hampir mirip. Tapi, kita masih bisa bernafas. Di sini, kita gak kesulitan mencari air. Karena zat sebut begitu berharga, kakek sudah menciptakan alat penyuling lalu mengambil ada di dalam gorong-gorong tersebut. Jika tempat ini dihancurkan, kakek sudah tidak memiliki apa-apa."
Aku mendekati nya dan menyentuh bajunya yang lusuh. "Kakek, masih ada aku di sini."
"Hahaha, itu benar juga. Aku sudah punya cucu angkat. Haa— Bocah, kita gak bisa hidup sendirian. Kadang kala kakek juga merasakan kesepian walaupun sakit-sakitan, namun tetap berusaha hidup. Terima kasih telah menetap berada di sini."
"Sama-sama."
"Mau bacakan dongengnya?" Aku memanggil Johan, untuk bisa bersandar di tubuhnya. Kakek mulai bercerita manusia pertama yang turun ke dunia, namun sebelum itu ada namanya Valhalla dalam bahasa Viking itu adalah Firdaus. Sering sekali menyelipkan kosa kata yang selalu membuatku bertanya-tanya apa arti kata-kata yang diucapkan.
Di dunia ini ada namanya konsep ketuhanan, tetapi mereka jumlahnya semakin sedikit karena kemajuan teknologi yang begitu pesat. Aku hidup berada di zaman ujung tanduk, tinggal menghitung tahun kapan manusia seperti kita bisa dimusnahkan oleh Tuhan.
Aku belum percaya karena mata kepala kita tak di desain untuk melihat hal yang gaib, otak yang ada di dalam pikiran kita tak bisa menerima sebelum ada bukti. Namun ... Namun ... Kakek memberikan nasehat kepada ku. "Kamu percaya memiliki akal pikiran yang ada di dalam kepala mu?" Sambil menunjuk ke dahi. Aku mengangguk dan mengakui percaya. "Itu sama halnya dengan Tuhan. Kita harus percaya dan DIA cuma satu dalam bentuk ESA. Sama di dalam kepala kita." Aku langsung paham dan percaya begitu saja, mungkin karena aku mudah dipengaruhi ternyata bukan dan ada alasan yang kuat oleh akal logika ku tetapi belum bisa dijelaskan lebih spesifik, cuma hal yang gamblang.
Manusia pertama turun ke bumi karena gegara perempuan yang tercipta dari sisa tulang rusuk. Tetapi itu adalah tipu daya dari malaikat yang gak mau menyembah manusia pertama tersebut. Pertama aku marah ke perempuan lalu kemarahan ku teralihkan ke wujud binatang yang membisikkan ke perempuan tersebut yaitu malaikat tersebut berubah namanya menjadi iblis. Ia gak bisa dilihat namun bisa dirasakan, itu ada di dalam diri kita masing-masing yaitu sifat dan hawa nafsu yang sudah mengalir di dalam diri kita secara darah mendaging.
"Sekarang pertanyaan bocah. Apakah kamu tidak menyukai iblis tersebut?"
"Ya. Aku sangat tidak menyukainya. Padahal kita bisa saja tinggal dan dilahirkan di surga dan menikmati kebaikan dari Tuhan. Kenapa iblis tersebut bisa muncul?"
"Itu karena datangnya dari kesombongan. Ingat ini pesan ku yang paling penting. Jangan kau sombongkan kemampuan yang kau miliki entah itu kepintaran, keahlian, sikap dan perhatian cara bicara mu. Kamu harus merendah diri ke setiap orang yang kau temui nanti saat kakek sudah mengajak ke luar dari distrik ini. Tetapi, jika kamu bertemu dengan orang jahat yang terpengaruh oleh sifat iblis. Kamu harus bisa mengerti dan memahami, apakah ia berbahaya atau tidak. Apakah itu cuma sekedar kebohongan atau tipu dayanya."
"Ya kakek. Berarti kita harus mengendalikan diri sendiri?"
"Ya, itu benar sekali. Jika tidak ada orang yang kau percayai. Kamu masih punya kakek dan percayalah pada diri mu sendiri. Di luar sana nanti kamu akan mendapatkan pahitnya dunia, rasa yang tidak kamu sukai. Harus menahan dan menerimanya, sebenarnya kakek merasa khawatir. Aku ingin kamu lebih siap hidup di luar sana. Tetapi waktu terus berputar, gak bisa dihentikan dan kamu masih belum memiliki nama."
"Kakek khawatir soal aku, itu apa?"
"Pedasnya rasa hidup. Ada berbagai macam rasa asin dan manisnya seperti makan malam, kalau gurih mungkin ngeri-ngeri sedap."
Tiba-tiba ia mulai bercanda yang tadinya serius. "Moo Kakek asal jeplak aja. Tadi hidup di luar sana rasanya pahit, sekarang manis, asin, gurih, apalagi? nanti rasa hambar akan muncul, kecut sama asam. Kehidupan bukan masakan, kakek."
"Eits, jangan ambil kesimpulan terlebih dahulu. Semenjak kamu berada di sini, hidup kakek merasa berwarna kembali dan manis seperti taman bunga. Bocah, apa yang kamu rasakan? Apakah rasanya asin dan hambar seperti sup sayuran waktu sarapan?"
"Aku belum mengerti, baru merasakan hal yang menyedihkan musim dingin kemarin. Selama ini cuma diberikan dongeng, cerita sama belajar."
"Jadi masih samar-samar. Tenang saja, nanti kamu akan paham kalau sudah besar."
"Kakek tidak mengatakan, kalau aku sudah dewasa?"
"Hmm ... Pemikiran mu sudah setara umur remaja tua. Tapi belum mengerti apa itu rasa cinta."
"Cinta? Itu apalagi kakek. Apakah sama seperti kasih sayang yang aku berikan?"
"Secara harfiah memang sama, tapi ini sebatas orang tua sama anak. Kamu masih jauh tentang hal itu bocah, atau mungkin kamu tidak bisa menemukan cinta mu sendiri sebelum terhalang oleh logika mu."
"Apakah cinta serumit itu?"
"Yeah ... Sangat rumit sekali. Tetapi kamu harus mendapatkan sekali seumur hidup."
Aku pun tertarik, meskipun gak tau apa-apa soal lawan jenis. "Ajari aku kakek dari pengalaman mu."
"Boleh-boleh saja, namun saya bukan ahlinya soal itu, ada teman kakek yang lebih muda dariku dia adalah dokter yang gila."
"Dokter gila? Dokter gila maksudnya apa? Kakek dulunya seorang dokter?"
"Aduh malah keceplosan. Nanti saja jelasinnya. Kita masak dulu, habis itu bekerja lalu makan."
"Kakek mau mengalihkan perhatianku. Kita sudah makan, buat apa bekerja kalau malam begini? Mau masak apa lagi? Dan kakek apakah seorang dokter?"
"Jangan salah paham dulu anak muda, memang benar kakek dulunya seorang dokter. Tapi, kalau kamu ingin tau lebih mendetail kau harus mengeluarkan effort lebih dan jerih keringat mu terlebih dahulu, baru mendapatkan sebuah imbalan, mengerti?"
"Kakek suka sekali bertele-tele, mubazir dalam berbicara. Aku jadi ketularan, sebenarnya aku sudah tau kebanyakan buku yang dimiliki kakek berupa jurnalistik kedokteran. Aku gak mengerti istilah-istilah yang ada di dalamnya, namun ku baca sebisanya. Aku tau di dalam tulisan tersebut begitu padat sekali karyanya. Cara berpikir ku ikut berpengaruh. Dengar sendiri, aku bisa berbicara seperti ini karena gaya penulisannya yang mendetail."
"Hahaha ... Kakek merasa senang. Tapi, aku tidak mengalihkan perhatian. Kakek beneran mau masak sesuatu. Bocah, kamu gak merasa kedinginan?"
"Tidak." Selama ini aku duduk bersandar dekat dengan tubuhnya Johan yang begitu berbulu. Beliau mulai masak air yang panas dan menuangkan semacam dedaunan ke dalam teko. "Kakek sedang bikin apa?"
"Teh."
"Teh?" Teh itu semacam apa? Lalu ada aroma yang begitu harum dari dalam teko. Kakek sangat menikmatinya meminum Teh yang ia buat sendiri.
"Kakek, aku mau," manja ku.
"Gak boleh, Teh ini adalah obat. Rasanya begitu pahit sangat pahit sekali. Lambung sama usus kakek perlu diobati dan kamu belum cukup umur juga untuk meminum minuman obat ini."
"Hee— Jadi Teh itu semacam obat?"
"Ya. Slruup—Ah. Kalau kamu sudah tua seperti kakek, akan mengalami hal seperti ini. Selain sakit punggung dan juga sakit bagian depannya. Jadi orang yang sudah tua, itu gak enak sekali rasanya. Gampang sakit-sakitan gak seperti anak muda, apalagi anak kecil seperti mu yang suka main tanah sama rongsokan."
"Ta-Tapi, aku boleh minum teh itu kan, kumohon kakek."
"Ya, kalau rasanya gak enak jangan dimuntahkan dan minumlah secara perlahan, airnya masih panas. Kalau ketagihan jangan salahkan kakek, tapi jangan banyak-banyak nanti kembung."
"Kembung itu apa?" Kakek gak menjawab. Ia fokus menuangkan teko ke dalam wadah. Aku mendapat gelas atum yang berisikan teh masih panas, kutiup secara perlahan dan mencium aromanya begitu nikmat. Kenapa di musim dingin gak merasakan minuman seperti ini, hanya air panas biasa.
"Kamu belum meminumnya? Apakah gak suka?"
"Ini masih panas, kenapa kakek bisa minum begitu cepat." Ia memperlihatkan wadah yang begitu lebar, lalu ditiup dengan kencang dan menyeruput nya secara perlahan sampai habis. "Ah—Nikmat sekali. Sebelum itu dingin, ayo kita kerja terlebih dahulu."
"Heeh? Kenapa kita harus bekerja di dalam malam hari begini?"
"Ada energi yang harus disalurkan. Kamu juga perlu belajar cara memanfaatkan waktu sebaik mungkin, jika kamu bekerja di malam hari. Waktu tidur mu nanti juga begitu nyenyak dan gak kerasa."
"Kakek sedang tidak memanfaatkan ku kan? Karena aku diiming-imingi sama Teh. Aku tau, itu merupakan bentuk imbalan. Tapi, kenapa harus sekarang? Kakek sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari ku kan?" Kakek malah menepuk jidatnya. "Kakek kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa, kamu banyak tanya. Nanti semua akan kakek jelasin. Sana pergi siram tanaman malam hari, mereka juga perlu makanan di malam hari. Pagi tadi kamu lupa memberikannya kan?"
Gawat, kenapa bisa ketahuan padahal mereka berdua bagun kesiangan. "A-A-AKU sudah memberikannya pupuk."
"Hmm?" Beliau memberikan ku tatapan curiga. "Baiklah, aku mengaku belum memberikan kebunnya dengan pupuk. Tapi, malam-malam begini aku gak mau pergi ke saluran pembuangan air, di sana sangat gelap. Aku harus pakai apa?"
"Yah, penerangan saja kita gak punya. Lilin ... Itu akan jadi hal yang buruk. Ku rasa kamu gak perlu waktu malam begini dan sudah jujur pada ku."
"Apa maksud kakek tadi? Misal aku bawa lilin masuk ke dalam saluran pembuangan air. Apa yang terjadi? Apakah waktu malam hari sebegitu buruknya di dalam saluran tersebut?" Ia hanya meminum teh tanpa mendengarkan pertanyaan ku. "Kakek, tolong dijawab."
"Berisiiiik! Tenanglah dan nikmati Teh mu yang sudah dingin itu." Kakek menyuruhku duduk diam, tidak diizinin banyak tanya. Aku meminum Teh yang sudah hangat rasanya memang begitu pahit, tetapi gak sepahit obat. Ini ada rasa yang begitu aneh dan lidah ku merasa kaku indra perasa nya.
"Itu adalah rasa sepat. Gimana? Apakah kamu menyukai rasa tersebut?"
"Gak tau. Tapi rasa pahitnya sedikit menghilang, tetapi gak ada bedanya sama air putih yang ku minum, kakek menipu ku?"
"Memang begitu cara menikmati minum teh sebagai perasa air putih." Gelas atum ku diisi lagi dengan Teh, membuat pikiran ku menjadi tenang setelah melemparkannya banyak pertanyaan, mata ku sedikit terbuka.
"Di dalam Teh ada sedikit kandungan kafein sama halnya dengan kopi." Aku tidak tau dan melihat bentuk kopi dan gimana rasanya. "Mungkin kamu gak suka, karena rasa pahitnya jauh berkali lipat dibandingkan minum obat."
Aku sekedar mendengarkan celotehan nya, di dalam pikiran ku begitu tenang rasanya bisa belajar hal yang baru dan disuruh tidur lebih awal. Pagi-pagi hari kita harus mengurus kebunnya, sebelum terlambat.
...
Beliau sudah tua, pasti gampang capek, mengurus kebun sama ladang secara bersamaan. Kurasa tidak setelah ada energi tambahan habis meminum air hitam panas yang begitu pekat namanya kopi, ia mengajariku bercocok tanam, mengolah limbah di saluran, cara memasak hasil dari ladang sama kebun, cara memijat tubuhnya, dan cara tidur masih banyak sekali gak bisa disebutkan.
"Anak muda, kamu mau belajar membaca lebih mendalam, ada cara yang lebih efektif?" Awalnya aku tertarik, jika ada metode yang lebih baik namun, "Bercerita setiap waktu luang kepadamu, apalagi sudah bertanya banyak hal sangat melelahkan menanggapi mu."
"Kakek saja ingin bermalas-malasan lebih lama. Otak ku masih dalam tahap berkembang dan ingin diisi berbagai pengetahuan."
"Aku sudah berumur, jadi sewajarnya memang begitu. Kamu akan lebih mandiri di kemudian hari. Itu sangat berguna di masa depan mu. Kamu juga belajarnya begitu cepat dan langsung paham sekali melihat."
"Kalau aku mau belajar membaca lebih dalam, aku juga mau belajar menulis. Aku ingin beberapa kertas untuk mencoret-coret sama menggambar dibandingkan di atas permukaan tanah," pintaku.
"Baiklah, tapi kamu cari sendiri kertas yang kosong di TPS dan temukan barang yang masih berguna untuk diperjual belikan ke pasar."
"Kakek punya banyak buku di lemari bawah tanah, kenapa gak dikasih?"
"Buku-buku itu jauh lebih bernilai dibandingkan buku yang telah kamu baca selama satu tahun dan sudah gak bisa dicetak lagi. Jika dirusak sama kamu, bisa ganti rugi?"
"Kakek. Mana yang lebih penting? Antara ladang sayuran sama buku? Jika gak makan satu Minggu, kakek akan mati kelaparan."
"Anak muda. Kamu mau mengancam ku? Atau sekedar berunding?"
"Itu hanya sebatas perumpamaan. Kakek jangan salah paham dulu, aku masih memerlukan kamu sampai akhir hayat."
Ia tertawa, "Anak muda. Aku tidak akan berumur panjang. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi pasti akan meninggal, tapi lebih cepat lebih baik." Matanya memperlihatkan keputusasaan. Badanku bergetar begitu hebat, mendekati kakek dan merenung. "Jangan buat candaan tentang kematian. Mendengarkannya saja membuatku merasa sedih." Trauma waktu itu muncul kembali.
"Maaf Maaf anak muda. Aku tidak bermaksud begitu." Namun aku tetap mau menangis di dekapannya. "Hidup mu pasti penuh dramatis di masa depan, kamu harus mengontrol emosimu dan lebih pragmatis."
Kakek menyeka air mata ku dan bertanya tentang arti pragmatis. "Itu hanyalah masalah prinsip dan kamu harus memiliki prinsip untuk bertahan hidup."
"Aku masih kecil, mana tau tentang hal yang rumit seperti prinsip."
"Kalau gitu cepatlah dewasa dalam pemikiran dan matangkanlah badan mu. Kakek akan mengajarkan prinsip-prinsip yang dipegang manusia dan kamu harus memanfaatkan nya. Akan ku pinjam buku-buku kakek di lemari bawah tanah dan teruslah merasa penasaran dan mencari tau tentang kebenaran tapi kamu harus batasi, itu juga bisa membawa mu ke hal yang berbahaya atau mengancam nyawa mu."
"Ya kakek." Aku selalu mendengarkan nasehat dari kakek, yang terkadang membawa dampak positif pada ku.
Selama tiga bulan aku bekerja sambil mempelajari di waktu luang yang kumiliki. Karena aset yang dimiliki semua manusia adalah waktu. Prinsip-prinsip hidup bukan pragmatis saja, ada idealis, dogma, teoritis, aku dibesarkan oleh perempuan selama tiga tahun yang memiliki rasa romantis, kakek mengajariku pragmatis.
Pergi ke TPS mencari benda yang berguna ditumpukan rongosokan, aku mengambil semua kertas sama buku-buku yang terbuang. Lalu kusortir di gubuk kakek, ia pun marah padaku karena gak ada ruangan untuk beristirahat.
Aku disuruh membangun sesuatu seperti gudang di sebelah gubuk ku, tempat terpisah untuk belajar sama perpustakaan pribadi dari berbagai macam bahasa sama gaya penulisan. Ia memang sedikit keras, tegas terkadang juga lembut, tapi suka sekali bercanda ketika sedang serius sama tertawa gak jelas.
Setiap hari, aku mengurus ladang sayur tiap pagi sama sore. Siangnya banyak sekali membaca buku dan memahami lebih dalam dari buku-buku yang telah dibaca. Aku menemukan beberapa tulisan yang aneh bentuknya tidak kukenal yang berasal dari benua hilang sebagian cuma tinggal kenangan.
"Ini bahasa Slavia timur yang masih menggunakan aksara kiril."
"Slavia timur? Itu sebuah negara?"
"Ya, negara sangat besar dengan sebutan dulu satu benua di Utara yang dekat dengan kutub." Aku membuka buku gambar yang bertuliskan atlas dan menunjukkannya.
"Ya, benar sekali. Itu negara adalah ibunya pembuat nuklir sampai sekarang dimanfaatkan teknologinya dan terus dikembangkan sampai terbang ke luar angkasa."
"Hebat sekali, aku penasaran dengan dua bahasa yang mirip ini. Apakah cara membacanya sama?"
"Ini mandarin mirip seperti bahasa orang timur. Sekarang penduduknya sudah punah beberapa dekade yang lalu, yang masih bertahan adalah bahasa nenek moyangnya sama campuran ras antar manusia. Cara pengucapannya beda, harus menggunakan aksen."
"Aksen? Seperti dibuat-buat gitu kita berbicara?"
"Bisa dibilang begitu."
"Apakah ada bahasa yang sesuai prinsip ku, misalnya romantisasi."
"Tentu saja, itu bahasa tua dari mitologi yunani disebut bahasa latin, jika kamu tertarik cara membacanya sedikit puitis."
"Hal yang lain seperti peperangan apakah ada bahasa yang hilang?"
"Tentu saja ada, Germany, Italy, Netherland sebagain bahasa orang eropa telah lenyap dan disimpan ke dalam arsip dunia Maya."
"Dunia Maya itu apa?"
"Nanti kalau kamu sudah besar dan keluar dari sini. Akan mengenal dunia Maya sama teknologi yang maju. Kamu gak penasaran dengan bahasa yang digunakan umat manusia turun ke bumi pertama kali?"
"Sedikit. Tapi kebanyakan bukunya dalam kondisi setengah terbakar. Aku gak bisa melihat isi lengkapnya tapi jarang kutemukan buku tentang bahasa yang kakek miliki, yaitu bahasa Ibrani. Aku juga belum tau namanya kakek itu siapa."
Ia tersenyum dan mengeluarkan kitab di lemari yang terkunci di dalam gubuknya bukan di ruang bawah tanah. "Ini buku-buku peninggalan sahabatku yang masih terjaga kemurniannya sama seperti isi di dalam Qur'an. Kitab Injil zaman sekarang sudah banyak dirombak sama direvisi oleh penerjemah demi urusan politik di dalam gereja-gereja mereka."
"Oh, jadi buku yang dibakar itu."
"Jangan disebut. Biarkan para pendosa merasakan azab dari Tuhan."
"Tuhan? Apakah kitab yang dimiliki kakek Tuhannya itu sama atau berbeda? Karena banyak sekali buku tentang dogma dan aku kalut kebingungan. Apakah Tuhan kakek sama seperti Tuhan ku?"
"Hahaha, anak muda, kamu lucu sekali. Tuhan semua manusia yang mengimani-Nya memang ada banyak sekali di zaman dulu. Namun keberadaan cuma ada satu sejak manusia pertama diturunkan ke muka bumi sampai sekarang. Kamu pasti akan bertanya apa itu kata mengimani?" Aku cuma mengangguk. "Mengimani berarti itu kepercayaan yang mutlak."
"Kepercayaan, jadi aku sama Kakek saling percaya gitu?"
"Ya." Ia mengelus rambutku. "Kamu paham soal itu."
"Habisnya, aku sayang sama kakek. Kalau bisa, aku ingin umur kakek bertambah seratus tahun sampai menjadi debu," canda ku.
"Do'a mu mengerikan sekali. Jangan bercanda begitu, seratus tahun itu lama sekali, nanti malaikat ada yang mencatat."
"Ma—"
"Hah, kamu kalau bertanya gak ada habisnya." Ia menyuruhku mengambil buku besar di rak paling bawah."
"Baca semua isi buku itu, ada istilah-istilah yang membuat mu mengerti semua."
"Kamus besar? Jadi ini lengkap semuanya?" Ia gak mendengarkan ku malah tidur di tempat ia biasa duduk. "Hm, dasar tukang tidur."
Bukunya begitu tebal dan secara perlahan aku membacanya, tidak untuk menghafali dan melafalkan seluruh istilah sama penjelasannya, secara perlahan-lahan aku akan tau sendiri. Dan buku berharganya kakek, ia malah taruh di dasar lantai. Aku membaca kisah-kisah buku tersebut seperti jurnal kehidupan satu orang setiap bukunya dan berbeda dari jurnalistik yang berupa riset telah kubaca, totalnya ada 13 Buku dan memiliki namanya masing-masing. Simon, Andreas, dua Yakob beda marga, Yohan, Filip, Natanael, Tomas, Matius, Petrus, Tadeus, dan yang terakhir Yudas dengan nama yang disilang dan isi bukunya juga penuh coretan merah. Ada gaya tulisan kakek di sini dan namanya tercantum sebagai judul, dia adalah ...
"Bangun Kakek, waktunya makan malam sama dongengnya. Buruan bangun keburu dicabut oleh malaikat pencabut nyawa."
"Haaa ... Heee .... Hooo ..." Beliau tiba-tiba sontak terkejut. "Jangan memanggil arwahku. Jika beneran mati, gimana?"
"Kakek masih belum waktunya untuk meninggalkan ku, itu cuma candaan anak kecil, kenapa harus mendengarkan nya."
"Bocah kurang ajar, anak bandel. Perhatikan ucapan mu, itu bisa jadi do'a jika itu yang kamu harapkan. Jangan main-main sama do'a, Tuhan itu maha mendengar. Ia masih memiliki 98 nama lainnya."
"Maaf kakek, aku tidak mengulangi nya lagi. Tapi, aku ingin tau setelah melihat buku-buku berharga kakek dan membacanya. Aku penasaran dengan salah satu coretan silang merah ini?"
"Oh, bukunya Yudas. Itu hanya kejahilian kita saja waktu dulu. Dia menulis kisah romantis nya ketimbang jurnalistik nya sendiri, yang ia tulis adalah seorang wanita cantik seorang ibunya Al-Masih. Dia jatuh cinta padanya. Kami sering mengejeknya dan menggodanya, jadi ia mencoret-coret isi bukunya sendiri karena ketahuan dibaca oleh kita semua."
"Al-Masih, itu siapa?"
"Guru kita, kamu percaya tidak? Beliau masih hidup sampai sekarang. Ia akan menjadi pahlawan bumi diakhir zaman."
Aku penasaran dan ingin bertemu dengannya, "Sekarang beliau tinggal di mana?"
"Aaah soal itu, agak sulit untuk dijelaskan. Kamu harus merasakan kematian terlebih dahulu, baru bisa ketemu."
"Aku harus mati dulu? Gak mau. Aku masih muda ingin melakukan banyak hal."
"Sudah kuduga kamu akan mengatakan itu. Kamu gak tertarik soal wanitanya?"
"Aku masih bocah, mana tau soal perempuan sama daya tariknya apalagi cinta, yang sempat kakek sempil kemarin."
"Kalau kamu melihatnya sendiri di usia remaja pasti langsung jatuh cinta, sama seperti si Yudas."
"Kakek punya fotonya?"
"Tentu saja ada. Jika kamu terpesona, aku akan panggil kamu Yudas. Anak muda, kamu belum punya nama 'kan?"
"Belum, apa itu sebuah pertaruhan? Coba tunjukkan pada ku."
"Ini bukan foto, hanya berupa lukisan dari orang-orang zaman dulu. Tapi hampir mendekati aslinya." Ia memberikan kertas gulungan yang sedikit berat, ketika kubuka isinya, aku cuma diam terpana melihatnya.
"Gimana? Kamu merasakan sesuatu anak muda. Beliau sedang memanjatkan do'anya ke Tuhan. Gambar ini memperlihatkan di usianya yang masih remaja. Aku tidak tahu kenapa dibuat seperti itu, kemungkinan tukang gambarnya ingin memperlihatkan masa-masa suci nya."
Aku mengusap gambar atas kepalanya, rambutnya yang sedikit panjang, kulitnya yang terlihat mulus, baju yang ia pakai terlihat cantik dan bagus hitam legam.
"Anak muda, anak muda ... Aku panggil beberapa kali, gak denger?"
"Aku denger kok."
"Alah, boong kamu. Matamu terpukau melihat kecantikannya. Hahaha, kamu sekarang kupanggil Yudas."
"Yudas? Aku tidak tertarik dengan perempuan yang ada digambar." Ia menyodorkan tangannya kepadaku, "Kembalikan lukisannya, itu benda berharga sepeninggalan guruku. Lagian itu hanya sebatas gambar."