Hari yang cerah dan sedikit panas, bermain di luar bersama Johan di tempat pembuangan rongsokan. "Ayo Johan cari bolanya." Kami sedang bermain lempar bola sama lempar cakram dari tutup ember. Ini hanya untuk menyenangkan dia, kadang kala ikut mencari di setelah masuk di sela-sela rongsokan.
"Ayo Johan, kita lomba lari." Ini kebiasaan ku sampai ke luar TPS, di mana gak banyak orang sama anak-anak. Habis insiden pembunuhan secara masif, tempat kumuh ini menjadi sepi.
"Wah!" Aku sering berteriak di lorong gedung-gedung, karena menggema suaranya dan suka sekali dengan bermain api. Terkadang tangan ku suka terbakar, lalu diobati oleh kakek dengan krim pendingin.
Aku diberikan sebuah obeng, alat yang bisa membongkar segala jenis baut rongosokan, sering ku lepas mesin-mesin yang gak dipakai dan lupa sampai waktu untuk makan sama bermain dengan Johan, tentu saja dimarahi lagi.
Di kala aku sedang sibuk membongkar robot, Johan menarik bajuku untuk bermain. Tapi aku diculik dan dibawa seseorang yang gak kukenal.
"Lihat, apa yang ku genggam?"
"Hah." Sok keren dari orang tua perokok.
"Itu hanya bocah ingusan, bukannya kamu gak suka?"
"Gina, siapa anak ini?" Satu pria yang kegirangan.
"Bocah yang berani menembak, Yvone." Ia memperlihatkan foto begitu jelas, saat muka ku masih ketakutan. Johan mulai menggeram dan menggonggong.
"Kalian mau balas dendam?"
"Yeah, bocah tengik seperti mu harus diberikan pelajaran," bisik perempuan yang memegang ku.
"Dengar bocah, orang yang kau bunuh adalah tangan kanan Capone. Kamu harus merasakan akibat yang sama," ancam pria pemarah tersebut.
"Jangan begitu, Von. Dia masih anak-anak."
"Terus? Kalian mau membunuh ku?" Lalu kusuruh Johan untuk diam.
"Kamu tau, apa arti kata tersebut?"
"Kematian. Itu sesuatu yang menyedihkan, aku gak punya siapa-siapa selain Johan. Mati sekarang, apakah kalian merasa terpuaskan? Palingan hanya kesenangan semata."
"Kamu pandai berbicara juga, bocah." Ia memegang jariku dan mau mematahkan. "Ayo menangislah." Balasku dengan meludah dan menendang dagunya. "Bocah tengik!"
"Jangan gampang emosi gitu Von, kenapa kamu mudah tersulut oleh anak kecil?"
"Lepaskan Danke, ia sudah merendahkan ku."
"Merendahkan kan mu? Sudah dari bawaan lahir, kamu orangnya rendahan, buwodoh." Johan menggigit kakinya dengan keras, sebagai balasan telah menyakiti ku.
"Kita selesaikan dengan cara kita. Gina, bisakah kau turunkan bocah itu." Aku diturunkan olehnya. "Von, mau main Russian rolet bersamanya? Perbandingan pelurunya 5:1."
"Kamu gila? Rebeca? Pria yang masih memegang pemarah itu membalas.
"Russian rolet? Apa itu?"
"Menembakkan diri sendiri, tapi kamu bisa memilih berargumen tentang truth or dare. Kamu tau maksudku, bocah."
"Mana mungkin tahu, ia masih bocah tengil yang gak tau apa-apa." Pria perokok yang sok keren, mengisi peluru sesuai jumlahnya cuma tersisa satu yang kosong dan menarik pelatuk keamanan nya, ia letakkan di atas meja dan aku naik ke atas ke kursi lalu ke meja.
"Pria dewasa jangan banyak bicara, tunjukkan nyali mu." Aku mengangkat senjata tersebut cukup berat harus memakai dua tangan. "Siapa yang mau mulai duluan? Aku atau kamu? Aku akan mengajukan truth or Dare. Apakah kamu akan menyangkalnya."
"Lepaskan aku Danke. Aku tantang bocah ini. Kamu mau berargumen tentang apa?"
"Kau takut mati. Jika kutembak tepat di kepala mu, mukamu akan berkeringat dingin. Truth or Dare?"
Seketika menjadi hening, senjata ini tepat mengarah ke wajahnya dan aku masih berdiri menahan bobotnya supaya gak jatuh. Tapi secara gak sengaja ku menarik pelatuknya dan menembak di samping daun telinganya dan ia sakit karena suaranya cukup keras. Tubuhku jatuh dari meja dan menjatuhkan senjatanya. "Truth. Kamu benar bocah." Perempuan yang tadi menangkap ku bilang begitu. "Von, kamu kalah dengan seorang bocah."
Orang tersebut gak menerima dan menantang ulang. "Awas kau bocah tengik. Cepetan naik ke atas." Aku menuruti kemauannya, mukanya mulai berkeringat, bahunya mulai tegang. "Aku mengajukan argumen kepada mu. Kamu masih suka ngompol di umur segini, cepat jawab aku, Truth or Dare?"
Aku pegang senjata tersebut yang mulai dingin selongsongnya. "Arahkan yang tepat, ke perut atau kepala ku. Aku akan memilih Dare." Tentu saja untuk melindungi diri. "Bodoh, jawabannya Truth. Kamu mulai berkeringat." Aku menatap tajam pria pemarah tersebut. "Jika itu benar, kenapa gak menarik pelatuknya?" Ini tentang soal harga diri. Tapi ia tetap menarik dan mau menembak ku. Perempuan yang mengusulkan permainan ini menendang mejanya cukup keras dan suara tembakan terdengar sampai ke langit bangunan.
"Von! Di mana letak kehormatan mu?"
"Dasar pria bodoh dan pemarah."
"Itu sudah terlalu berlebihan."
"Apa salah ku, sialan? Itu memang benar."
Saat aku jatuh, Johan menangkap ku, lalu kuambil Senjatanya. "Permainan belum selesai, aku memilih diriku sendiri. Adios." Suara tembakan terdengar lagi ketiga kalinya, aku tergeletak jatuh dan telinga sakit karena penging mendengarkannya.
Mereka mulai panik dan Johan tidak melolong hanya terdiam saja. "Oi, kenapa ini bisa terjadi."
"Von. Keparat kau dasar sampah." Lalu pemilik senjata itu mengambilnya. "Kalian dibodohi bocah ini, semua pelurunya tidak ada." Tentu saja tidak ada, karena pistolnya juga terbang ke langit dan pelurunya berceceran ke mana-mana bersamaan meja kayunya yang rusak.
"Hahaha ... Hahaha ... Kalian badut yang dipermainkan oleh anak kecil." Aku digendong lagi oleh perempuan yang membawaku dan menggelitik perutku, aku jadi tertawa gak menahan rasa geli nya.
"Hentikan, aku sudah sadar. Aku sadar. Tolong hentikan." Aku masih melanjutkan peranku yang pura-pura mati. "Von, kamu tau imbasnya jika kalah dalam Russian rolet."
"Oi, bocah." Aku diambil oleh perempuan yang kasih saran permainan tersebut dan menggoyangkan tubuhku. Kepala merasa pusing dan muntah di pakaiannya. "Bocah, apa yang kau perbuat?"
Perempuan yang membawaku tertawa terus tanpa henti dan ku lap dengan lengan ku. "Jangan menggoyangkan tubuhku dengan kencang." Aku diturunkan kembali dan memanggil satu nama. "Paman, kalau gak salah tadi dipanggil Danke."
"Ya, Anak muda." Aku mendekatinya untuk minta digendong. Ia langsung menuruti ku. "Orang yang kalah dipermainan itu, biasanya diberi hukuman apa?"
"Antara mati sama kehilangan harga diri sebagai pria."
"Apakah ada opsi diberikan pengampunan, aku masih bocah jadi gak tau soal harga diri, anggap saja diriku anak naif."
"Itu tergantung jawabannya. Von, kamu diberi belas kasih. Kamu mau diterima atau dibunuh oleh kami?"
"Sial Sial Sial, aku gak terima." Ia langsung berdiri menghadap ku, tapi Danke memberikan pistol padaku dan melepaskan pengamannya, aku tinggal menarik pelatuknya tepat di mukanya. "Kalau kamu mau mati, jangan menyesal." Suara tembakan yang sengaja meleset, karena mereka gak mengira aku menariknya.
"Tunggu sebentar, anak muda kenapa kamu melakukannya?"
"Ia sudah gak punya harga diri. Kenapa masih berani melihatku?" Johan langsung menggigit kakinya dan menariknya jatuh. "Apakah mau memakai caraku? Ada 10 metode siksaan yang menyakitkan sebelum kematian itu datang. Aku rasa orang dewasa seperti ini harus diberi pelajaran."
"Bocah. Itu sudah terlalu berlebihan di permainan Russian rolet gak ada pengampunan ataupun penyiksaan. Yang sudah dibunuh atau membunuh. Kamu pilih yang mana?" Pria perokok sok keren ikut berbicara.
"Danke, aku ingin ke perempuan itu." Aku diserahkan ke perempuan yang membawaku. "Bawa kembali ke tempat asal ku. Anggap saja semua ini gak terjadi apa-apa, aku tidak pernah dibawa ke sini, aku tidak pernah melihat pria dewasa yang mengompol karena takut mati. Johan, ayo kita pulang."
Aku malah dibawa naik ke atas ke dinding TPS, yang belum pernah kujamah. Begitu energik dan menyenangkan bisa melihat pemandangan baru dari sini. "Kamu menyukai tempat ini?" Dia menurunkan ku, sebuah baju kecil yang seukuran dengan ku. Lalu dipakai, "Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin melihat, itu cocok atau tidak. Setiap hari aku selalu memperhatikan mu dari atas."
"Kamu tidak membunuh ku? Dan menjatuhkan ku dari tempat ini?"
Ia hanya tersenyum tak menjawabnya. Aku mengambil buku yang ada di lehernya Johan, selama ini terus ia bawa bersama alat tulisnya. Menggambar seluruh TPS dan membuat peta, ingin segera turun dan berpetualang. Perempuan ini hanya memperhatikan ku, ketika mau turun ke bawah, harus menekan tombol di atas. Aku gak sampai dan meminta bantuannya.
"Gak mau, aku masih bekerja. Nanti malam aku akan menurunkan mu." Aku menuruti perkataannya, meskipun sudah lapar. Duduk di pojokkan ruangan untuk beristirahat. Tapi, perempuan itu sengaja atau tidak malah melupakan ku.
Malam pun tiba, aku putar otak untuk cari cara dan Johan sudah gak ada di sisiku. Kursi yang menyatu sama lantai gak bisa digerakkan, tak ada tongkat ataupun alat untuk diinjak. Kunci ruangan yang mengakses ke belakang berupa jalur evakuasi, aku tekan salah satu tombol dan terbuka. Terpaksa ku turuni tangga yang tingginya setengah badan ku. Satu persatu, supaya gak jatuh membutuhkan waktu cukup lama untuk menghemat energi. Sampai ke bawah cuma cahaya lampu yang bersinar, Johan sembari menunggu di bawah karena gak bisa menarik gagang pintunya karena terkunci dari dalam.
Aku pulang bersama nya, kembali ke gubuk kakek. Tentunya beliau khawatir dan marah. Kuceritakan seharian dengan nama orang-orangnya dan ciri fisiknya. Kakek cuma terdiam dan gak diizinkan untuk pergi dari TPS sementara waktu. Jalurnya dipindah dan ditutup alias blokade.
Satu-satunya keluar adalah lewat saluran air, mereka berlima dengan pakaian hitam yang sama, seperti orang yang telah menembak orang-orang tidak bersalah masuk ke dalam kediaman kami.
"Gak kusangka angin di sini begitu segar, setelah keluar dari Got." Ia melihat ku yang sedang menyiram tanaman. "Oh, bocah. Gimana cara mu turun dari sana?" Johan menggeram untuk mengusir mereka, karena posisi kami dalam bahaya.
"Kamu waspada bocah, sepertinya insting mu bekerja." Perempuan yang ku muntahi mendekati ku.
"Apa maksud kalian datang ke sini?"
"Maaf, anak muda. Kami tiba-tiba datang kemari."
"Jika kalian mau bertamu harus lewat pintu depan. Bukan dari pintu belakang. Kalian gak diajari tata krama?" ujarku.
"Maaf soal itu. Tapi jalur masuknya ditutup, mana mungkin kami akan mengebom tempat kerja kami."
Perempuan mengeluarkan surat yang berupa peringatan. "Kalian adalah penghuni ilegal, sesuai ketentuan tempat ini akan dihancurkan untuk efisiensi alokasi pembuangan.
Aku lari mencari kakek dan meminta bantuan padanya. Johan langsung mengikuti, tapi kakek gak ada di sekitaran sini.
"Sepertinya orang yang merawat mu, sudah melarikan diri terlebih dahulu. Bocah, kamu mau berlindung pada siapa? Ayo menangislah yang keras. Aku ingin melihatnya."
Tubuhku ketakutan, mereka bisa saja membunuh ku tanpa alasan yang jelas. Aku bertahan untuk tidak cengeng dan berani melawan mereka. "Kakek pernah berkata, aku harus menjadi laki-laki yang kuat. Jika aku menangis, apakah kalian mau membebaskan ku? Hah, palingan sebagai tontonan belaka."
"Kamu berlagak sok kuat bocah, mau memuntahi ku lagi?"
"Ya. Tapi, aku masih bersikap sopan pada kalian. Jika kalian datang untuk bertamu akan ku layani dengan baik. Namun, kalian datang tidak diundang dan berani menginjak kemari."
"Berunding itu gak ada gunanya, kalian yang bersembunyi dan memanfaat lahan kosong demi kepentingan pribadi, bocah. Kamu tau hal itu 'kan?" Ungkap pria yang sok keren.
"Aku tau, tinggal musnahkan saja. Anggap saja kami adalah para hama kalian yang tidak menguntungkan. Bukankah tindakan tersebut lebih cepat, ketimbang datang kemari cuma melihat."
"Nyali mu besar juga bocah, kamu mau kuculik dan dijual ke perdagangan manusia."
"Ya. Aku menantang kalian berlima, aku gak akan takut dan mundur. Meskipun terdengar bodoh, kalian gak boleh menyakiti Kakek ku."
"Kepintaran dan keberanian mu sia-sia sekali, berakhir di tempat seperti ini bocah." Mereka berlima mengarahkan senjatanya kepadaku, aku masih berdiri tegap. Johan melindungi ku.
"Selamat tinggal anak muda." Seorang pria yang gak tega memperlakukan bocah seperti ini. Perjalanan hidup ku sudah usai, padahal mau menginjak umur 4 tahun. Keseharian ku berakhir di sini.
...
Gelap, kematian ternyata gelap, udara masih bisa kurasakan, jantungku masih berdetak. Sebuah benda tajam menusuk lengan ku dan berteriak kesakitan.
"Imunisasi nya sudah selesai, anjing nya sudah aman dari virus."
Aku bingung melihat sekitar, ketika penutup matanya terlepas. "Aku masih hidup? Di mana aku?"
"Tenanglah anak muda, kamu berada di tempat perawatan."
"James." Aku membaca tanda pengenalnya. "Kamu bisa membaca? Gak kusangka anak sekecil kamu bisa membaca. Apalagi yang kamu miliki?"
"Aku bisa berhitung sederhana seperti pengurangan, penjumlahan, perkalian sama pembagian."
"Itu sudah sangat hebat dan cara bicara mu seperti bukan anak-anak umum biasanya. Apa lagi?"
"Ada kertas sama alat tulis?" Aku menulis kata dokter padanya dan ingin belajar darinya. Tapi, ia hanya bisa melakukan perawatan bukan seorang guru. Aku dibawa ke ruangan yang bisa mengajari ku tentang hal yang dasar.
"Dokter Filip, kamu pasti akan terkejut melihat kejeniusannya. Ia adalah anak yang diasuh oleh Simon."
"Simon? Dia masih hidup ternyata." Lalu mendekati saat aku masih melihat-lihat sekitar. "Anak muda siapa nama mu?"
"Aku dipanggil Yudas, itu bukan nama asliku."
"Jadi siapa nama aslimu?"
"Rahasia, itu identitas pribadi. Aku dibawa kemari untuk apa?"
"Katanya kamu ingin belajar, gimana caranya jadi dokter. Apakah kamu takut darah?"
"Darah? Yang ada di dalam diri kita?"
"Benar. Gimana? Jika kamu berniat, aku akan mengajarimu hal-hal yang dasar. Tapi sebelum itu, kamu mau langsung melihatku praktek soal pembedahan."
"Aku penasaran, tapi siapa yang membawaku ke sini? Apakah kamu kepala para dokter?"
"Bawa dia ke kantor. Aku rasa anak ini, bukan anak biasa." Aku dibawa kembali ke lorong yang dipenuhi bau obat-obatan, ini pertama kali ku mencium selain bau got sama tanah. Rasanya sedikit pahit seperti pare tapi ini jauh lebih buruk dan gak nyaman di hidung.
"Dokter James, untuk apa kamu datang kemari? Bukannya ada pasien yang harus kamu periksa."
"Ah, soal itu. Anak ini salah satu pasiennya. Aku diminta sama dokter Philip untuk mengantarkan anak ini untuk menemui mu." Dia sedikit tua renta kelihatannya dibandingkan yang lain terlihat masih muda, segar dan bugar.
"Jadi, dia ke sini mau ada urusan apa?"
"Aku ingin bertanya siapa dalang yang membawaku kemari, anda pasti tau. Dooketer Elyizabeth." Papan nama yang terpampang di atas mejanya dan sedikit ku eja. "Dan aku ingin belajar menjadi dokter."
"Di usia muda mu begini? Kamu ingin belajar sesuatu yang rumit? Seharusnya kamu pergi bermain bersama anak-anak sepantaran dengan mu."
"Aku seharusnya sudah mati, ditembak oleh lima orang secara bersamaan. Kenapa tiba-tiba terbangun di tempat seperti ini? Pasti ada alasannya dan aku berhak tau untuk itu."
Beliau duduk di kursinya setelah melihat dokumen di lemari berkasnya. "Ok, saya akan menceritakan kronologi nya. Tapi, hanya dua orang saja." Dokter yang ada dibelakang ku pergi keluar dan merasa penasaran ingin mendengar ceritanya. "Kita mulai dari mana? Dan aku memanggil mu dengan panggilan apa?"
"Yudas."
"Ok, Yudas. Itu bukan nama aslimu 'kan?"
"Anda pasti kenal dengan seseorang yang bernama Simon, beliau yang memberikan nama tersebut."
"Dari mana kamu tau, soal nama Simon?"
"Dokter James yang memberi tahu, setelah dokter Philip. Sepertinya birokrasi di tempat ini sedikit rumit." Beliau geleng-geleng kepala dan tidak percaya apa yang sudah didengar.
"Terus, apa yang kamu tau tentang Birokrasi? Dari mana pemikiran itu muncul?"
"Spontanitas, setelah melihat-lihat sekitar. Mungkin cuma secara kebetulan saja, aku menebaknya. Aku tidak tau apa itu, karena aku masih anak kecil. Yang ingin tau segala hal."
"Dengar ya, Yudas. Kamu harus belajar cara mengontrol diri, semakin kau tau banyak hal, maka resikonya semakin besar. Kamu golongan dari mana?"
"Golongan anak buangan, aku terlahir di got yang kotor. Jika aku mati, tidak ada yang peduli bisa dihilangkan jejaknya. Anda bisa meminta bantuan dokter Philip yang melakukannya, ia ahlinya membedah."
"Baiklah, jika itu mau mu, resikonya tanggung sendiri. Kamu dibawa oleh seseorang yang mengendalikan satu kota, aku tidak berani menyebutkannya itu bisa mengancam kariri ku. Kamu dibawa dalam kondisi tak sadarkan diri beserta anjingnya. Mereka ingin mencari latar belakang mu dari DNA yang kau miliki."
"Aku terlahir tanpa seorang ayah ataupun Ibu, gimana caranya mereka mencari?"
"Teknologi sudah semakin canggih, dalam hitungan detik bisa ditemukan sangat mudah. Apakah kamu ingin tau siapa kedua orang tua mu? Dan dari mana mereka berasal?"
"Aku tidak peduli soal itu, mereka aja telah membuang ku. Itu bukan hal yang penting."
"Apakah Simon yang mengajarkan mu soal cara berpikir mu?"
"Beliau hanya mengajariku apa adanya, seperti membaca, menulis sama berhitung. Kebanyakan aku belajar dari buku dengan sumber manapun, lalu ku pelajari bahasa-bahasa yang ada. Ternyata itu sangat mudah dan pemikiran ku jauh lebih terbuka."
"Begitu. Aku merasa iri, melihat mu bukan sebagai anak ku. Kamu ingin pergi keluar dari tempat ini?"
"Kurasa gak perlu, palingan aku akan dicari lagi oleh mereka. Kakek Simon tidak menghentikan ku, beliau malah memilih bersembunyi. Karena gak ingin dibunuh oleh mereka, jadi aku akan mencari cara di sini. Gimana untuk melindungi beliau yang sudah menjaga, merawat sama mengajari ku. Itu adalah kewajiban ku untuk berbalas budi. Anda keberatan soal itu, dokter Elizabeth. Menanggung beban tambahan dari seorang anak kecil seperti ku?"
"Baiklah, kamu diterima di sini. Selamat datang di rumah sakit gak umum, lokasinya jauh di atas permukaan. Mungkin kamu gak bisa keluar dari sini, kecuali atas izin ku."
"Bukan masalah, kenapa anda bisa mengenal kakek ku? Semuanya yang ada di sini."
"Kamu tidak perlu tau, Yudas. Nanti kamu cari sendiri dan bertanya langsung ke orang yang bersangkutan."
"Tentu, jika anda mengizinkan. Aku juga diajari olehnya, siapapun yang tidak bekerja tidak diberikan makanan. Jadi, didiklah aku menjadi dokter ataupun peracik obat. Itu adalah kewenangan mu, mana mungkin aku diberikan tempat tidur gratis, makan gratis, toilet gratis sama kamar mandi gratis."
"Apakah kamu serius soal itu? Aku tidak keberatan mengasuh mu menjadi cucu angkat ku."
"Hmm, gak terima kasih. Aku ingin bebas dan mau belajar, siapa pengajar yang bagus di sini?"
"Itu adalah aku. Apakah kamu tertarik?"
"Anda sibuk dengan semua dokumen yang ada di atas meja, yakin meluangkan waktu berharga demi mengajari aku?"
"Kalau kamu menyingkat waktuku untuk mengurusi semua dokumen ini. Kamu bisa melakukan?"
"Yah. Mau dimulai kapan?"
Bocah berumur tiga tahun tak akan melakukan hal yang seperti ini. Pemikiran ku jauh lebih dewasa ketimbang keegoisan ku. Banyak pasien di bawa kemari dengan luka tembak, dikarenakan kebodohan mereka sendiri. Jika meninggal tak mampu bayar, organ dalam akan diambil secara keseluruhan dan disimpan ke broker sebagai asuransi untuk penyuntikan dana sama gaji dokter-dokter di sini.
Dokter Elizabeth bekerja dengan petinggi kota secara langsung, beliau sering disebut dengan ungkapan madam yang seorang wanita berusia 38 Tahun. Mengatur empat distrik yang ada. Rumah sakit ini berada di distrik kedua alias distrik perdagangan. Beliau berada di distrik utama yang menjadi kota pinggiran dari kota pusat.
Aku terlahir di TPS, berarti di distrik keempat yaitu distrik kumuh. Dimana orang gagal sama berhutang datang ke situ, distrik ketiga adalah pasar gelap. Dimana kami mencuri dari para kalangan kriminal yang dikuasi oleh manusia besar berjas hitam seperti lima orang yang mengunjungi ku.
Makanan di sini agak pahit, karena terpengaruh dari bau obat-obatan. Aku gak suka rasanya dan begitu hambar. Mereka selalu berkeluh begitu, aku biasanya masak secara diam-diam karena gak ingin ketahuan seseorang namun dokter yang suka keliling dan membolos yaitu ...
"Yudas, ngapain kamu di sini? Mau bikin makanan?"
"Alice, kamu membolos lagi. Akan kuberitahu Dokter Elizabeth, kamu suka keluyuran."
"Dokter Elizabeth adalah bibi ku. Jadi bukan masalah. Omong-omong, kamu mau buat apa?"
"Diamlah sebentar, aku buat untuk diriku sendiri. Sudah muak lidah ku merasakan racun secara terus menerus."
"Aku juga gak suka makanan di sini. Ku rasa bibi harus merekrut juru masak, selain dokter."
"Oh, Yudas. Kamu jago memasak ternyata, aromanya bisa tercium di lorong. Kalau mau diam-diam, jangan malam hari. Semuanya sedang lembur, sibuk bekerja."
"Kamu masih terjaga dokter Robert?"
"Alice. Bukannya kamu sedang menjaga pasien di kamar nomor 15. Dia dalam kondisi kritis."
"Tenang saja. Sudah aku beri obat penenang, pasiennya sedang tidur terlelap. Omong-omong, apakah kamu percaya anak kecil bisa memasak juga ternyata."
"Yah, aku juga gak percaya. Tetapi setelah melihat Yudas, sekarang aku yakin semua anak-anak bisa memasak kalau diajari dengan benar. Apakah Simon yang mengajarinya?"
"Ya. Jangan ajak bicara, aku sedang fokus."
"Dokter Robert. Simon itu siapa?"
"Dia hanya seorang teknisi di sini." Dia berbohong menurut perkiraan ku.
"Boong kamu. Mana mungkin seorang teknisi bisa dikenal banyak orang."
"Aku tidak berbohong, dia awalnya seorang teknisi. Beneran, itu profesi utamanya."
"Dia bukan seorang dokter?" tanya AliceĀ
"Tentu saja bukan."
"Apakah kakek Simon, berteman dekat dengan Dokter Philip?"
"Ya. Kenapa kamu tau?"
"Cuma tebakan ku saja. Itu gak penting." Selesai memasak dan kusajikan buat diriku sendiri. Semua dokter hadir ke dapur yang gelap ini, pencahayaan dari tempat aku masak saja.
"Tidak akan kukasih ke kalian," kulindungi makanan ini segenap hati, seperti nyawa ku sendiri.
"Kamu yang mengundang mereka, dengan aroma yang nikmat." Ucap Dokter Robert.
"Yudas, ayo berbagi. Apa salahnya 'kan? Kami sudah tersiksa bertahun-tahun dengan makanan yang sama terus."
"Menjauhlah dariku zombie dokter." Mereka berhasil merebut dan mengambilnya tanpa rasa bersalah, menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Aku melihat hanya bersedih dan menangis mengadu ke dokter Elizabeth. Cuma beliau yang bisa kuandalkan.
"Tenanglah Yudas, jangan menangis terus. Kamu kenapa?"
"Lapar."
"Oh, lapar." Beliau langsung pergi mengambil makanan simpanannya.
"Aku gak mau, makanan itu gak enak."
"Tapi menyehatkan." Aku melepas baju dan menyuruhnya untuk mencium bajuku. "Kamu habis dari dapur dan memasak?" Aku cuma mengangguk dan masih bersedih.
"Terus? Kenapa kamu masih lapar?"
"Mereka semua mengambil hasil masakan mu, dan dilahap sampai habis."
"Oh." Saat beliau membuka pintunya, aku melihat mereka berdiri dengan penuh penyesalan.
"Maafkan Kami Yudas." Aku gak bisa melupakan rasa bersalah mereka, meskipun terlihat simpel tapi masakan hasil jerih payahnya ku sendiri gak ada nilainya.
"Mereka sudah meminta maaf pada mu. Apa balasan mu?"
Aku berdiri menyeka air mataku yang masih tersisa, naik ke atas kursi. "Jangan curi makanan ku lagi dan pergi dari ruangan dokter Elizabeth."
"Kamu mau ke mana?" tanya beliau.