Aku berkeinginan untuk membuka ladang sama kebun sayur nya lagi. Kakek menyuruhku ada hal yang lebih baik dari itu, selama satu tahun penuh aku bersembunyi sebagai asisten dokter gelap bagi para kriminal terutama untuk mafia, Yakuza sama pengedar narkoba. Setiap hari selalu ada orang yang terluka entah satu, dua orang terkadang bisa sampai tujuh orang. Kebanyakan luka penusukan, peluru nyasar sampai tebasan. Kita hanya bisa menangani pertolongan pertama saja, selebihnya dibawa rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
Yah, kebanyakan mereka pasti gak akan melakukan nya. Kakek sebagai dokter gelap sudah seperti menjadi tempat penampungan relawan. Beliau tak mau menerima bayaran, tapi kami perlu makan jadi aku sering meminta untuk bertukar informasi dan lebih banyak berbicara dibandingkan dengan kakek.
"Anak kecil?" Seseorang yang membawa temannya terluka, tak percaya yang mengobati adalah seorang anak-anak. Aku sudah terlalu sering mendengarkannya.
Ia hanya melihat cara ku menangani, tak gentar takut apa itu darah sama daging yang terkoyak oleh peluru. Mengambil timbal di dalam tubuh mereka merupakan perkara yang mudah, jika masih di dalam sekitar area tubuh. Apabila mengenai kepalanya, biasanya mereka membutuhkan informasi yang diperlukan. Itu sudah diluar kemampuan ku karena alatnya yang tidak mumpuni.
"Dokter Simon, bisakah kamu mengobati nya dengan cepat. Lehernya tertembak." Hal yang pertama kakek lakukan adalah bertanya padaku. "Yudas, kamu bisa melakukan bedah?"
Ini sebuah tantangan, korban tersebut dibiarkan berbaring dan memposisikan lehernya untuk tidak bergerak, aku anggap ini sebagai cidera tulang belakang. Di sini gak ada CT Scan ataupun MRI, aku anggap peluru tersebut menahan saluran Arteri nya. Ku suntik dengan obat bius Anestesi terlebih dahulu supaya ia tidak merasa panik.
Membaca setiap denyut nadi setiap 15 menit untuk menjaga pembuluh darahnya tetap stabil. Kumulai menyayat sepanjang tepi depan otot leher untuk melihat pembuluh darah yang rusak. Ku identifikasi terlebih dahulu untuk penanganan yang lebih tepat. Ini memerlukan perbaikan langsung pada Arteri nya dan memerlukan jaringan tambahan untuk menutup lubang biar Arteri nya tidak menyempit.
Waktu yang diperlukan 3 jam tanpa henti, aku bertarung sama waktu cuma dua orang saja melakukannya. Ini cukup berat bagiku, kakek ku juga sudah gak fit semasa ia masih muda. Jadi, ia terkadang istirahat sejenak dan aku melanjutkan operasi tanpanya.
Untuk tahap akhir aku evaluasi aliran, pembersihan area yang terluka setelah timbalnya terpisah, tinggal menjahit lukanya.
"Operasi selesai." Tinggal diberikan perban dan dipindahkan ke ruangan yang lebih hangat. Temannya yang terus menunggu mendapatkan kabar yang bagus.
"Anak kecil, keadaan dia bagaimana?"
"Sudah aman terkendali." Aku mengulurkan tangannya untuk meminta uang DP, perutku merasa lapar, Johan pun pasti bosan menjaga pintu di luar seharian.
Enaknya makan apa, Ramen, Nasi Kari, Sate atau Nasi goreng. Aku biasa datang ke tempat langganan ku, mereka kebanyakan orang-orang jahat yang masih abu-abu.
"Paman, aku pesan nasi goreng sama daging buat Johan." Beliau langsung menjawab dan membuat masakan untuk ku. Orang-orang di sini gak terbiasa dengan anak kecil seperti ku, selalu bersikap belagu di depan ku yang sedang duduk di meja depan ku ada dapurnya langsung.
"Gak ada makanan untuk bocah seperti mu."
"Hm? Aku bayar dengan uang ku sendiri," jawabku.
"Gak ada uang gratis untuk mu, kembalilah ke mama mu dan kenyot payudara nya."
Mereka suka sekali mengejek ku, diminta untuk bersabar dan tidak melawan. Bisa memicu peperangan konflik antara dua geng. Ada sebagian yang tidak menyukai nya dan melindungi ku.
"Siapa kamu? Bawahan bocah ini?" Aku juga tidak mengenal wajah-wajah mereka, lebih banyak kuhabiskan melihat bekas luka mereka yang disembuhkan sama kami.
"Dia adalah penyelamat ku, jangan mengusiknya."
"Penyelamat mu? Memberikan susu hangat sama popok bayi, supaya gak ngompol?" Mereka mulai tertawa mendengarkan ejekannya dan setiap orang mulai memancingnya.
"Bam!" Sebuah senjata menembak ke langit tak ada ada bekas lubang untuk menghentikan gelak tawa mereka. "Tenanglah, aku sedang menikmati Ramennya."
Lalu, pasien yang baru selesai dioperasi mencari keberadaan ku dan masuk untuk berterima kasih padaku. "Ada satu orang yang mengenakan popok bayinya—" Kepalanya tertembak langsung mengenai peluru pasien ini.
Suasananya jadi tegang, paman kedai ini membawa shotgun nya di atas meja pesanan supaya tidak ada kericuhan terjadi.
"Gimana cara ku untuk balas jasa mu? Apakah bayarannya dengan uang?" Aku masih kurang informasi di sini jadi ku meminta. "Aku ingin tau informan di sini sama brokernya. Kakek meminta ku untuk tidak selalu menerima bayaran dari siapapun. Aku bukan anggota relawan, jadi kuperlukan seseorang untuk berbisnis."
"Aku suka cara berpikir mu." Pasien ini sepertinya paham dengan kondisi kami dan aku tidak ingin diremehkan atau berbuat naif kepada siapapun.
"Aku juga memerlukan senjata untuk melindungi diri. Kamu punya kenalan?"
"Ya, serahkan padaku. Kamu sedang memesan makanan?"
"Ya. Nasi goreng dari paman sama daging buat Johan."
"Anjing ini?" Aku mengangguk. "Dokter, aku boleh makan? Sama merokok?"
"Tidak boleh. Kamu harus mulai dari cairan jernih terlebih dahulu, minum air di gelas ini." Kusodorkan padanya, ia mulai meminum secara perlahan. "Apakah merasa sakit?"
"Ya, sedikit. Rasanya agak aneh."
"Berarti kamu hanya boleh memakan makanan lunak baru sudah tidak merasakan kesakitan dan mampu. Kamu bisa makan makanan normal. Seharusnya lebih baik kamu berpuasa terlebih pasca operasi. Kamu bukan tipe orang yang mau mendengarkan omongan orang lain."
"Kenapa kamu bisa tau? Selain makanan cair, untuk minuman seperti kopi gimana?"
"Tidak boleh, harus jernih. Di dalam tubuh mu masih ada sisa obat biusnya. Gimana cara mu bisa bergerak normal?"
"Dengan semangat untuk mengucapkan terima kasih banyak kepada mu, dokter."
"Aku bukan dokter dan dari mana kamu tau aku berada di sini?"
"Orang tua itu yang memberi tahu mu."
"Terus, di mana rekan mu?"
Seseorang tiba-tiba membuka pintu kedai cukup keras, orang-orang disekitar mulai memperhatikannya, dia mendekati kami. "Gil, kamu harus beristirahat. Oh, dokter kecil ada di sini juga.
"Nanti aku beristirahat, urusan kita belum selesai." Aku menyuruh rekannya untuk lebih dekat padaku. Meminta diawasi supaya ia tidak mati konyol dan kuberikan beberapa catatan untuk keberlangsungan hidupnya. Syukur, rekannya cukup pengertian.
"Paman, terima kasih atas Ramennya." Pria yang menembak ke atas membawa satu mangkuk besar yang bersih dan berisikan uang bayarannya. Di waktu yang bersamaan nasi goreng sama dagingnya sudah matang.
"Terima kasih banyak," jawab paman.
"Gimana? Kamu makan terlebih dahulu. Selama tiga jam menunggu operasi ku selesai, perut mu juga merasa lapar. Dan secara kebetulan urusan kita hampir selesai."
Pasien sama pria ini saling bertatapan, "Jika kalian ada urusan selesaikan di luar. Aku sedang mau menikmati nasi gorengnya paman."
"Perkataannya benar juga, ayo kita keluar. Jika gak jadi mesan."
"Aku baru saja membacanya."
"Gimana dengan Ramen? Buatan ku sangat enak," tawar dari paman.
"Kalau gitu, aku pesan satu ramen dan balik ke sini."
Aku tidak peduli, jika pasien ku mati di luar. Tapi ia masih memiliki hutang budi padaku, tak akan semudah itu mati begitu saja.
"Bocah, pelindung mu sepertinya sudah pergi. Kamu ingatkan dengan perkataan ku? Kalau tidak nanti menyesal."
Aku pura-pura gak dengar, kuambil satu suap untuk mencicipinya, suapan kedua untuk merasakan umaminya, suapan ketiga baru kuambil mereka sudah menyingkirkan piring sama sendok yang baru kupegang.
"Kamu mendengarkan ku bocah?"
"Mungkinkah ia ketakutan?"
"Periksa celananya, dia pasti ngompol!"
Mereka membuat kesalahan yang besar, aku belum istirahat akhir-akhir ini. Apalagi tidur pulas, gegara mereka yang gak bisa mengerti apa itu kedamaian. "Kamu ingin mati di sini?" Tatapan tajam ku melempar ke hadapannya dan menandai rekan-rekannya.
"Apa dia bilang? Mau mati? Bocah ini lucu sekali."
Untung langit sudah mulai gelap, kusuruh Johan untuk pergi keluar jika sudah selesai makan. "Maaf Paman, aku akan membuat kedai mu berserakan lagi."
"Jangan lupa bayaran, jika ada properti sama darah yang keluar. Bereskan itu semua."
"Apa yang dia bilang? Lelucon mu garing sekali."
Paman mematikan penerangan nya dalam hitungan detik, aku menembak seluruh rekannya dengan senjatanya. Saat dinyalakan kembali, orang terakhir mengejekku ku ancam balik.
"Omongan dari tadi besar sekali. Apakah itu gaya bicara mu?" Ku todongkan sambil duduk tak sengaja menarik pelatuknya mengenai tubuh bagian bawahnya, ia menjerit kesakitan.
Selongsong yang masih panas ku masukkan ke dalam mulutnya supaya berhenti menjerit, ia malah berdiri dan kabur dengan kaki yang masih pincang. "Beri tau teman mu, supaya jaga mulut." Ku kembalikan senjatanya ke pemilik aslinya dan menimpa sidik jariku dengan sidik jarinya.
Pelanggan yang sesama kriminal seperti mereka tak ada yang menghentikan tindakan ku, sebagian sudah ada yang mengerti, sebagian ada yang belum percaya dan sebagain lagi adalah mantan pasien ku mereka pun cukup terkejut. Aku begitu mudahnya melayangkan nyawa seseorang, sensasi waktu pertama kali menembak dan membunuh masih terasa sampai sekarang. Tanganku sedikit bergemetar dan ku tinggalkan bayaran lebih untuk paman, lagian di distrik pasar ilegal tidak ada penjaga keamanan yang ada cuma jasa pemberian TKP. Aku menembak langsung ke kepala mereka, darahnya pasti berceceran dan pergi dari kedai lalu menjauh untuk sementara waktu.
Pasien sama orang itu terkejut siapa yang memulai itu semua, mereka yang melihatnya termasuk paman tutup mulut. Jika ada yang tau, kemungkinan korban yang berikutnya akan berjatuhan lebih banyak lagi.
Membunuh dan menyembuhkan merupakan perkara mudah bagiku yaitu mematikan sebuah perasaan. Jika sudah terlanjur jadi bubur, mau bagaimana lagi. Aku bukanlah Tuhan, mereka sudah mengganggu ku, merendahkan ku layaknya sampah. Siapa yang telah mengobati para kriminal di sini selain dokter gelap yang bernama Simon.
"Selamat datang Yudas, kamu sudah kenyang?"
"Ya. Aku sudah kenyang membunuh 3 orang dan yang satu kubiarkan kabur."
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa begitu? Ceritakan kronologi mu."
"Dokter, dia penyembuh sekaligus pencabut yang hebat. Aku salah menilainya, ku kira ia seorang anak yang penurut." Pasien yang barusan berada di kedai paman, ia sudah berada di sini.
"Kamu harus beristirahat, jangan keluyuran mencarinya."
"Bilangin terus kepadanya dokter. Dia orangnya bebal sekali. Selalu mengikuti apa kata hatinya."
Ku melihat ke belakang satu rekannya bersamaan dengan pria yang sedang mau berurusan.
"Aku mau membayar sebuah informasi yang anak itu minta. Anda tak mau menerima uang dari kami 'kan? Murah hati sekali di tempat yang kotor ini. Anda setidaknya harus belajar kepada anak ini, gimana melihat kondisi lingkungan sekitar." Ia lalu mendekati ku dan memegangku. "Jika kamu butuh penjaga bisa hubungi ku, pembunuh bayaran Gilberta dan rekan ku Fritz. Dia sedikit pengecut."
"Siapa yang kau bilang pengecut?"
Ku menggenggam balik ada sebuah kertas yang berisikan pesan dan nomor telepon, "Terima kasih atas tawarannya kak Gilberta. Ada hal yang lain aku urus."
"Yudas, kamu harus beristirahat terlebih dahulu. Tubuh mu sudah gak tidur selama 3 hari berturut-turut. Jangan paksakan."
Aku melihat kakek dengan kantung mata yang begitu berat sekali. "Tidak apa, kakek harus menutup kliniknya untuk sementara waktu. Jika aku ingin istirahat, kakek selalu memaksa diri ketimbang diriku."
"Dia benar sekali dokter. Nama mu Yudas. Kamu ingin pergi ke mana lagi? Biarkan aku menemani mu."
"Ini pekerjaan kotor yang lainnya, mungkin kamu akan muntah melihatnya. Johan, kamu jaga rumah sama kakek. Nanti aku bawakan mainan baru untuk mu."
Mereka bertiga mengikuti dari belakang, aku membawa tas cukup besar yang berisikan pakaian, alat dan sapu tangan steril. Di sana ada pegawai yang sudah tua seperti kakek, tapi cukup profesional dalam menangani TKP dan mayatnya sebelum dibuang ini adalah tugas ku.
"Anak kecil apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya rekan pasien ku.
"Membedah mereka dan mengambil organ dalam yang masih segar sama bola mata ke para broker kolektor. Di sini surganya tempat jual begituan 'kan? Pasti akan laku dengan harga yang tinggi."
"Hiik." Ia tidak percaya dengan apa yang didengar.
"Apakah kamu pelakunya yang membunuh rekan ku di sini, bocah?" Pria penikmat ramen ikut bertanya.
"Aku tidak tau siapa rekan mu, jika kamu memiliki fotonya mungkin aku mengenalinya." Ia memperlihatkan foto pria dengan rambut ikal, hidung besar dan mata yang sedikit ngantuk.
"Oh, pencuri ulung itu. Beberapa hari aku mengobatinya, sudah ku serahkan ke korban pencurinya. Dia berusuan dengan orang elitis di sini."
"Kamu tau tempatnya?"
"Ada di distrik jalan Linden, di situ ada restoran yang bagus dan makanan nya enak. Tanya saja sama orang-orang di dapur."
"Kamu serius? Sedang tidak bercanda?" Saat ia mau mengeluarkan senjatanya, pasien ku mencekal nya. "Apa yang kamu lakukan kepada penyelamat ku?"
"Bisakah kalian bertiga keluar dari sini, aku ingin tempat ini tetap steril. Nanti akan ku antarkan jika sudah selesai membedah mereka bertiga."
Orang yang sudah mati, gak ragu aku membedahnya dan gak memedulikan darah yang berceceran. Tapi kulakukan dengan sayatan yang bersih, mengambil jantung, dua ginjal, hati, dua pasang paru-paru, dua buah bola mata. Kumasukkan semua ke dalam kantung plastik kedap udara. Broker penjual organ dalam selalu tau, jika pembedahan ku telah selesai. Menjahit perut sama badan ketiga mayat tinggal dikremasi.
"Anak muda, kamu selalu melakukan nya dengan baik. Ini imbalan mu untuk ketiga mayat tersebut."
"Terima kasih banyak." Aku menerima kartu debit hitam yang berupa saldo.
Orang itu selalu pergi dengan membawa koper perak dan menghilang secara misterius.
"Yu-Yudas, kamu mau rehat sejenak? Kami sudah buatkan kue sama susu untuk mu."
"Terima kasih, nenek. Aku akan ke sana, setelah ganti baju." Ku berikan kartu debit hitam tersebut kepada mereka supaya bisa dibagi-bagi hasilnya.
Ketiga penjaga ku menampakkan diri lagi setelah aku sedang istirahat menikmati cemilan dari nenek-nenek ini yang diberikan padaku.
Jasa pembersihan TKP di distrik ini cuma segelintir saja, cuma ada enam. Tapi mereka tidak punya tenaga yang ahli dalam penanganan mayatnya, hanya dibawa dengan mobil jenazah dan langsung dikremasi, kecuali tempat ini, sangat sempurna sekali jika dilakukan operasi bedah.
"Yudas, kamu sangat menikmatinya. Habis melihat darah sama jeroan manusia, kamu sanggup makan."
"Aku sudah terbiasa soal itu, sudah selama sepuluh bulan aku berada di sini dan mengenal berbagai macam orang. Kamu sendiri seorang penjaga bayaran, begitu percaya diri dengan keahlian mu. Kenapa bisa tertembak di bagian leher?"
"Itu hanyalah kecerobohan ku dalam bekerja, ada orang asing yang mau menembak klien kami."
"Hmm..." Sambil meminum susu.
"Anak kecil, bisakah kita pergi sekarang ke restoran yang kamu maksudkan."
"Tenang saja, jangan buru-buru urusan ku di sini belum selesai."
"Apa yang belum selesai?"
"Bayaran ku, nenek-nenek itu sedang mencairkan saldonya."
Sebuah kantung belanjaan yang berisikan tumpukan kertas yang begitu banyak, aku menerima empat kantung sekaligus. "Ini imbalan mu selama ini, Yudas." Nenek-nenek selama ini mengetes ku dan selalu memberikan bayaran yang kecil, ku rasa aku dibayar dengan uang yang layak. Kuperiksa semua lembaran tersebut tak dihitung secara manual, aku periksa dengan cepat aja dengan mengambil dan melihat lembaran secara acak lalu kumasukkan kembali ke dalam kantung belanjaan.
"Mau sampai kapan, kamu menghitung semua uang itu?" Dia seperti buru-buru sekali.
"Sabar adalah kuncinya, bentar lagi ada orang yang akan menjemput ku."
"Menjemput mu? Siapa orang nya?"
Aku memanggil orang yang paling ku percaya di distrik ini. "Kamu seenaknya memanggil ku kemari, aku bukan sopir mu."
"Nona, kamu harus kembali ke mobil."
"Berisik Timmy, aku sedang berbicara pada nya."
"Yo, Lizert. Cara bicara mu seperti biasa kasar sekali, kamu seorang perempuan harus feminim."
"Berisik, aku tidak ingin mendengarkan omongan mu. Buruan datang ke rumah ku, sudah tiga hari kamu gak main ke sana."
"Kamu kesepian tanpa aku? Mau bagaimana lagi."
"Berisik, jangan banyak ngoceh."
Mereka bertiga kebingungan dan pernah melihat orang-orang berkulit hitam dengan tubuh yang besar tapi tidak sebesar Timmy yang ia sebutkan namanya.
"Tunggu sebentar, kami sedang ada urusan dengan nya." Pria memegang ku sebelum Lizert menggenggam ku.
"Kamu siapa? Jangan ganggu urusan kami."
"Lizert, jaga sopan santun mu."
"Yudas, kamu gak berhak bilang begitu pada—" aku menatap nya tajam, supaya ia sedikit lebih tenang. "Bawa ia kembali ke mobil dan sekalian semua kantung belanja ini. Aku belum selesai dengan tamu ku."
"Baiklah."
"Yudas. Nanti malam datang ke rumah ku, ayah ku ingin bertemu dengan mu."
"Ya. Aku berjanji akan datang ke rumah ku, nanti aku harus pamit kepada kakek terlebih dahulu."
Aku mengajak mereka bertiga ke restoran yang dimaksudkan, lewat pintu depan di jalan yang normal dengan banyaknya orang yang berkerumunan. Mereka tidak bertanya dengan perihal semua rentetan yang terjadi.
"Selamat datang. Hm? Aneh sekali, ini bukan shift mu bekerja. Kamu membawa tiga pelanggan baru."
"Maaf mengganggu atas kesibukan mu Manager. Tolong layani mereka bertiga dan yang satu jangan berikan makanan berat terlebih dahulu, lehernya masih dalam tahap penyembuhan."
Aku sama tiga pria pengawal ini duduk di satu meja yang sama.
"Tuan-tuan apa pesanannya?"
"Kopi."
"Jus."
"Air dingin."
"Tidak perlu."
"Baiklah. Akan kami bawa pesanannya."
Pria ini masih mengeluh untuk ditemukan sama pelakunya. "Anak kecil, kita sudah datang ke sini. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Tanyakan saja saksi yang melihatnya, restoran keluarga ini adalah awal mula kejadiannya terjadi."
Dia langsung berdiri dan menanyakan para pegawai restoran di sini. Mereka menceritakan kronologi kejadian awal mula terjadi.
"Neh, Yudas. Kamu banyak sekali pekerjaannya di umur yang masih kecil, berapa usia mu?"
"Empat tahun." Sebenarnya sudah lima tahun lebih, aku sedikit berbohong.
"Empat tahun? Anak kecil seperti mu? Gimana caranya diterima kerja di berbagai tempat?"
"Aku menunjukkan keahlian sama keuletan. Uang akan datang sendiri."
"Di klinik sana, kenapa gak cari uang di sana saja. Pasti aman bersama kakek mu."
"Tempat itu hanyalah posyandu bagi para orang-orang seperti mu mencari masalah. Kebanyakan orang seperti mu miskin gak banyak uang sama sekali. Apakah tebakan ku benar?"
"Sangat memalukan, memang benar. Perawatan sama berobat cukup mahal bagi pekerja serabutan seperti kami. Tetapi, kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Itu semua buat apa?"
"Itu rahasia. Jika kalian mengancam ku, mulutku akan tetap terkunci."
"Mana mungkin kami mengancam mu. Benarkan Fritz."
"Y-Ya. Kamu membunuh 3 orang tanpa pandang bulu, lalu mengambil organ dalam kami dan dijual. Itu sangat mengerikan."
Cukup ku mendengarkannya. "Aku tidak tau kalian orang baik atau orang jahat. Yang jelas kalian gak bisa ku remehkan, aku masih menghormati mu dan menaruh kepercayaan. Aku ingin bayarannya sekarang, sebelum langit keburu menjadi gelap."
"Baiklah, akan ku bawa seorang informan sama broker kami. Selanjutnya kamu akan bertindak apa?"
"Kalian gak perlu tau. Antarkan saja aku di sana." Kami bertiga berdiri bersamaan dan pergi dari restoran ini, "Manager, masukkan saja ke kasbon ku." Pria tersebut sedang mengulik informasi dan menuju ke saksi mata berikutnya. Pasti rekannya begitu berharga.
Kami pergi ke jalan belakang gedung, yang merupakan para organisasi atau disebut klub-klub gak jelas pembunuh bayaran, kriminal, pengedar narkoba sama jual beli informasi. Gak lupa sama tempat bordil yang tidak higienis.
"Gil, Fritz. Kamu terlambat tidak sesuai kontrak yang dijanjikan."
"Maaf Bos. Aku mendapatkan sama buktinya." Rekannya memberikan kantung yang ada bekas darahnya sama sebuah kalung anjing yang mereka pakai.
"Ini bayaran mu."
Mereka memeriksa dan menghitung nya. "Kok sedikit banget? Aku hampir gegara si bangsat itu, memanggil para Mafia."
"Hm. Itu salah sendiri, gak bertindak secara hati-hati. Kliennya sudah pergi dari sini, gak ada bonus tambahan. Pergilah dari sini, toko nya mau ku tutup."
Mereka pergi dengan muka yang kecewa. "Tunggu sebentar siapa yang kalian bawa? Gak boleh anak kecil masuk kemari."
"Dia penyelamat ku, kami akan membawa ke tempat yang lain."
"Jangan dingin begitu, di sini ada prinsip tak ada perkenalan maka tak ada pekerjaan yang diberikan. Anak kecil siapa nama mu?"
"Dia—"
"Diamlah Fritz. Dia sedang berbicara pada ku," selaku
"Hoo— Ternyata kamu tau juga cara berkomunikasi anak kecil, siapa yang mengajari mu?"
"Paman, jika kamu ingin tau siapa aku ini. Kau harus minta izin kepadanya, kak Gilberta yang membawaku ke mari. Informasi pribadi itu mahal."
"Kamu berani bayar berapa?"
"100 keping perak sama 5 keping emas. Jika kamu punya cadangan sebanyak itu."
"Kamu mau bernegosiasi sama Bos?"
"Dia namanya Bos?"
"Bukan, aku kurang tau. Dia hanya mengaku dirinya sendiri sebagai Bos, banyak orang-orang seperti kami bekerja padanya. Untuk mendapatkan pekerjaan receh, terkadang ia suka licik memainkan bayaran kami."
"Gilberta mendapatkan upah yang layak, meskipun Fritz cuma menemani nya, ia hanya seorang pecundang."
"Apa kata mu anak kecil?"
"Ha-ha-ha, kamu lucu sekali. Ingin menjadi buruh harian seperti mereka?"
"Gak. Menurut mu, apakah aku pantas seperti mereka?"
"Hmm ... Kurasa tidak." Dia memiliki penilaian yang bagus. "Tapi, jika kau ingin menjadi asisten ku akan ku angkat."
"Tidak terima kasih. Aku tidak ingin basa-basi lebih lama lagi, waktu ku terbatas. Ayo pergi kalian berdua."
"Anak kecil, kami menerima siapapun di sini dan beritahu nama mu juga."
"Siapkan uangnya terlebih dahulu. Mungkin aku akan balik ke sini lagi."
"Dasar bocah kurang ajar."
Setelah pergi dari sana, aku langsung memperkerjakan mereka. "Apakah kalian mau bayaran lebih? Sepertinya, aku akan jadi buronan."
"Kamu? Menjadi Buronan? Gak mungkin sekali. Mereka menginginkan apa dari mu?"
"Entahlah coba pikirkan sendiri." Gilberta langsung paham yang ku maksud. "Berapa bayarannya?"
"Satu kantung penuh berisikan uang. Aku ingin kalian menjaga ku di jalan belakang ini selagi sedang mencari informan sama broker yang kamu tuju."
"Deal. Fritz, kita harus serius soal ini. Kita mungkin kedatangan orang berbahaya lagi."
"Heh? Orang berbahaya? Siapa yang kamu maksudkan?"
Sebuah peluru entah datang dari mana, rekannya melindungi Gilberta dengan bilah besi pedangnya. "Sepertinya tamu kita sudah datang. Kita sedang dikerumuni orang-orang yang dipekerjakan oleh Bos."
"Heh? Bos? Seriusan."
"Dua rius, Yudas kamu tetap bersembunyi dibalik ku."
Aku sudah menghilangkan jejak ku dari pandangan mereka.
"Are? Dia ke mana? Mungkinkah sudah diculik?"
Gilberta kebingungan, Fritz sepertinya cukup panik. "Ah, sialan. Kita gak dapat bayaran kalau begini. Ayo Fritz, kita cari anak itu mungkin ke tempat persembunyian Bos."
Bingo, ini yang aku inginkan gudangnya informasi ada dibalik siapa yang memperkerjakan mereka. Bos hanya seorang perantara seperti pengantar pesan. Aku masuk ke dimensi Fraktal bersembunyi di kegelapan bayangan mereka. Mereka berlari sambil menghadapi penembak misterius dan dicegat oleh orang-orang yang mau menghalangi nya.
"Yoh, Gil. Sepertinya kamu membawa kantung emas di saku mu. Bayaran mu pasti cukup besar kali ini."
"Berisik Will, aku sedang tidak berunding pada mu." Kantung bayarannya diambil oleh seseorang dari belakang mereka.
"Ya—Ha. Lihat-lihat, uwoh bayarannya sedikit sekali. Sepertinya bos sedang pelit dengan mu."
"Lihat kan? Jadi, kembalikan uangnya."
"Eitz, aku sudah mengambilnya mana mungkin ku kembalika—" Bilah besi yang dipegang oleh Fritz memotong tangannya yang memegang kantung dengan bersih. "Seorang pencuri harus menerima hukuman ilahi."
Orang itu menjerit kesakitan dan mencari pertolongan untuk segera diobati. Lalu sebuah kendaraan yang bising datang masuk ke jalan sempit ini dengan mesin yang masih panas, orang itu dipegang tangannya yang sudah terpotong sebuah suara seperti angin kempes bersentuhan dengan luka tersebut membuat rasa perih bagi yang melihatnya ataupun mendengarkannya. Pertolongan pertama sudah selesai dan orang itu pingsan karena gak tahan rasa sakitnya. Ditambah bau gosong dari darah yang menempel pada mesin panas tersebut.
"Aku dengar dari bos, kamu bawa sesuatu yang menarik. Berikan padaku," aku gak suka sama pria perokok. Fritz pun juga sama, ia memadamkan cerutu rokok tersebut dengan bilah pedangnya.
"Hans, kamu harus memilih diantara mau berbicara atau menghissp."
"Seperti biasa aturan mu begitu ketat sekali. Seorang pecundang seperti mu, berani melawan ku."
"Sial, kenapa ini bisa semakin runyam begini. Yudas, kamu harus membayar kami dengan uang yang layak."
Yeah, tentu saja. Buktikan kemampuan mu sebagai bodyguard profesional. Aku sudah memasuki kandang singa, kenapa Bos ingin memiliki ku sebagai asistennya, karena ia tau siapa aku ini dan selama ini aku selalu aman dalam jangkauan Simon. Kakek masih memiliki koneksi para pedagang yang ada disekitar lingkungan di masa mudanya dulu. Aku dilindungi dari berbagai pihak pedagang dan merasa nyaman dekat, gak ada kendala dalam belanja. Paman pemilik kedai tersebut sepertinya punya hutang budi sama kakek.
Lalu aku pergi agak sedikit jauh, yang dekat dengan distrik sebelah yaitu restoran tersebut di jalan Linden. Di sana ada dua politikus yang bersengketan sama keluarganya Lizert, yang satunya kemungkinan rekan kerja penikmat Ramen menyamar jadi orang biasa lalu menghilang dari pandangannya. Ia sepertinya sedang diburu sama waktu.
Fritz sama Gilberta, kemungkinan menerima klien untuk menjaga rekan dari pria penikmat ramen dengan cara tersembunyi supaya ia tak ketahuan sedang dijaga. Namun bawahannya untuk melindungi nya, yang dianggap oleh mereka berdua seorang mafia. Sebenarnya, ia memang anak dari seorang mafia. Yang terus dikekang oleh keluarganya, makanya ia ingin tau gimana hidupnya di luar tanpa status yang dimilikinya.
Mungkin ini sebuah kebetulan atau gimana, aku selama sepuluh bulan di sini cuma bisa mengamati dan menghabisi para kriminal yang berbahaya, yang bisa mengancam ketenangan para pedagang. Beruntungnya aku belum berurusan sama sindikat. Mati gwe nanti kalau ketauan sama kakek. Makanya aku memanfaatkan dua perantara ini sebagai pelindung ku.
"Sial ... Fritz. Jangan menjauh dari ku."
Mereka berlari dari penembak misterius yang sudah menghabisi orang-orang yang menghalanginya, mereka memanfaatkan sebaik mungkin. Sayang sekali mayat-mayat ini tak bisa kuambil untuk diambil organ dalamnya. Mereka berdua terus bersamaan, di mana momen harus berpisah. Salah satu menghabisi penembak tersebut dari depan dan satunya lewat belakang.
Fritz memilih masuk lewat jalur depan, ia bisa melihat dan menepis laju peluru begitu jelas. Aku ikut di dalam bayangan pasien ku, ia jauh lebih gila dari yang kubayangkan. Ia memakai tubuhnya sendiri sebagai alatnya bukan anggota badan yang penting.
"Tidak sakit sama sekali, sialan!" Ia menyuntikkan lengan kirinya dengan obat bius yang ia ambil dari klinik kakek. Dan tangan satunya membidik dengan tepat, terus bergerak maju tanpa memedulikan hujan peluru yang akan datang.
Ia mengunyah obat sesuatu dari dalam saku bajunya, tiba-tiba energinya meledak seperti orang kerasukan. Bau ini begitu harum, Gilberta telah menelan steroid begitu banyak dalam satu genggamannya.
"Ini sudah tak tertahankan lagi, hahahaha. Mati mati mati mati, kalian semua mati dan musnah lah." Otaknya sudah mulai terpengaruh oleh obat ini. Indranya semakin tajam, ia bisa tau ada penembak dari belakang di atas gedung tersebut. Dia mulai berlari mengejarnya seperti anjing gila, terus mengendus dan memotong jalur kaburnya. "Halo." Suara tembakan tepat di depannya berkali-kali sampai *magazine* nya habis. "Haaa, tenggorokan ku haus sekali." Saat di rasa sekitar sudah aman, aku memukul dan menyikut perutnya sekuat tenaga yang kumiliki untuk memuntahkan semua obat-obatan yang telah ia konsumsi. "Maaf, ini akan membuat tenggorokan mu jadi lebih sakit. Tahanlah penderitaan mu ini Gil."
Rekannya baru kembali, seperti ia sudah menghabisi atau selamat melihatnya muntah seisi perutnya dengan luka yang sangat serius dibagian lengan kirinya, pendarahannya terus mengalir. Fritz menutup lukanya dengan perban, entah dari mana ia mendapatkannya. Kemungkinan mencuri juga di klinik kakek tanpa sepengetahuan kita berdua.
Gilberta langsung terkapar jatuh dan pingsan, "Kamu terlalu berlebihan lagi. Kita masih punya tugas dan hutang yang belum dilunasi." Ia membawa dan berjalan sambil merangkul nya menuju tempat yang ku kenal, namun klinik tersebut sudah tutup apa yang aku suruh. Sudah ada beberapa orang di dalamnya untuk mencari ku, beruntungnya kakek sama Johan gak berada di sini.
"Hahaha, sepertinya kita kedatang dua tikus di sini." Aku datang dari dasar kegelapan dibalik tubuh mereka dengan membawa cahaya yang berada digenggaman tanganku untuk menyerang psikologis mereka. Aku meminjam bentuk senjata yang Fritz bawa, untuk membelah penyusup klinik ini terbelah menjadi dua.
"Anak kecil, dari mana kamu datang?"
"Itu gak penting, baringkan Gilberta di meja operasi. Aku akan mengobatinya dan memberikan perawatan khusus. Kau urus saja mayat-mayat itu, buang dibelakang klinik." Sambil melempar kain pel.
Ia syok melihat tubuh tersebut terpotong dengan rapi. "Aku membawa separuh mayat-mayat ini?"
Kondisi Gilberta begitu kritis sekali, aku harus mengeluarkan timbal yang ada di lengan kirinya sama mencuci darah dari obat yang sudah dikonsumsi, sekaligus menginfuskan dengan darah yang baru
Aku mengobati pasien yang sama dalam satu hari, cuma dia doang mungkin. Ku kerahkan konsentrasi sama fokus, untuk tidak ada kesalahan satupun, nyawanya merupakan taruhannya. Meskipun aku baru saja melayangkan beberapa nyawa begitu mudah. Ini terdengar sungguh ironi sekali.
Di saat aku sedang menutup lukanya dengan jahitan, suara telepon klinik berbunyi kabar dari Fritz. Ia kembali ke setelan awal, menjadi orang yang pucat, pengecut sama takutan.
"Kamu mengingkari janjiku lagi, katanya mau datang ke rumah ku." Ah, ini gadis itu lagi, terdengar *bad mood* sekali.
"Maaf, Lizert. Aku ke datang pasien secara tiba-tiba. Mau bicara sama dia? Aku belum selesai mengobatinya."
"Aku gak peduli soal itu, janji adalah janji. Aku akan menunggu mu untuk datang hari ini."
Suara telepon mati, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Mata ku sudah berat sekali untuk tidur, habis menyelesaikan jahitannya. Suara mobil dari depan, pria besar hitam itu datang kemari, kakek pun juga ikut hadir. Untuk menggantikan ku mengobati pasiennya.
"Yare-yare, dasar cucuku ini." Ia melihat ku tersenyum, apa yang sedang kulakukan, apa yang sudah kukatakan.
"Maaf kakek. Aku ada janji sama orang lain, besok siang kembali ke sini."
"Tidak perlu khawatir, aku akan menagih bayaran mereka. Apa yang kamu pinta, kamu berlibur aja dulu beberapa hari, klinik kakek baik-baik saja."
Aku dibawa langsung ke mobil dan diantarkan oleh pria besar ini, gadis itu berdiri ngambek di depan pintu. "Kamu lama sekali." Aku mendekatinya dan memeluk tubuhnya begitu lemas sekali. "Ba-Badan mu bau keringat sama darah, harus mandi terlebih dahulu." Dia tersipu malu dan terjatuh pingsan, yang penting aku sudah menepati janjinya untuk hadir ke rumahnya, mau ngobrol atau tidak, itu urusan belakang.
...
Aku terkadang lupa, bahwa aku ini hanyalah sebatas anak kecil yang berumur lima tahun. Lizert masih bocah yang lebih tua dari ku berumur tujuh tahun.
Ayahnya merupakan orang politikus yang berpengaruh sebab, ia adalah walikota di distrik ini. Yang ia urus adalah permukaan di atasnya, untuk hal yang lebih gelap ia harus mencari orang yang tepat, biar tidak menggigit balik.
Aku sering bertukar informasi padanya, untuk kestabilan kota yang sedang dikelola. Gak selamanya aku berada di sini, ia memanfaatkan anaknya untuk menjaga ku tetap berada di sini.
Hal yang pertama, aku pasti sudah memiliki privilage. Kedua, aku akan dikenalkan teman-teman politis. Ketiga, aku bisa mendapatkan jaminan nepotisme lebih tinggi jika ingin jadi penguasa. Aku tidak menginginkan hal semacam itu, meskipun diriku merupakan kandidat yang cocok di masa depan. Lizert akan menjadi pendamping hidupku.
"Gimana Yudas? Apakah kamu merasa nyaman dengan kamar mu?"
"Ya. Tuan Garland, ini rumah yang sangat nyaman dan besar. Aku terlalu terbiasa dengan ruangan yang sempit, di sini rasanya begitu luas."
Gadis itu berlari dengan membawa kabar yang gembira, untuk sementara waktu aku berada di sini. "Kamu pasti merasa senang, bisa menetap di sini."
"Biasa aja," reaksi datarku. Ia cemberut dan kesal, "Kenapa kamu gak seperti anak-anak yang seumuran? Apakah kakek itu telah meracuni otak mu?"
"Meracuni, kah. Aku hanya belajar banyak darinya, aku malah jauh lebih pintar dari putri mu. Benar kan, Tuan Garland?" Sembari sedang menikmati hidangan makan siang di meja makan.
"Apakah itu benar? Papa pasti mendukung ku kan?"
"Of course, he will support me, right Mr. Garland?"
"Papa, apa yang sudah Yudas katakan pada mu? Aku tidak mengerti."
"Tentu saja putri mu tidak mengerti, terkadang seorang politikus harus memainkan beberapa bahasa untuk menarik lawan bicaranya." Aku menggunakan bahasa yang lain, ku pancing terus sampai Lizert merasa ngambek.
"Berisik Yudas, dari tadi kamu ngomong gak jelas mulu. Pakai bahasa yang aku mengerti."
"Terima kasih atas makanannya." Aku dibantu turun dari kursi meja makan. "Makanya belajar, nanti aku paham apa yang aku bicarakan."
Ia mencemberutkan pipinya, ku pegang dengan kedua tangan sampai kempis. "Belajar belajar belajar, aku bosan sama belajar. Apa istimewanya soal itu, selagi masih anak-anak harusnya bermain. Kamu gak bosan belajar melulu?"
"Otakku dalam masa bisa menyerap ilmu apapun, jadi aku manfaatkan untuk belajar secara maksimal. Lagian, aku hanyalah anak gelandangan yang tak memiliki ID identitas untuk masuk ke sekolah yang resmi. Itu adalah aturan yang sudah dibuat."
"Eh? Kamu gak bisa masuk sekolah? Apakah itu benar ayah? Yudas harus memerlukan sebuah ID?"
"Ya, dia benar. Pusat kota hanya memberikan hak akses ke anak yang terdaftar resmi dan tercatat ke sistem keluarga."
"Tapi, itu bisa dilakukan bila diangkat menjadi anak resmi jika dari persetujuan dua belah pihak. Yudas, kamu ingin jadi adik tiri ku?"
"Gak." Aku tolak langsung. Terus ia bertanya kenapa. "Merepotkan ke depannya, ayah angkat ku akan menjadikan ku politikus yang hebat. Kalau gak percaya tanya aja padanya."
"Apakah itu benar papa? Kalau Yudas menjadi politikus, aku gak setuju. Mama selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, apalagi papa yang jarang pulang."
"Teeentu saja tidak, papa akan memberikan kesempatan pilihan Yudas menjadi apa."
"Kamu sudah diberikan pilihan, kalau sudah besar ingin jadi apa?"
Aku meminjam telinga Timmy, ia merendahkan tubuhnya sampai ke lantai. "Aku sudah bilang padanya." Lalu naik ke atas pundak nya.
"Yudas, kamu bisik apa padanya. Timmy, bisa beritahu pada ku. Dan kenapa kamu berada di atas sana."
Ku bisikan lagi padanya dan meniru apa yang akan ku ucapkan. "Yudas, kalau sudah besar dia ingin menjadi calon pasangan hidup mu."
"Eeeh—" dia mulai tersipu malu. "Apakah itu benar, Yudas?"
"Dia berkata benar. Tetapi, nona harus merubah menjadi dewasa terlebih dahulu, penampilan sama sikapnya harus feminim, suaranya harus lembut, tidak boleh membentak ataupun menantang laki-laki nya. Karena nona masih kecil jadi itu tidak mungkin."
"Hmm— Belum kucoba, sudah mengatakan gak mungkin."
"Kalau gitu belajarlah yang giat untuk menjadi calon pasangan ku yang pantas, kata Yudas."
"Itulah kesimpulan ku, jika berlama-lama di sini. Aku akan menghambat tumbuh kembang mu, jadi kejutkanlah aku saat kamu sudah cukup umur."
"Apakah itu benar? Kamu akan berjanji?"
"Aku tidak akan berjanji lewat perkataan. Nilailah sikap ku ini, apakah aku di masa mendatang bisa layak menjadi pasangan hidup mu, benarkan Tuan Garland?"
"Menilai sikap? Kamu masih anak kecil berusia 4 tahun. Memerlukan satu dua tiga empat—"