Malam yang berbahaya di kala seorang anak sedang tidur begitu lelap, di mana anjing, pria paruh baya sama dua pria muda dewasa sedang berjaga. Namun anak itu dititipkan kepada salah dua pria muda dewasa tersebut, karena ingin diadopsi dan itu mungkin merupakan jalan yang terbaik anak tersebut atas permintaan pria paruh baya.
Pagi harinya ia dibawa dengan kendaraan yang bisa terbang sama melaju melayang di atas permukaan jalan, anak tersebut terbangun. Matanya masih tersayup melihat kondisi sekitar.
"Paman aku di mana?" Ia masih mengenali dua pria dewasa tersebut. "Aku mau dibawa ke mana? Ini namanya penculikan kan? Kalian berdua sebenarnya bukan inspektur melainkan seorang penculik anak kan? Aku pasti dijual dengan harga yang mahal dari kepintaran sama kejeniusan yang kumiliki."
"Kenapa ia bisa percaya diri begitu dan begitu yakin mau dijual?" Gumam dalam hati salah satu pria dewasa yang dipanggil inspektur.
"Tenanglah anak muda. Kamu tidak diculik ataupun dijual, cuma dipindahkan ke tempat yang lebih layak dan lebih baik," salah satu pria dewasa mencoba menenangkan rasa panik anak tersebut.
"Kalau gitu aku mau dibawa ke mana? Ke sensus penduduk? Untuk dicatat kewarganegaraan ku? Apakah ada biayanya? Apakah aku mendapatkan surat ijin untuk jadi seorang penduduk lokal? Sejak awal, aku cuma anak buangan yang gak tau asal usulnya. Apakah kalian akan berbohong dan memanipulasi datanya? Gimana caranya? Apakah dibungkam dengan uang? Apakah harus meretas datanya? Yang paling penting apakah kalian mendapatkan izin ke atasan kalian? Apakah kakek benar-benar menyerahkan kepada kalian? Jika aku tidak diterima, apakah aku akan dibuang dan dikembalikan ke kakek? Itu tidak mungkin sekali."
"Kenapa kamu bisa tau sejauh itu? Kamu membaca pikiran ku?"
"Pak Yorda, gimana nih. Jika perkataan ia benar, kita akan merasa bersalah banget."
"Tidak. Buat apa aku membaca pikiran mu? Itu adalah konsekuensi mu, dunia tak akan berjalan sesuai kemauan mu, meskipun telah berbuat baik. Itu hanya sia-sia saja perjuangan mu. Andai kata berhasil, aku bisa membawa keberuntungan pada mu. Kamu bisa memanfaatkan ilmu, kemampuan, kepintaran sama kejeniusan ku. Tapi, ini hanyalah sebatas spekulasi ku yang ada aku akan ditolak."
Mereka berdua kembali ke kantor di mana mereka bekerja untuk menyampaikan sebuah laporan yang sudah diinvestigasi. Anak kecil tersebut diduga sebagai pelaku dalang genosida berencana yang menewaskan banyak orang dari apa yang disimpulkan oleh dari atasan. Karena ada rekaman tersembunyi satu tahun kemarin, anak tersebut dikambing hitamkan oleh petinggi penjaga keamanan yang dibantu dengan teknologi super canggih.
"Apa yang aku ucapkan beneran kejadian kan? Malahan ini jauh lebih buruk dari yang kalian duga. Bukannya dilempar dan dipermudah urusannya. Kalian terlalu meremehkan sistem keadilan dunia. Anak kecil yang tidak bersalah cuma memiliki luka trauma yang harus disembunyikan malahan mendapatkan kalung tahanan yang ada jangka waktunya begitu lama." Tertulis 10 Tahun dan sedang hitung mundur.
"Gimana caranya kalian berdua harus bertanggung jawab? Apakah sudah merasa puas? Telah menyelamatkan dan ditempatkan ke tempat lebih baik dari tempat kakek yang kotor tersebut. Aku malahan di lempar ke jeruji ruangan begitu sempit. Kalian berharap aku tidak mendapatkan hukuman dan menangis di tempat? Jangan bergurau, aku tidak akan meneteskan air mata kecuali di dekapan kakek. Jika aku keluar dari sel penjara dan dibebaskan, apakah kalian punya jaminan kakek akan terus hidup selama itu?"
Anak tersebut sudah mendapatkan jawaban. Dua orang dewasa tersebut semakin bersalah dan menyalahkan diri mereka sendiri atas tindakannya yang diluar prediksi. "Apakah kalian keluar dari pekerjaan ini langsung menyelesaikan masalah? Gimana caranya menghidupi keluarga kalian sehari-hari? Apakah kalian akan kabur meninggalkan ku? Apakah kalian berhenti bekerja dari seorang inspektur? Apakah kalian sudah merasa puas menghancurkan kehidupan anak kecil yang baru berusia 3 tahun dan meninggalkan catatan kriminal. Itu terdengar sangat menyedihkan sekali hidupku bisa tidak seberuntung ini. Keluar! Keluarlah dari hadapanku! Keluarlah dari kehidupan ku! Kakek begitu bodoh! Sudah kusuruh untuk mengusir dua tamu yang tidak diundang dan tak memiliki tata krama, malahan berakhir di sini. Sialnya hidupku ini, untuk apa aku dilahirkan di dunia ini, jika ujung-ujungnya gak membawa manfaat." Dalam hati anak kecil tersebut sudah hancur berkeping-keping. Tidak ada yang namanya harapan, tidak ada namanya pencerahan.
Dua orang dewasa tersebut diam membeku setelah mendengarkan tamparan kenyataan yang begitu menyelekit serasa sedang dikutuk untuk mencari kebenaran insiden tersebut. Namun mereka gak cukup punya kekuatan atas kuasa, karena yang mereka lawan jauh jauh begitu tinggi otoritas kekuasaan nya yang tak bisa dilawan maupun ditundukkan oleh hukum setelah menemukan kebenaran nya.
Gimana kehidupan mereka berdua? Tentunya baik-baik saja, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun memiliki beban berat yang mengecewakan satu anak polos yang tau akan segala hal tersebut. Mereka berdua berusaha semaksimal mungkin untuk meringankan hukumannya meskipun masa tahanannya gak dikurang sama sekali cuma dipindahkan ke tempat lebih baik.
Bukan panti asuhan, bukan penitipan anak, itu merupakan ruang isolasi kecil yang jauh lebih buruk. Karena diduga sebagai pembunuh berantai paling kejam menurut sistem keadilan, maka dari itu mereka ingin membuat anak tersebut tidak kembali melakukan kejahatan. Dia memerlukan mediasi, dokter psikiater gak mempan. Rasa kebencian dan kebengisan begitu besar dari seorang anak yang memiliki pemikiran manipulatif seperti orang dewasa dan seorang pembunuh asli, itu semua gak ada gunanya. Ilmuwan manapun, dokter manapun. Yang bisa menyembuhkan rasa sakit hati tersebut cuma kakek yang bisa melakukannya, namun kondisi tersebut gak akan terjadi seumur hidupnya. Bisa jadi, jika ia keluar setelah masa tahanannya selesai yang tak memiliki nama. Anak tersebut akan menjadi beneran sebagai seorang pembunuh yang di dalam dirinya terbangun sesosok monster yang tidak bisa dihakimi lagi atas rencana skenario kejeniusan di masa mendatang.
Kantor penjaga keamanan tersebut membuka lowongan kepada siapa saja dengan bayaran cukup tinggi tak memandang umur, jenjang pendidikan, ras ataupun suku, asalkan bisa menyembuhkan rasa sakit sama kebencian anak tersebut dan jika gak tahan bisa keluar kapanpun ia mau.
"Sekarang sudah ada 60 orang yang gak bisa menahan umpatan kepahitan dari tahanan anak kecil tersebut. Kenapa gak ada yang becus mengurusi nya?" Keluh salah satu pegawai yang cukup pintar, dijuluki detektif muda yang cerdas atas prestasinya yang luar biasa.
"Jika kamu penasaran, silahkan periksa sendiri. Para penjaga sipir maupun pegawai keamanan di sini gak ada yang mau mendekatinya."
"Kalian terlalu cupu, menghadapi bocah ingusan sepertinya merupakan perkara yang mudah." Ia masuk ke dalam begitu percaya diri, melihat sosok para tahanan di dalam sel. Namun, tempat yang dipindahkan begitu jauh sekali sampai di mana tidak ada tahanan sel seorang pun. Di tempat yang begitu sunyi, senyap dan dingin.
"Kali ini aku kedatangan tamu yang begitu sombong, kamu mau pamer kepintaran dan ingin mengendalikan ku? Itu gak ada gunanya. Jabatan, prestasi, progres selama ini yang kau raih jika gak memiliki rasa sopan santun ke orng lain. Kamu cuma bisa direndahkan dan diremehkan."
"Apa yang kamu tau tentang kehidupan ku?"
"Tanpa melihat mu aku sudah tau. Kau bocah yang beruntung sering dimanja oleh kedua orang tua mu, mendapatkan pendidikan yang bagus, mendapatkan teman, rekan yang saling mendukung dan meraih nilai yang bisa membanggakan orang tua. Itu hanyalah kisah biasa dan umum terjadi bagi orang-orang pekerja keras untuk belajar. Kamu bekerja di sini karena ada alasan yang mendalam yaitu ayah mu seorang penegak keadilan bukan? Sebuah buah yang jatuh gak akan jauh dari pohonnya. Kesombongan mu mungkin bisa dibanggakan karena kamu bisa berlindung dari jabatan ayah mu. Sungguh iri sekali rasanya, sekali-kali orang sekitar melihat mu jatuh terpuruk dan melihat kesengsaraan dan keputusasaan mu. Misal ada orang yang begitu jahat di antara rekan-rekan kerja mu yang coba pura-pura baik mendekati dan meracuni ayah mu lalu kamu menyelidiki dan ternyata kamu dikambing hitamkan sama seperti ku dengan jejak sidik jari yang kau tinggalkan. Lalu kamu menyesal, selama ini berjuang demi keadilan bahwasanya keadilan tersebut telah mengkhianati mu sendiri. Gimana rasanya? Mungkin saat ini orang terdekat mu sedang melakukan apa yang sedang ku spekulasikan dalam hitungan hari kamu akan mendapatkan kabar menyedihkan atas kematian ayah mu yang kau banggakan dan selanjutnya kamu akan jatuh sama seperti ku."
"Itu hanyalah kebohongan semata, jika itu memang terjadi. Kamu adalah pelakunya yang telah meracuni orang-orang yang bekerja di sini oleh perkataan mu."
"Gimana caranya kamu membuktikannya? Aku menghitung setiap orang yang datang berkunjung di sini. Kamu adalah orang yang ke-61 selain itu cuma robot rongsokan yang mengambil makanan sama membersihkan ruangan ku yang kecil. Sejak kamu ingin datang ke sini dan ingin membuktikan nya, kau telah masuk ke mulut singa. Kehidupan secara perlahan akan hancur sendiri oleh kesombongan mu. Saran dariku, harus berubah saat ini sebelum terlambat."
"Hm. Itu hanyalah omong kosong. Anak kecil seperti mu tau apa di tempat seperti ini. Kamu gak bisa memutuskan takdir orang lain dibalik sel penjara."
Kejadian tersebut beneran terjadi, meskipun detektif itu bisa menghindari dari namanya kambing hitam apa yang ia ucapkan karena telah telah menghilangkan jejaknya dan kasus tersebut menjadi misteri yang tidak bisa terpecahkan karena kurangnya tanda bukti.
Terkadang orang pintar biasanya bisa berpikir panjang ke depannya dan bisa memilah semua kejadian lalu berbenah, bila sudah termakan emosi sumbu tersebut begitu meledak amarahnya menjadi murka untuk menyiram minyak ke luka kobaran api yang sedang memuncak.
"Sialan, itu semua rencana kamu yang bikin kan?" Anak kecil yang sedang menikmati hidangan yang tidak mengenakkan masuk ke dalam mulutnya. Karena cuma itu untuk bertahan hidup dan kekurangan gizi menghambat proses pertumbuhan nya.
"Kalau jawaban iya, apa tindakan mu berikutnya? Kamu bisa menekan tombol di sana untuk mengeksekusi ku secara instan. Itu adalah hukuman mu, meskipun kamu berubah menjadi orang baik. Takdir yang diterima ayah mu akan tetap sama yaitu terbunuh secara tidak terhormat. Silahkan tekan saja, jika aku dibuktikan bersalah." Itu adalah keinginan anak kecil tersebut yang berani melawan api tersebut dan terus memberikannya minyak yang terpantau oleh CCTV. "Jika kamu menekan bisa membuat mu merasa puas. Apa yang akan kau dapatkan selanjutnya?"
"Berisik!" Ia bukan menekan lagi, kepalan tangannya membanting tombol tersebut, sebuah senjata yang terkena langsung menembak ke dalam otak anak kecil secara instan. Detektif muda tersebut disangka menjadi seorang pembunuh narapidana yang sedang ditahan dan belum diketahui kebenaran atas aksi anak kecil tersebut.
Jabatannya langsung dicabut dan kekecewaan nya dikurung seumur hidup. Karena telah melakukan pembunuhan atas perasaan yang gak ada sangkut pautnya dengannya. Kedua inspektur tersebut pertama kali merasakan kesedihan, ini adalah bentuk sistem ketidakadilan dunia yang telah diciptakan oleh para manusia rakus jabatan. Kebenaran yang salah takkan terungkap.
...
Misal ... Misal ... gimana mereka menyembunyikan anak tersebut terlebih dahulu sejak awal lalu dibawa ke sensus penduduk bukan ke sel tahanan untuk bisa diadopsi. Ternyata gak semudah apa yang mereka kira, untuk anak yang mau diadopsi harus memiliki kecatatan penduduk terlebih dahulu meskipun ia yatim piatu bukan secara langsung mengambil ke salah satu tempat namun tak memiliki latar belakang yang jelas. Bisa dikatakan anak seperti itu gak akan pernah dianggap ada oleh masyarakat ataupun penjaga keamanan meskipun fisiknya ada memiliki nama bila tak terdaftar dia hanya seorang manusia fiktif. Itulah kenapa anak kecil tersebut merasa risau, jika mau diperjual belikan oleh mereka saat mau dikembalikan ke asalnya. Tempat tersebut dimintai izin yang jelas sama kartu kependudukan. Anak tersebut sejak awal dibawa secara diam-diam, kita sebut penyelundupan. Dia terjebak di antara dua kota dan gak bisa ke mana-mana.