2 Makhluk 1 Insan Volume 1

Naufal Khoirul Anam
Chapter #3

#1.5 What If, aku beneran diadopsi

Aku sedang tidur, terbangun melihat pemandangan kota dari langit di depan secara langsung yang sedang duduk dipangku oleh seseorang.


"Selamat pagi, kamu tidurnya begitu nyenyak sekali." Otak ku yang belum konek dengan apa yang terjadi. Mereka sudah menjelaskan terlebih dahulu. "Kamu tidak perlu khawatir, ini adalah permintaan kakek mu kepada ku. Ini bukanlah pemaksaan, sejak awal aku tertarik dengan anak kecil yang memiliki kepintaran sama seperti putri sulung ku."


Begitu, ini adalah permintaan kakek untuk masa depan ku yang lebih baik lagi. "Sekarang aku sedang dibawa ke mana?"


"Ke badan pusat statistik penduduk. Identitas mu akan dicatat oleh sistem, meskipun prosesnya akan begitu rumit dan sulit. Kamu akan diperlakukan sebagai tahanan rumah ku, setidaknya mendapatkan tempat tidur, makan, tumbuh kembang yang layak."


"Untuk sekolahnya gimana pak Yorda?"


"Sekolah? Apa itu? tanyaku.


"Akan begitu sulit, dia akan belajar di tempat penampungan anak-anak yang tak memiliki akses secara resmi. Kamu akan mendapatkan seorang teman di sana."


"Teman." Aku kegirangan kesenangan, "Neh, ayo percepat prosesnya. Aku ingin mendapatkan teman."


"Bersabarlah. Aku sedang fokus menyetir, kamu juga akan mendapatkan kakak ipar sama adik ipar. Jadilah anak baik di rumah ku."


Hm? Aku jadi diadopsi oleh orang tua yang satu ini. "Aku memanggil mu dengan sebutan apa?"


"Papa, ayah, bapak. Itu terserah kamu, memanggil nama ku secara langsung tidak masalah dengan penuh kehormatan."


Kehidupan baru ku ini akan membawa perubahan besar tetapi, "Anda bilang aku akan dianggap sebagai tahanan rumahan. Dikarenakan tak memiliki kecatatan penduduk asli dari orang tua ku yang tidak diketahui?"


"Kamu akan mengerti secara sendiri, persyaratan dan aturannya. Jika kamu menjadi tahanan yang baik, pasti akan mendapatkan kependudukan begitu cepat. Yah, tetapi ..."


"Tetapi?"


"Kamu bisa melakukannya secara mandiri? Aku sama istri ku mempunyai pekerjaan di luar. Kamu bisa melakukannya sendiri?"


"Tidak bertanggung jawab sekali. Paman Nolan setuju dengan ku?"


"Apa yang diucapkan anak ini memang benar. Dia masih anak kecil yang belum tau apa-apa soal dunia luar. Meskipun dibilang aman, jarang sekali terjadi kejadian kriminal. Tetap saja dia memerlukan sebuah bimbingan."


"Ahhh ... Akan kupikirkan dengan istri ku. Kita sudah sampai, ayo anak kecil. Tolong kerja samanya."


Mereka meminta data pribadi dariku berupa sidik jari, lensa mata, helai rambut, pengenal suara untuk diproses lebih lanjut terus diberikan sebuah kalung tahanan yang ada durasinya, akan dibuka secara otomatis jika waktunya sudah habis. Aku nurut-nurut saja, ke depannya akan jauh lebih parah tanpa sepengetahuan ku. Yang sudah menjual data diri ke sistem, sebagai percobaan penduduk baru untuk beradaptasi.


"Nolan, kau pergi dulu ke kantor untuk memberikan rekaman laporan. Aku pulang terlebih dahulu untuk mengantarkan nya."


Tangan ku mencoba melepaskan kalung ini begitu susah. Berkaca melihat diriku terlihat acak-acakan dan compang-camping baju yang ku kenakan. Ayah angkat ku membawaku dengan benda yang bergerak begitu mulus, aku masih belum tau ini apa. Tapi perjalanan ku begitu cepat sampai ke tujuan.


Ia menekan sesuatu ke dinding dan benda tersebut bergerak sendiri ke tanda yang terlihat begitu samar dari pantulan sinar cahaya. Seseorang datang menghampiri ke depan sambil membawa anak kecil yang sedang digendong.


"Aku pulang sayang. Maria, kamu putri ku yang paling manis." Ia mengambil anak tersebut darinya dan mengangkat nya ke atas.


"Selamat datang sayang. Halo, siapa nama mu?" Ia menyapa ku. Tapi aku bingung, ayah angkat ku lupa memberitahu nama ku saat perjalanan pulang.


"Ku perkenalkan anak angkat ku, dia Noah. Masih belum diperbolehkan memakai nama marga ku. Untuk sementara panggil dia Noah dan sudah lama aku sangat menginginkan anak laki-laki."


"Mooh, kita sudah punya dua putri. Kamu malah mungut dari luar," keluhnya.


Aku memegang celananya dan merasa rikuh, jika di hadapannya mulai memberanikan diri berbicara, "Maafkan aku telah datang tanpa memberitahu. Hmm ... Paman Yorda—"


"Panggil saja papa." Aku melihat ke arahnya dengan muka datar. "Paman Yorda—"


"Panggil saja papa, Noah."


Dia sungguh keras kepala sekali dan bebal, "Anu ... Istri mu gak merasa nyaman jika kedatang anak angkat secara tiba-tiba. Jika dia merasa gak nyaman gimana?"


"Manisnya—" ia langsung memeluk ku dan mengangkat ku. "Pipinya cukup tembem, tubuhnya juga tumbuh dengan baik. Apakah ia akan menjadi kakaknya Maria?"


"Eh?" Aku mencoba melepaskan dan menurunkan dari pelukannya dan baunya begitu harum. "Ahh ... Ehmm .."


"Ada apa Noah? Kamu merasa malu-malu dengan ibu baru mu?"


"Agh ... Hmm ... Sebenarnya, aku baru pertama kali memiliki seorang Ibu."


"Dia yatim piatu yang terlahirkan di distrik terpencil, sebelumnya pernah dirawat seorang Kakek yang ada di sana setelah insiden genosida. Ia adalah anak satu-satunya yang selamat."


"Kasihan sekali, kamu pasti memiliki trauma yang tidak mengenakkan." Pelukannya membuat ku merasa tenang dan mengelus rambut ku beberapa kali.


"Itu saja yang ingin kusampaikan. Akrab-akrablah kalian bertiga di rumah, Noah akan menjelaskan itu semua."


Ia main pergi saja, "Paman!"


"Panggil aku papa, ha-ha-ha!"


Anak kecil tersebut mengeluarkan bunyi di dalam perutnya lalu menangis. "Ara, sepertinya bokong mu perlu dibersihkan Maria. Noah, ayo pergi mandi." Kenapa ia begitu mudah sekali menerima ku, alasannya apa, ia merasa tidak keberatan.


Saat mau buka baju panjang ini sampai menutupi kaki kainnya malah robek, aku masih belum belajar soal menjahit dari Kakek. "Nanti Ibu bawakan baju baru untuk mu."


Aku ikut masuk ke dalam bak mandi yang suhunya sesuai di kulit ku, anak ini dibersihkan terlebih dahulu bagian bawahnya yang sudah kotor. Lalu ikut masuk bersama ku, aku tidak mengerti ia sedang melihat ku atau memperhatikan. Tangan mungilnya ingin mencoba memegang sesuatu, aku berikan tangan ku yang sama-sama kecil. Dia merasa senang dan memukul permukaan air.


"Maria sepertinya merasa senang ikut mandi dengan kakak barunya. Kamu bisa mandi sendiri?"


"Di botol itu tulisannya sampo sama sabun, gimana cara menggunakan nya?"


"Kamu bisa membaca?"


"Ya. Kakek mengajari ku membaca."


"Sampo untuk rambut panjang mu, sabun untuk membersihkan tubuh mu." Ia memberikan ku penutup kepala, lalu mengangkat anak nya dan diberikan sebuah kain yang terlihat lembut.


"Jika sudah selesai bilang saja."


Pintu yang samar-samar sedikit terbuka, rambut ku menjadi berbusa dan sabunnya membuat tubuhku menjadi licin. Air hangat ini terus mengalir tanpa henti rasanya begitu nyaman, aku tidak berlama-lama di tempat ini dan pergi keluar yang masih basah.


Gimana caranya memanggilnya, aku gak tau namanya. Secara malu-malu aku memanggil dengan sebutan, "Ibu. Aku sudah selesai mandi!"


"Yaa!" Suara teriakan yang menghampiri dan memberikan kain lembut dan di bawa ke ruang yang bertumpukan terasa penuh.


"Kamu baru melihat pertama kali, ini lemari baju, tempat yang aku duduk ranjang tempat tidur dan di atasnya berupa kasur."


Ia memberikan baju yang muat dipakai, "Sudah kuduga baju kecilnya Vivi masih muat untuk dipakai oleh mu."


"Vivi itu siapa?"


"Kakak ipar mu, dia sedang di Taman kanak-kanak di mana aku sedang bekerja. Ah! Kamu paham apa yang Ibu katakan."


"Hm. Taman kanak-kanak tempat berkumpulnya anak-anak untuk belajar menulis, menggambar, bergaul sama berkomunikasi. Kakek juga suka sekali mengajari ku dan terkadang aku bekerja di ladangnya."


"Pintar, umur mu berapa tahun?"


"3 Tahun. Itu yang ditulis sama ... Hmm ..."


"Gak usah malu-malu, panggil dia dengan sebutan papa, Ibu di rumah juga sering dipanggil mama sama Vivi."


"Aku ... Masih belum merasa nyaman di sini, kalau bisa aku akan membantu mama untuk mengurusi pekerjaan rumah, sama anak tersebut."


Kami duduk di atas kasur bersamaan dan memeluk ku dari belakang. "Kamu sungguh manis sekali, kamu beneran anak usia 3 tahun? Terasa jauh lebih dewasa dari Vivi."


"Kakek sering menasehati untuk menghormati kepada siapapun dan harus membawa manfaat ke orang lain. Beliau juga mengajari ku tata krama, sopan santun dan berdoa sebelum makan."


"Aku pulang Mama." Seseorang yang masuk memberitahu keberadaannya dan sedang mencari Ibunya. "Mama, dia siapa? Kenapa memakai baju ku?"


"Sshh ... Vivi, jangan berteriak. Maria sedang tidur. Nanti, mama akan ku jelaskan." Tubuhku diangkat begitu mudah, beliau mengatakan. "Kamu berat sekali." Lalu diturunkan dihadapan nya.


"Kamu siapa? Paham apa yang aku bicarakan?"


"Aku Noah," sambil menjulurkan lengan ku.


"Ayoh Vivi, salaman dengannya. Dia adik ipar baru mu, papa telah memungutnya."


Ia menepis dengan tangannya, "Dia anak pungut? Aku tidak suka, aku tidak suka, aku tidak suka."


Sepertinya aku tidak disukai olehnya, "Noah, kamu jangan cemberut begitu. Aku sudah menganggap mu sebagai putra ku. Mama sebenarnya ingin anak laki-laki."


"Kenapa kalian berdua gak bikin aja secara normal, gak perlu mengadopsi anak orang lain."


"Aku tidak memiliki kedua orang tua. Kata kakek aku dilahirkan di saluran pembuangan, yang tak diketahui asal usulnya."


"Kakek? Jadi kamu yatim piatu? Terlebih lagi, kamu lahir di selokan? Kurang beruntung sekali hidup mu."


"Ya. Tapi, aku tidak menyesal lahir dari sana. Malahan bersyukur bisa bertemu sama kakek terus dibawa sama paman Yorda dan paman Nolan ke pusat kependudukan. Aku sedang dalam masa percobaan menjadi warga sipil yang baik."


"Ahh— Pantas saja kamu menggunakan kalung hitam yang aneh. Apakah kamu lebih pintar dari ku?"


"Aku tidak tau. Kata kakek, aku harus merendah diri jika memiliki kepintaran, kepandaian, kejeniusan dalam bidang ilmu sama pintar mengatur emosi supaya gak gampang marah atau terpancing bisa merugikan diri sendiri ataupun orang lain."


"Merendah diri kata mu. Merugikan diri sendiri. Kamu selalu bilang kakek, kakek, kakek mulu. Kenapa kamu gak balik ke tempat asal mu."


"Jika, aku bisa bertemu sekarang juga. Aku dengan senang hati akan bertemu padanya dan menyampaikan pesan, berapa bersyukurnya aku ini telah diberikan kehidupan sampai sekarang. Meskipun aku tak memiliki ayah ataupun ibu."


Tubuh ku dipeluk lagi dari belakang, punggung merasa basah. Isakan dari seorang ibu air mata yang terus mengalir dan menetes tanpa henti.


"Mama ... Mama ... Kenapa mama menangis? Apakah kamu penyebab mama menangis?"

Lihat selengkapnya