2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #1

Mereka Begitu Cepat Membaur

Begitu keluar dari mobil Kijang berwarna biru, aku sedikit menghela nafas. Aku membenarkan dasi biru ini.

Ini hari pertama aku menjadi murid SMP. Terasa beda sekali saat aku masih menjadi murid SD. Dasinya saja berbeda. Seingat aku, dasi merahku tidak seperti ini. Lebih mudah digunakan. Tidak seperti dasi biru ini. Ribet sekali.

“Noel!” seru seseorang yang aku kenal.

Aku langsung menoleh ke arah belakang. Ternyata sudah ada beberapa teman lama aku. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bersekolah di SMP Marius juga. Kukira selama ini mereka akan memilih untuk bersekolah di SMP lain. Ternyata masih di SMP Marius.

Yang tadi menegur aku tadi bernama Yosua. Ia tinggal di perumahan yang sama dengan aku. Sama seperti aku, Yosua ini satu alumni dengan aku. Aku dan dia sama-sama lulusan SD Marius. Meskipun demikian, teman-teman yang lain pun sama. Fernando, Alfa, serta Ari ini pun. Mereka bertiga lulusan SD Marius pula.

“Lu jadi lanjutin sekolah di SMP Marius juga?” tanya aku kepada Yosua. Yang kudengar beberapa bulan sebelum Ebtanas, Yosua sempat ingin mencoba peruntungan di sebuah sekolah swasta Katolik yang letaknya agak lebih jauh dari SMP Marius ini. Apa Yosua membatalkan diri?

Yosua terkekeh-kekeh dan mengangguk. “Nggak keterima gue di sana, Bro. Mungkin kalau lu, gue yakin bisa. Kenapa waktu itu lu nggak coba tes masuk di sana?”

“Masih nyaman aja di Marius.” jawabku sekenanya. Sebenarnya saat itu aku tidak tahu ada tes masuk di SMP Katolik tersebut. Sungguh perhatian aku lebih tertuju ke persiapan Ebtanas. Aku terlalu takut tidak lulus Ebtanas. Lagi-lagi karena mata pelajaran Matematika. Mungkin di SMP nanti, Matematika akan tetap menjadi momok untuk seorang Noel Irawan.

“Banyak yang pindah, yah, Yos?!” kata Alfa yang agak gemuk dan berambut keriting. “Teman-teman kita di SD, banyak yang pindah sekolah.”

“Si Willy jadi ke Kalimantan?” tanya Yosua mengernyitkan dahi.

Malah Ari yang cadel, yang menjawab pertanyaan Yosua. “Pindah dia bareng dua adik kembarnya. Satu keluarga pindah ke Kalimantan. Katanya, bokapnya dimutasi ke sana.”

“Mutasi apaan, sih?" tanyaku mengernyitkan dahi.

“Dipindahkan, Noel, artinya.” Malah Alfa yang menjawab. “Eh, langsung ke lapangan, teman-teman. Tadi dengar, kan?"

Peringatan Alfa beralasan. Terdengar suara agak kencang yang menyuruh calon murid baru SMP Marius untuk berkumpul di lapangan basket. Aku dan teman-teman aku segera menuju lapangan basket. Di sana, ternyata sudah berkumpul murid-murid baru lainnya. Banyak juga jumlahnya. Ini bahkan lebih banyak daripada teman-teman sekelas aku di SD Marius dulu. Saat aku masih SD, kelasnya hanya satu, lalu satu kelas hanya terdiri dari 29 murid. Harusnya ada 30 murid. Sayangnya, salah seorang murid perempuan meninggal dunia enam bulan sebelum pelaksanaan Ebtanas. Murid perempuan itu adalah Mayang.

Lihat selengkapnya