2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #2

Insiden Kecil saat MOS

Ini hari kedua aku ikut MOS. MOS itu sendiri singkatan dari masa orientasi siswa. Saat-saat kita harus melalui satu tahapan agar bisa dianggap sepenuhnya sebagai seorang murid SMP. Kurang lebih seperti itulah MOS untuk seorang Noel.

Di hari kedua, tetap sama. Seluruh murid kelas satu dikumpulkan dalam satu ruangan. Belum dibagi ke dalam dua kelas, walaupun tidak jumlah muridnya di atas seratus. Begitulah yang aku dengar dari Bang Nabit, yang berkulit agak gelap.

Oh, Bang Nabit ini dulunya alumni SD Marius beberapa tahun yang lalu. Saat aku kelas 4 SD, Bang Nabit duduk di kelas 6 SD. Aku ingat, pernah menyalami Bang Nabit saat acara perpisahan SD di tahun 1999. Acara perpisahan di tahun itu cukup meriah. Bagiku--yang kali pertama menghadiri acara perpisahan sekolah, itu sudah cukup meriah. Aku sangat menyukai ayam goreng yang merupakan salah satu hidangan di acara tersebut.

Aku menengok ke arah kanan aku. Ada salah seorang remaja laki-laki yang lebih tinggi dari aku. Kulitnya gelap, tapi lebih gelap Bang Nabit, kurasa. Ia tersenyum balik ke arah aku. Aku lalu menyapanya.

“Nama gue Noel,” ucapku yang mengajaknya bersalaman.

Ia menyalami aku balik dan berkata, “Jemi Bangun Marbun.”

Aku mengernyitkan dahi. Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak. Terpaksa aku tahan. Aku tak mau memberikan kesan negatif di awal perkenalan. Bisa saja Jemi ini kelak menjadi teman sekelas aku.

“Kenapa?” tanya Jemi nyengir.

Eh, malah Yosua yang menimpali, “Nggak pernah tidur lu, Jem?”

Jemi ikut tertawa terbahak-bahak. “Bisa aja.”

Aku mau tak mau ikut tertawa.

Salah seorang mentor yang tahun ajaran ini berada di kelas 3 memelototi kami. Ujar si mentor, “Disimak, dong, waktu Pak Nelson nerangin. Biar kalian makin tahu dunia SMP itu kayak gimana.”

Aku, Yosua, Jemi, dan beberapa murid di sekitar kami bertiga hanya mengangguk dan kembali mengalihkan pandangan ke arah Pak Nelson yang sedang menjelaskan ke kami semua apa saja yang akan kami pelajari nanti. Pak Nelson ini mengaku ia merupakan seorang guru Matematika. Ia pun mengaku tidak galak.

“Yah, kalau kalian nggak bikin masalah, Bapak nggak akan ngomel-ngomel. Bapak juga punya alasan buat marah.” ujar Pak Nelson sembari memberikan mimik yang membuat seluruh murid kelas 1 tertawa terbahak-bahak. Bahkan para mentor ikut tertawa.

Sekonyong-konyong aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. Ah, kenapa harus sesakit ini?

Aku memegangi perutku. Dahiku mulai berkeringat. Aku menelan air liur saking sakitnya. Mungkin saja wajahku terlihat cukup pucat. Yosua sampai memperhatikan aku dengan cemas.

Lihat selengkapnya