Hampir seluruh murid kelas 1 terbelalak menyaksikan aku yang sudah kembali ke ruang kelas. Padahal aku baru saja mengalami hal kurang menyenangkan kemarin. Mungkin mereka mengira aku tidak akan ke sekolah di hari terakhir MOS.
Jemi menghampiri aku dan berkata, “Udah agak enakan, Noel?”
Aku mengangguk. “Lumayan.”
“Kemarin pada heboh ngomongin kamu, Noel,” kata Jemi lagi.
Sandi yang menurutku wajahnya mirip artis cilik yang beberapa bulan lalu menonton filmnya, ikut menimpali, “Hari ini kita rencananya mau jalan pagi. Kuat nggak jalan jauh?”
“Iya, Noel. Kemarin Pak Nelson udah kasih tahu kita,” lanjut Jemi yang sepertinya aku perhatikan dia benar-benar prihatin.
“Kalau nggak kuat, bilang aja, Noel,” ucap Yosua yang ternyata baru datang ke kelas. “Oh iya, teman-teman, nih Noel ini dulu waktu masih SD, memang penyakitan, sih. Sering muntah-muntah. Dulu dia bahkan pernah muntah-muntah waktu jam pelajaran Olahraga.”
Sebetulnya aku malu mendengar pengakuan Yosua tersebut. Namun, kenyataannya aku hanya nyengir. Aku rasa Yosua berkata seperti itu bukan untuk mempermalukan aku. Aku justru malah senang sudah diperkenalkan oleh Yosua, walau caranya kurang sedikit menyenangkan.
Sekonyong-konyong seorang mentor masuk ke dalam ruangan. Masih kakak perempuan yang kemarin, yang roknya terkena muntahan aku. Ia menyuruh seluruh murid kelas 1 untuk berkumpul di lapangan Voli, yang tak jauh dari rumah ketua Yayasan Marius. Selanjutnya, Nabit dan Jemi pun ikut masuk ke dalam ruangan. Nabit dan Jemi menuntun murid-murid kelas 1 agar berbaris secara teratur dan bergegas menuju lapangan Voli.
Nabit menghampiri aku dan berkata, “Udah sehat?”
Aku hanya mengangguk.
Jemi menimpali sembari tergagap-gagap, “K-kalau b-belum s-sehat, h-harusnya j-jangan ke sekolah dulu.”
“Yah, udah, kalau merasa udah sehat. Ikut turun aja. Tapi, nanti, selama kegiatan jalan pagi, kalau merasa nggak enakan, mau muntah, atau mendadak kerasa mau pingsan, ngomong ke mentor, yah,” tutur Nabit yang memukul punggung aku sebagai tanda bersimpati.
Aku mengangguk.