MOS sudah terlewati. Hanya tiga hari, aku menjalani MOS, yang merupakan singkatan dari masa orientasi siswa. Namun, menurut pengakuan Nabit, tahun lalu, tidak disebut sebagai MOS. Seharusnya murid-murid kelas 1 sekarang beruntung. Sebab, saat Nabit masih kelas 1, masa perkenalan siswa lebih parah. Harus kuat mental dalam menghadapi tekanan dari para kakak kelas, yang malah datang di masa perkenalan siswa.
Aku beruntung, karena mendapatkan libur tambahan sebanyak tiga hari. Eh, sebentar, apakah hari minggu dihitung juga, walau hari minggu memang hari libur secara nasional?
Mulai berjalan aku memasuki gerbang sekolah Marius. Sekonyong-konyong aku ditepuk dari belakang oleh seseorang yang aku kenal. Dia Alvin, mantan teman sekelasnya. Konyolnya aku. Mana ada istilah mantan teman. Bilang saja, dulu Alvin pernah satu kelas dengan aku. Saat kelas 4 SD, Alvin datang ke kelas sebagai seorang murid pindahan. Dari penampilannya, kusangka, ia itu anak baik-baik. Kulitnya putih nan terawat. Potongan rambutnya pun sangat mencerminkan bahwa Alvin besar dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku pun masih beranggapan bahwa anak-anak dari keluarga Tionghoa itu rata-rata memiliki sifat yang terpuji.
“Hei,” sapa Alvin. “Masih ingat gue, nggak?”
Aku terkekeh-kekeh. “Masih, dong.”
“Enak, yah, bisa jadi murid SMP juga, Noel.” ucap Alvin yang memperhatikan penampilan aku dari ujung rambut hingga ke sepatu kets berwarna hitam yang aku kenakan. “Eh, Noel, Ebtanas itu susah, nggak?”
“Yah, susah-susah gampang,” jawabku sekenanya.
“Oh,” kata Alvin yang entah kenapa kedua matanya memandangi kaus kaki berlogo sekolah Marius. “Murid-murid SMP Marius pakai kaus kaki begitu?”
Aku mengangguk.
“Gue kira masih bebas kayak kita dulu masih SD," kata Alvin. “Eh, harusnya kita juga lulus bareng yah bulan Juni kemarin.”
Aku hanya terkekeh-kekeh. Iya, seharusnya aku dan Alvin menjalani Ebtanas bersama di bulan Mei yang lalu. Kita pernah sekelas di kelas 4. Sayangnya, di tengah-tengah, Alvin berulah. Tak hanya bermasalah dengan beberapa guru, entah mengapa juga nilai-nilainya mendadak anjlok. Padahal di caturwulan pertama, Alvin merupakan murid yang tak bisa dibilang bodoh. Ingat, Alvin itu anak Tionghoa, dan aku sering beranggapan jarang ada anak-anak Tionghoa yang keteteran dalam hal pelajaran di sekolah. Sayangnya, anggapan aku keliru. Aku pun heran mengapa nilai-nilai di sekolah di caturwulan berikutnya anjlok. Sudah anjlok, sering membuat masalah si sekolah, tak heran Alvin harus tinggal kelas.
“Mungkin kalau gue dulu nggak bikin masalah, gue nggak perlu tinggal kelas, kali,” kata Alvin menghela nafas. “Tinggal kelas itu nggak enak banget, Noel. Hahaha.”
Aku masih tertawa terkekeh-kekeh.
“Sekarang kita jadi beda begini, yah, Noel," kata Alvin yang masih memperhatikan penampilan aku.
Sekonyong-konyong Alfa lewat dan menepuk punggung Alvin. Kata Alfa, “Mau ngapain lu? Nggak usah gangguin Noel lagi, lah, kayak waktu itu. Nggak takut tinggal kelas lagi apa? Ujung-ujungnya, bisa dikeluarin dari sekolah, mau lu?”
“Apaan sih, Alfa?” Alvin nyengir. “Gue cuman ngobrol-ngobrol biasa aja sama Noel. Nggak ngapa-ngapain dia.”
“Udah kapok lu?” tanya Alfa terkekeh. “Makanya, dulu itu jangan bandel-bandel, Vin. Nggak enak, kan, tinggal kelas.”