2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #5

Adakah Guru Seperti Ini?

Setelah sempat mengobrol bersama Alvin (temanku yang pernah sekelas di kelas 4 SD), aku beserta Alfa langsung terbirit-birit menuju ruang kelas kami yang berada di lantai tiga dan paling ujung. Yang kuperhatikan, Alfa santai sekali berjalannya seolah-olah dihukum karena telat masuk ke ruang kelas bukanlah momok. Aku saja ngos-ngosan karena takut dihukum. 

Aku tersandung salah satu anak tangga. 

Alfa terkekeh-kekeh. “Tuh, kan, jatuh lu Noel. Santai, sih. Baru hari pertama sekolah. Telat sedikit, nggak diapain juga, kali.”

Aku ikut terkekeh. Alfa membantu aku untuk berdiri. Lututku agak terluka. Alfa langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah plester.

“Nih,” Alfa menyerahkan plester ke arah aku. “Gue nggak bawa obat merah, tapi mending plester dulu buat mengurangi pendarahannya.”

Thank's,” jawabku yang segera membalut lututku yang berdarah karena tersandung anak tangga. 

Alfa--yang sama seperti Yosua--merupakan temanku sejak aku bersekolah di SD Marius. Ia anak yang cerdas sebetulnya, meskipun agak nakal juga. Senakal-nakalnya Alfa, belum senakal Yoga, yang sampai harus dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, Alfa ini dikenal sebagai Pepaya beberapa tahu yang lalu. Apa-apa menangis. Diganggu sedikit oleh anak nakal, sudah langsung menangis. Padahal seharusnya bisa dibalas oleh Alfa. Eh, julukan Pepaya itu disematkan oleh wali kelas di kelas 2 SD, Ibu Rohani. 

Sekonyong-konyong seorang guru lewat. Perawakannya sudah tua. Rambutnya sudah banyak yang berguguran. Yang hanya menyisakan rambut di sisi-sisi rambutnya. Untuk bagian tengah, plontos. Guru ini sedikit pendek dan gemuk. Bahkan guru ini lebih pendek dari Alfa. Kadang aku bingung cepat sekali tinggi Alfa bertambah. Namun, saat aku tahu, Alfa sering bermain bola basket bersama Yosua di salah satu lapangan komplek, aku mulai paham mengapa tinggi badannya cepat meroket. Mungkin aku harus bermain basket agar tinggiku bertambah. 

“Kenapa dia?” tanya si guru berkepala plontos di tengah. 

Alfa yang menjawab, “Kesandung anak tangga, Pak.”

“Wah, hati-hati kamu,” ucap si guru plontos terkekeh. “Habis mikirin perempuan, yah, kamu?”

Alfa tertawa. “Tuh, Noel, dijawab pertanyaan si Bapak.”

Aku hanya cekikikan dan tak kusangkal berwajah merah karena selorohan si guru plontos. 

“Kalian kelas berapa?" tanya si guru plontos tersebut. 

“Kelas 1-1," jawab Alfa. “Buruan, Noel, jalannya.”

Aku mengikuti langkah mereka dari arah belakang. 

Lihat selengkapnya