2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #6

Setelah Seminggu menjadi Murid SMP

Sudah sekitar seminggu aku menjadi murid SMP. Rasanya dunia SMP ini sungguh berbeda dengan dunia SD yang dulu kujalani selama enam tahun. Salah satu perbedaannya, dan ini yang contoh sepele, itu perkara dasi. 

Saat masih SD, aku mudah sekali mengenakan dasi. Tinggal dikalungkan saja, layaknya Mama mengenakan kalung emasnya setiap perayaan Natal 25 Desember. Nah, dasi murid SMP ternyata tidak semudah itu. Lebih rumit, malah. Dasi SMP lebih mirip dasi Papa. Aku sampai meminta salah seorang pembantu rumah tangga untuk membantu aku memasang dasi. Ah, untungnya aku sudah mulai bisa memasang dasi sendiri. Terima kasih kepada Sandi yang saat itu mengajari aku memasang dasi. 

Aku terkikik saat mengingat Sandi. Baru kali ini aku berteman dengan seseorang yang berwajah mirip dengan seseorang yang pernah aku lihat di film anak-anak yang pernah aku tonton dulu. Sandi ini cukup mirip dengan Sadam. Secara tampang, mirip Sadam. Yang membedakan itu mungkin hanya postur. Sadam di “Petualangan Sherina” agak gemuk. Sementara Sandi terlihat lebih ramping. 

Aku coba mengingat kejadian saat mata pelajaran Biologi di hari pertama menjadi murid SMP. 

Astaga, lamunanku parah sekali. Masa di kepala aku, terbayang Sandi sedang bergaya ala Sadam di “Petualangan Sherina”? 

Sandi terkekeh-kekeh. “Kenapa, sih? Kenapa lihat gue kayak gitu dari waktu MOS? Iya, gue tahu gue jelek. Tapi, nggak segitunya juga, kali.”

“Bukan gitu,” tangkis aku defensif. 

“Tadi siapa, yang lu ajak ngobrol?” tanya Sandi yang sudah mengeluarkan buku paket Biologi untuk anak kelas 1 SMP. 

“Teman lama. Dia harusnya sekelas. Tapi, dulu tinggal kelas gara-gara bermasalah sama guru-guru waktu itu," jawabku sambil mengeluarkan buku paket dan buku tulis. 

“Oh, di sini ternyata ketat juga,” kata Sandi mengangguk-anggukkan kepala. “Gue kira, Marius cuma dikenal sebagai sekolah buangan aja. Lulusnya gampang juga. Ternyata nggak gitu, toh.”

Sampai sekarang aku masih suka terngiang-ngiang lagu “Jagoan” di “Petualangan Sherina” setiap mengingat atau berjumpa dengan Sandi. Terkadang aku suka berpikir pernahkah Sandi menyadari bahwa wajahnya cukup mirip dengan Sadam. Jika dia menyadari, harusnya dia bisa mengikuti acara televisi yang mana para pesertanya adalah mereka--orang-orang non artis--yang mirip dengan artis. 

Selain Sandi, ada temanku yang bernama Roni. Roni merupakan pindahan dari sebuah sekolah dasar yang berada di Depok. Sebelum Ebtanas, dia sudah pindah ke Tangerang. Ternyata Roni ini tinggal di perumahan yang sama dengan aku. Saat jam istirahat, dia mengaku sempat kerepotan berangkat ke sekolah menjelang Ebtanas. Ia sering diantar-jemput oleh ayahnya yang masih suka bolak-balik antara Tangerang dan Depok. Aku baru tahu yang dialami Roni itu disebut sebagai komuter. Dulu aku pernah mendengar istilah komuter atau nglaju dari majalah Ganesha. 

Eh, pengin, deh, aku bisa merasakan seperti Roni. Seperti apa rasanya bisa pergi sekolah dengan bus umum? 

Saat itu, Roni langsung berkata--yang seperti melarangku, “Jangan, Noel. Nggak enak pergi sekolah naik bus umum. Apalagi jarak Tangerang ke Depok itu makan waktu sekitar satu setengah jam. Kalau lancar banget, yah, bisa sekitar empat puluh lima menit. Enak begini. Ke sekolah, cuma ngandelin naik ojek atau becak. Nanti gue pengin minta dibeliin motor ke bokap juga."

Lihat selengkapnya