2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #7

Yang Katanya, Ikut Lomba Memasak

Sudah hampir sebulan aku menjadi murid SMP. Atau, sudah sebulan, yah. Pokoknya, menjadi murid SMP itu tidak buruk-buruk amat. Meskipun demikian, memang masih lebih menyenangkan untuk menjadi murid SD. Namun, tidak selamanya juga kita harus terus menerus hidup sebagai seorang pelajar SD, yang penuh keceriaan. Yang mana saat kita belajar, bisa disambilkan dengan kegiatan bermain.

Hari ini tanggal 13 Agustus. Hari senin. Cuacanya cerah, walaupun agak panas. Sebetulnya hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar. Kata Yosua, ini yang disebut sebagai class-meeting. Setiap kelas di level SMP mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti aneka lomba, yang rata-rata itu merupakan lomba yang berhubungan dengan olahraga. Seperti Yosua, yang ikut dalam tim bola basket. Kelasku, kelas 1-1, mengirimkan lima orang untuk ikut bertanding di turnamen bola basket antar kelas. Selain Yosua, ada Erick, Yoshi, Yudi, dan Doni.

Selain tim bola basket, kelas 1-1 juga mengirimkan perwakilan di turnamen bola voli. Untuk yang satu itu, murid-murid perempuan yang yang ambil bagian. Di tim vola voli, ada Anggi, Nila, Patricia, Milka, Yuli, dan Fani. Untuk yang terakhir, aku merasa berutang-budi. Jika bukan karena pertolongan ibunya saat itu, entahlah apa yang terjadi pada diriku. Aku tidak berani membayangkannya. Yang karena itulah juga, aku membela-belakan diri untuk menonton pertandingan voli. Semoga tim bola voli kelas 1-1 bisa melaju hingga babak final. Pagi ini mereka melawan tim bola voli dari kelas 3-2. Lawannya senior dan berbadan lebih tinggi, tapi sepertinya Anggi, dkk tidak gentar.

Oh, kelas 1-1 juga ikut lomba tata boga. Sebetulnya itu lomba masak memasak. Seluruh kelas harus mengikuti lomba masak ini (walau sepertinya seluruh kelas di tingkat SMP dipaksa untuk berpartisipasi di setiap lomba 17-an). Di lomba memasak ini, kita harus mendekorasi ruangan pula. Nantinya, hidangan yang kita persiapkan, diletakkan di meja untuk disuguhkan ke tim juri, yang merupakan guru-guru kami di tingkat SMP. Lomba masak ini berlangsung hari ini dan akan selesai di jam dua siang nanti.

Aku pun ikut kerepotan. Ketua kelas 1-1, Seviane, meminta murid-murid yang tidak ikut lomba olahraga untuk membantu persiapan lomba masak antar kelas. Untuk persiapan lomba memasak, Seviane menyuruh aku dan lainnya untuk berkumpul di rumah Anggi yang tak jauh dari SMP Marius. Tenang saja, Anggi sudah mengizinkan rumahnya digunakan untuk persiapan lomba memasak. Nanti pula Anggi akan ikut membantu setelah selesai ikut lomba voli melawan tim kakak kelas.

Sebenarnya aku ingin menonton pertandingan bola basket dan bola voli. Namun Seviane meminta murid-murid yang tidak ikut lomba untuk berkumpul di rumah Anggi. Lebih baik, menurut Seviane, membantu persiapan lomba memasak daripada hanya menonton pertandingan.

“Tas lu isi apa, Noel?” tanya Sandi yang sepertinya penasaran dengan isi ransel aku. Ia langsung menyentuh ransel aku tanpa izin. “Ya elah, murid teladan lu. Lagi 17-an begini, masih bawa buku pelajaran.”

Aku hanya membalas kata-katanya dengan tertawa kecil. Pandangan aku kembali teralih ke buku resep. Tentang cara membuat nasi tumpeng.

Tertulis di sana seperti ini:

"Silahkan masukkan beras yang sudah dicuci bersih ke dalam rice cooker.

Masukkan serai, daun salam, kunyit, air secukupnya, perasam jeruk nipis, lalu santan ke dalam rice cooker. Aduk sampai rata dan matang."

Virgo ikut tertawa. “Eh, tapi, minggu depan, kan, banyak ulangan. Ada ulangan Matematika, Fisika, Bahasa Sunda, sama Biologi. Persiapan ulangan minggu depan, yah, Noel.”

Seviane yang tadi sibuk memotong bawang putih, ikut menimpali, “Buku paketnya jangan dibaca dulu, kali, Noel. Ayo, yang laki-laki, ikut bantu masak, dong. Tante, nggak apa-apa, kan, cowok ikut masak?”

Lihat selengkapnya